![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Mencuatnya kasus Sumiati, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang disiksa majikannya, membuat Ceriyati (36), mantan TKI asal Dukuh Poncol, Desa Kedungbokor, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah yang juga pernah menjadi korban penyiksaan majikannya di Malaysia merasa prihatin.
Ditemui dikediamannya, ibu dua anak ini mengatakan munculnya pemberitaan terkait TKI yang dianiaya itu, mengingatkan penyiksaan yang dialaminya di Malaysia. Keinginan untuk menjadi TKI kembali, sudah tak ada lagi didalam benak pikirannya. Dia lebih memilih menjadi seorang petani.
"Berapa pun bayarannya, saya tidak akan kembali kerja di luar negeri. Bagi saya sudah cukup sekali. Saya masih teringat saat bekerja di sana (Malaysia-red)," terang Ceriyati didampingi suaminya, Ridwan (42), Jumat 19 November 2010.
Diakuinya, meski sudah tidak lagi menjadi TKI, tetapi baginya masih tetap berkomunikasi dengan TKI lain. Sebab, di kampungnya saat ini ada sekitar 30 warga yang bekerja sebagai TKI. Ia juga kerap menjadi narasumber terkait masalah tenaga kerja di luar negeri.
Menurut Ceriyati, pemerintah sebaiknya menghentikan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, karena hingga kini masih marak TKI yang disiksa. "Terus terang saya prihatin dengan banyaknya TKI yang disiksa. Kalau bisa dihentikan saja pengiriman TKI. Mereka lebih baik berusaha di daerah sendiri. Selain risikonya besar, menjadi TKI tidak semua bisa sukses. Contohnya banyak, termasuk saya ini," ungkapnya.
Ditambahkannya, saat ini pengawasan terhadap TKI di luar negeri sangat lemah. Mestinya pemerintah meningkatkan pengawasan agar keberadaan TKI bisa terpantau.