Melihat Tradisi Unggah Unggahan Warga Saditan Indah Brebes Jelang Ramadhan
-LAPORAN TAKWO HERIYANTO
Sabtu, 09/03/2024, 22:39:37 WIB

PanturaNews (Brebes) - Dalam suasana menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, warga di komplek RT: 09, RW:02 Saditan Indah Kelurahan Brebes, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, menjalankan tradisi unggah unggahan, yakni dengan syiar rebana dan berkirim makanan kepada sesama, Sabtu 9 Maret 2024 malam.

Tradisi ini tidak hanya sebagai bentuk persiapan menyambut bulan puasa. Tetapi juga sebagai wujud kebersamaan dan kepedulian antarwarga di komunitas tersebut.

Seperti yang terlihat sejumlah warga berkumpul di kediaman Ketua RT: 09, RW: 02 Saditan Indah untuk melaksanakan syiar rebana. 

Dengan semangat yang menggebu-gebu, mereka memainkan rebana dan mengumandangkan sholawat serta lagu-lagu religi sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW dan persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

"Tradisi unggah unggahan ini juga ditandai dengan kegiatan berkirim makanan antarwarga. Dimana,pPara ibu rumah tangga sibuk mempersiapkan hidangan khas Ramadhan. Di antaranya seperti lauk pauk, dan kue-kue tradisional, yang kemudian dikirimkan kepada tetangga atau kerabat sebagai ungkapan kebersamaan dalam menjalani ibadah puasa," kata Tri Boedi Hermanto, selaku ketua RT:09, RW:02 Saditan Indah.

Ia berharap tradisi yang dilakukan ini dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal di daerahnya.

"Semoga semangat kebersamaan dan kepedulian yang terpancar dalam tradisi unggah unggahan ini juga dapat membawa berkah dan keberkahan di bulan Ramadhan yang akan segera tiba," ungkapnya.

Terpisah, Sejarawan Pantura, Wijanarto menjelaskan, unggah-unggahan adalah tradisi yang dilakukan dengan cara berbagi kesalehan dengan tetangga. 

Masyarakat melakukannya sebagian besar dengan membuat makanan kemudian dibagikan. Tradisi tersebut hingga saat ini masih terawat dan dilakukan di wilayah Tegal- Brebes.

"Ini dilakukan saat ruwah atau Syaban hingga H-1 Ramadhan. Mereka berbagi kesalehen sebagian besar dengan cara membuat makanan dan dibagikan kepada tetangga-tetangga sekitar," ujar Wijanarto.

Menurut Wijanarto, tradisi unggah-unggahan memiliki arti kesiapan masyarakat untuk taat kepada Sang Khalik. Karena nantinya, mereka harus menekan nafsu selama sebulan penuh pada Ramadhan.

Seperti makna dalam bahasa Jawa, unggah-unggahan adalah munggah yang memiliki arti naik. 

"Sebetulnya ini sebagai pengingat, bahwa masyarakat akan menghadapi suatu dimensi masa di mana mereka diharuskan tunduk selama sebulan penuh untuk menekan nafsu," jelasnya. 

Wijanarto menambahkan, makanan yang dibagikan adalah simbol relasi sosial. Bahwa konsep ibadah tidak hanya berkaitan dengan Tuhan. 

"Ibadah juga bisa dilakukan dengan bersosial atau bersedekah kepada tetangga. Cara tersebut sebagai bentuk membagi nilai kesalehan. Makanan sebagai simbol relasi sosial, yaitu berbagi sedekah untuk menjaga persaudaraan," pungkasnya.