![]() |
|
|
...ini berada di tempat yang terisolir dan tempat ini juga diapit oleh dua sungai...
MAHASISWA Universitas Peradaban (UP) Bumiayu, Kabupaten Brebes yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, berkunjung ke tempat peribadatan umat katolik yang menetap di Dukuh Wadasgumantung.
Gereja Santo Yakobus adalah satu-satunya gereja yang berada di Kecamatan Tonjong, juga menjadi salah satu destinasi Rohani untuk warga sekitar Kutamendala, karena gereja ini berada di tempat yang terisolir dan tempat ini juga diapit oleh dua sungai, yaitu sungai Glagah dan sungai Pedet sehingga jika ke gereja harus menyebrangi sungai.
Nama pendeta dari gereja santo yakobus yaitu RD. Caecilius Agung Pratjajanto Setiawan yang berasal dari Slawi, Kabupaten Tegal.
Jika asal muasal nama gereja Santo Yakobus ini diambil dari nama salah satu keluarga besar Yakobus Sumarna. Yakobus Sumarna adalah kakek dari remaja cantik yang bernama Santi, kakek Yakobus Sumarna juga memiliki 6 anak dan cucu dari 5 anaknya yang sudah menikah, tetapi ada satu orang anak yang kemudian melanjutkan sekolahnya di SMP, ia bernama Tomas.
Tomas sekarang menjadi Ketua Stasi Wadas Gumantung yang bertugas memimpin orang tua dan sanak saudaranya yang berjumlah sekitar 60 jiwa. Pembangunan gereja Santo Yakobus ini didirikan di sebelah selatan rumah Sumarna. Gereja ini berukuran sekitar 60 meter dengan ukuran 7 x 12 meter dan 7 x 7 meter sudah dibangun pendopo di depannya. Ada juga sebuah patung Maria bertahta di gua belakang pendopo.
Gereja Santo Yakobus sudah pernah dikunjungi oleh beberapa peziarah dari Jakarta, Bandung, Yogya dan Cigugur Kuningan. Gereja ini menjadi pusat peribadatan untuk warga Wadas Gumantung yang beragama katolik, karena masyarakat di Dukuh ini memiliki dua keyakinan dalam beragama.
Ada yang menganut kepercayaan agama Islam dan ada juga yang menganut kepercayaan agama Kristen, tetapi dengan adanya keyakinan 2 agama terebut justru menjadikan masyarakat yang menetap disana memiliki jiwa toleransi yang sangat tinggi, tidak adanya perpecahan dan permusuhan. Mereka saling menguatkan satu sama lain untuk tetap bertahan hidup di sebuah desa yang terisolir dan jauh dari kata layak.
(Tim KKN universitas peradaban kelompok desa kutamendala: Dwi Yolanda , Qurotul Aeni, Annisa Rahman, Aklif Alfikry, Ardhah , Winda Sapitri, Windya, Hetty, Ahmad Safi'i, Hafidz Multazam, Kun)