Mahasiswa dan Teknologi: Kesenjangan Akses dan Penggunaan di Universitas Peradaban
.
Jumat, 31/01/2025, 23:30:01 WIB

KITA sebagai mahasiswa pasti sering mengakses teknologi untuk mencari informasi terkait materi perkuliahan dan jadwalnya. Namun, adakalanya kita kesulitan mencari informasi karena kendala teknologi yang kita miliki.

Berikut adalah kasus yang sering dihadapi mahasiswa dalam akses teknologi: Pertama, tidak memiliki handphone dan laptop; Kedua, akses internet yang lambat; Ketiga, tidak mempunyai keterampilan dalam penguasaan teknologi.

Ketiga hal ini dapat menyebabkan masalah besar bagi mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar di kampus. Lalu, bagaimana tanggapan mahasiswa terhadap kesenjangan akses teknologi ini? Dan apa strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi kesenjangan akses teknologi di Universitas Peradaban Bumiayu?

Untuk mendapatkan data yang relevan dan sesuai fakta. Diperlukan pengambilan data, salah satunya dengan cara wawancara. Wawancara ini dilakukan dengan narasumber sebayak 18 orang. Dari banyaknya pertanyaan tentang kesenjangan akses teknologi di kalangan mahasiswa, hanya beberapa yang dipilih:

-1. Teknologi apa saja yang Anda miliki untuk menunjang pembelajaran?

-2. Apakah Anda pernah mengalami kesulitan dalam mengakses informasi online karena keterbatasan akses teknologi yang dimiliki?

-3. Apakah Anda merasa bahwa keterampilan diri sendiri memadai untuk mendukung kebutuhan pembelajaran di kampus ?

Dari pertanyaan diatas ada beberapa jawaban yang rata-rata sama. Dimana untuk pertanyaan pertama 60% orang mempunyai dua teknologi yang dimiliki, yaitu laptop dan handphone. Sedangkan untuk 40% hanya mempunyai salah satunya saja.

Pertanyaan kedua hampir 95% menjawab jika mereka pernah mengalami kesulitan dalam mengakses teknologi , baik itu karena internet atau alat yang digunakan terbatas.

Menurut Naila, seorang mahasiswa “saya pernah mengalami kesulitan dalam mengases informasi, seperti jadwal pembelajaran dan tugas. Selain itu juga saat jaringan internet di handphone saya kurang bagus, saya kesulitan mendapat informasi” (Wawancara, 28 Januari 2025)

Pada pertanyaan terakhir sekitar 20% merasa kemampuan yang saat ini mereka miliki kurang. Sedangkan 80% narasumber merasa, bahwa kemampuan mereka dalam mengakses teknologi sudah cukup.

Menurut Berliana, seorang mahasiswa “Saya merasa bahwa keterampilan dalam menggunakan handphone dan laptop perlu ditingkatkan lagi, terutama dalam hal menggunakan fitur-fitur tertentu untuk mencari informasi dalam mengerjakan tugas” (Wawancara. 28 Januari 2025)

Dari jawaban diatas dapat diambil kesimpulan bahwa masih ada mahasiswa yang tidak memiliki teknologi lengkap untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di kampus. Hal ini juga membuat sebagian narasumber sering kesulitan mengakses informasi karena kesengajaan teknologi ini.

Mengatasi kesenjangan akses teknologi adalah salah satu tantangan yang dihadapi mahasiswa. Berikut adalah cara penanganannya yang terbagi menjadi dua jangka waktu, yaitu solusi jangka panjang dan solusi jangka pendek

Solusi jangka pendeknya adalah dengan menyediakan pinjaman perangkat seperti laptop atau komputer bagi mahasiswa yang tidak memiliki akses untuk menggu perangkat tersebut. Selain itu, menyediakan akses internet gratis seperti wi-fi di lingkungan universitas juga dapat membantu mahasiswa yang tidak memiliki akses internet di rumah. Bisa juga dengan cara memberikan bantuan keuangan kepada mahasiswa yang tidak mampu untuk membeli perangkat teknologi, seperti bantuan kip kuliah atau beasiswa lainnya.

Solusi jangka panjang dapat dilakukan melalui program pelatihan teknologi komputer untuk dosen dan mahasiswa sehingga mereka dapat menggunakan teknologi dengan efektif dan efisien. Jika hal ini tidak dapat dilakukan, mahasiswa dapat belajar mengakses teknologi secara mandiri dengan cara mendirikan komunitas mahasiswa khusus untuk mempelajari penggunaan teknologi dengan baik dan benar.

Dengan demikian, kesenjangan akses teknologi yang menjadi masalah mahasiswa dapat diminimalisir, sehingga mahasiswa dapat mengakses internet dan informasi dengan efisiensi dan efektif. Namun perlu diingat bahwa wawancara ini memiliki keterbatasan narasumber yang terbatas, sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh mahasiswa.