![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Cerita duka TKI yang bekerja di luar negeri seperti tak pernah berakhir. Di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, seorang TKI mengalami depresi berat setelah pulang bekerja dari Yordania. Karena keterbatasan ekonomi, orang tuanya hanya membiarkan saja di rumah.
TKI malang itu bernama Windi Ayu Wulandari (18), asal Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes. Sepintas, Windi layaknya seperti gadis normal umumnya. Ia berpakian bersih dan tubuhnya juga bersih.
Tapi, bila diperhatikan, Windi ini sebenarnya mengalami gangguan kejiwaan. Ia mengalami depresi, setelah pulang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Yordania 5 bulan yang lalu. Soal gangguan kejiwaan, Windi ini tidak diketahui persis penyebabnya.
Yang jelas dalam kehidupan seharian di rumah, Windi yang secara fisikal sehat ini, cukup merepotkan kedua orang tuanya, yakni pasangan suami bernama Margan dan Istri Karniti. Betapa tidak, untuk mandi dan makan, Windi harus dimandikan, dan kalau makan harus disuapi.
Menurut ayah Windi, Margan, anak ketiganya ini berangkat kerja ke Yordania tanpa melalui Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang jelas. Windi berangkat karena rayuan seorang tetangganya, bernama Mukron.
“Karena hidup kami dalam kesusahan, akhirnya kami merelakan Windi pergi bekerja, dengan harapan akan bisa mengubah kehidupan keluarga kami lebih sejahtera,” tutur Margan saat ditemui Panturanews, Selasa 23 Nopember 2010 sore di rumahnya.
Namun, alih-alih mendapatkan uang, Windi akhirnya kembali ke kampung halaman dengan kondisi yang memprihatinkan. Tak hanya itu, selama bekerja di Yordania gaji selama 16 bulan tidak dibayar.
Margan menjeleskan, awalnya mendapat telepon dari majikan Windi yang mengabarkan kalau anaknya sudah dipulangkan ke Indonesia tanpa alasan penyebab yang jelas. Margan pun kemudian menghubungi kenalannya yang ada di Jakarta untuk mencari keberadaan Windi.
Proses pencarian Windi memakan waktu cukup lama, baru setelah sebulan bisa ditemukan, dan langsung dibawa pulang dalam kondisi mengenaskan, yaitu depresi berat. Saat ini, keluarga Windi sangat berharap ada dermawan yang bersedia mengulurkan tangan untuk pembiayaan kondisi kejiwaan Windi.