![]() |
|
|
LITERASI merupakan serapan dari bahasa inggris ‘literasi’ yang berarti kemampuan membaca dan menulis. Literasi sebagai pondasi dasar dalam memajukan peradaban bangsa.
Dalam arti sederhana, literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Namun seiring perkembangan zaman, literasi rupanya tak hanya soal membaca dan menulis. Literasi rupanya juga diartikan sebagai kemampuan berbicara, berhitung, memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, memahami, dan menggunakan potensi kemampuan diri.
Literasi sangat penting bagi para siswa karena dengan melakukan literasi kita dapat menambah ilmu pengetahuan dan informasi terbaru. Dengan adanya literasi siswa dapat memilah mana informasi yang baik dan tidak.
Literasi matematika menurut Zulkardi (2003) Diartikan sebagai kemampuan orang untuk Membaca, memahami dan menerapkan matematika di kehidupan sehari-hari sebagai Kontribusinya untuk menjadi cerdas dan anggota masyarakat yang berbudi luhur. Literasi yang baik akan membuat lebih mudah bagi siswa untuk memecahkan masalah matematika.
Literasi matematika sangat penting untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Setiawan et al, 2014). Literasi matematika membantu seseorang mengenali peran matematika di dunia dan membuat keputusan dan keputusan yang diperlukan.
Sekarang literasi adalah tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga dipahami sebagai kemampuan menggunakan bacaan hasil untuk keterampilan hidup pembaca, oleh karena itu literasi di konteks literasi menjadi salah satu kebutuhan itu harus dipenuhi dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari-hari.
Literasi matematika dimaksudkan untuk menonjolkan kemampuan matematika dan pemahaman yang berguna dalam kehidupan mendatang, maksudnya bukan merujuk pada yang sederhana saja matematika terlibat dalam kegiatan langsung seperti belanja: itu juga meliputi persiapan untuk menggunakan matematika dalam profesi teknis tertinggi tingkat.
PISA (OECD 2006) mendefinisikan literasi matematika sebagai “kapasitas individu untuk mengidentifikasi dan memahami peran yang dimainkan matematika di dunia, untuk membuat kesejahteraan penilaian yang didirikan, dan untuk terlibat dalam matematika dengan cara yang memenuhi kebutuhan kehidupan individu saat ini dan masa depan sebagai konstruktif, peduli dan reflektif warga negara sedangkan literasi matematika dimaksudkan untuk menonjolkan kemampuan matematika dan pemahaman yang berguna dalam kehidupan mendatang, maksudnya bukan merujuk pada yang sederhana saja matematika terlibat dalam kegiatan langsung seperti belanja: itu juga meliputi persiapan untuk menggunakan matematika dalam profesi teknis tertinggi tingkat.
Konsep literasi matematika terkait erat dengan beberapa konsep lainnya dibahas dalam pendidikan matematika. Yang paling penting adalah pemodelan matematika (terkait dengan matematisasi oleh de Lange, 2006) dan proses komponennya. Ini proses berhubungan dengan merumuskan masalah dunia nyata dalam istilah matematika sehingga mereka dapat diselesaikan sebagai masalah matematika, dan kemudian solusi matematika dapat diinterpretasikan untuk memberikan jawaban atas masalah dunia nyata.
Pada tahap formulasi, pemecah masalah menghadapi masalah yang terletak dalam konteks nyata, dan kemudian secara bertahap Memangkas jauh aspek realitas, mengenali hubungan matematika yang mendasari, dan menjelaskan masalah dipereteli dalam istilah matematika. Pada tahap interpretasi, para pemecah masalah mempertimbangkan hasil matematika, dan mengungkap maknanya konteks yang sebenarnya. Pemodelan matematika telah menjadi perhatian penting antara pendidik matematika selama bertahun-tahun, (Blum Galbraith, Henn & Niss, 2007).
Di mana Permodalan matematika diajarkan secara serius, siswa menghabiskan banyak waktu untuk satu masalah, bergerak melalui seluruh siklus dari merumuskan masalah secara matematis, untuk memecahkannya dalam istilah matematika dan kemudian menginterpretasikan dan mengkritisi Solusi. Kritik ini bahkan mungkin menunjukkan kebutuhan untuk memulai lagi dengan model matematika yang lebih baik dirumuskan.
Kerangka kerja PISA dalam mengukur literasi matematis dibedakan dalam tiga aspek, yaitu proses, konten, dan konteks (OECD, 2013: 27). Literasi matematis dalam PISA 2012 (OECD,2013: 30-31) menyebutkan bahwa kemampuan Proses melibatkan tujuh hal penting, yaitu: (1) Communication; (2) Mathematising; (3) Representation; (4) Reasoning and Argument; (5) Devising Strategies for Solving Problems; (6) Using Symbolic, Formal and Technical Language and Operation; (7) Using Mathematics Tools. Aspek konten terbagi menjadi empat kategori yaitu change and relationship, space and, Quantity, dan uncertainty and data (OECD, 2013: 33).
Ada beberapa tips supaya meningkatkan literasi dalam matematika, sebagai berikut;
-1. Menggunakan strategi komunikasi yang efektif: Guru dapat menggunakan strategi komunikasi yang efektif untuk meningkatkan literasi matematika siswa. Strategi ini meliputi mengkomunikasikan dengan menggunakan relasi, situasi, dan ide matematika yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
-2. Menggunakan model pembelajaran kontekstual: Menggunakan model pembelajaran kontekstual dapat membantu siswa memahami materi matematika dengan lebih baik dan meningkatkan kemampuan literasi matematika. Model ini memungkinkan siswa untuk menerapkan kemampuan dan keterampilan matematis untuk menyelesaikan persoalan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
-3. Menggunakan aplikasi atau perangkat lunak matematika: Menggunakan aplikasi atau perangkat lunak matematika dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan numerasi dan meningkatkan literasi matematika. Contohnya, menggunakan aplikasi untuk membuat permainan matematika yang interaktif.
-4. Menggunakan strategi multi-strategy: Menggunakan strategi multi-strategy dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa. Strategi ini meliputi koneksi, elaborasi, kontrol, pemahaman, konsolidasi, dan representasi visual.
-5. Menggunakan model pembelajaran blended learning: Menggunakan model pembelajaran blended learning dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa. Model ini memungkinkan siswa untuk belajar secara online dan offline, serta menggunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuan literasi matematika.
-6. Menggunakan strategi berpikir kreatif: Menggunakan strategi berpikir kreatif dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa. Strategi ini meliputi menggunakan berbagai strategi berpikir kreatif, seperti berpikir kritis dan berpikir kreatif.
-7. Menggunakan strategi berpikir numerasi: Menggunakan strategi berpikir numerasi dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa. Strategi ini meliputi menggunakan berbagai strategi berpikir numerasi, seperti menggunakan aplikasi atau perangkat lunak matematika.
-8. Menggunakan strategi berpikir visual: Menggunakan strategi berpikir visual dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa. Strategi ini meliputi menggunakan berbagai strategi berpikir visual, seperti menggunakan gambar dan simbol matematis.
-9. Menggunakan strategi berpikir analisis: Menggunakan strategi berpikir analisis dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa. Strategi ini meliputi menggunakan berbagai strategi berpikir analisis, seperti menggunakan berbagai strategi berpikir kritis dan berpikir kreatif.
-10. Menggunakan strategi berpikir sintesis: Menggunakan strategi berpikir sintesis dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa. Strategi ini meliputi menggunakan berbagai strategi berpikir sintesis, seperti menggunakan berbagai strategi berpikir kritis dan berpikir kreatif.
Pentingnya literasi matematis belum sejalan dengan prestasi siswa Indonesia. Berdasarkan hasil studi internasional yaitu TIMSS dan PISA menunjukkan bahwa hasil partisipasi Indonesia belum begitu memuaskan. Hasil survei TIMSS pada tahun 2015, menunjukkan Indonesia menempati pada posisi 44 dari 49 negara partisipan dalam bidang matematika (TIMSS, 2015), sedangkan peringkat PISA (OECD: 2016) Indonesia sebagai urutan 64 dari 72 negara pada aspek membaca, sains, dan matematika.
Hasil survei yang dilakukan PISA diikuti oleh anggota dan non anggota OECD (Organisation For Economic Coorperation and Development) yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali, survei terakhir dilakukan pada tahun 2018. Laporan terakhir pada tahun 2018 Indonesia menempati posisi 10 terbawah yaitu ke 74 dari 79 negara partisipan survei PISA (OECD: 2019). Berdasarkan hasil tersebut, Indonesia masih berada dalam tahap untuk berpikir dan penalaran peserta didik masih jauh dari harapan.
Dengan adanya pengetahuan di atas saya berharap bagi para siswa, siswi dan guru agar lebih sadar akan pentingnya literasi didalam dunia pendidikan termasuk literasi matematika. Dengan adanya literasi dalam pendidikan matematika diharapkan siswa dan siswi lebih rajin belajar matematika dan agar meningkatkan peringkat Indonesia dalam partisipasi dalam bidang matematika.
DAFTAR PUSTAKA: https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20230213174319-569-912509/pengertian-literasi-jenis-dan-manfaatnya. OECD. (2016). Programme For International Student Assessment (PISA) Result From PISA 2015. OECD, 1–8.OECD. (2019). PISA 2018 Results Combine Executive Summaries I, II & III. OECD, I–llI, 15–25. https://doi.org/10.1787/g222d18af-en
TIMSS & PIRLS. (2015). Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2015. In IEA TIMSS & PIRLS International Study Center Lynch School of Education, Boston College. https://doi.org/10.1007/978-94-007-0753-5_3063. Sintawati, Mukti dan Asih Mardati. (2023). Kemampuan berpikir dalam pembelajaran matematika. Yogyakarta: K- Media.
