![]() |
|
|
SAAT ini dalam dunia yang semakin modern, listrik merupakan sebuah komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari manusia saat ini. Mulai dari handphone, laptop, televisi, kulkas, lampu sampai magic com yang berguna untuk memasak nasi juga membutuhkan listrik untuk dapat bekerja.
Lalu dari mana listrik dihasilkan?. Jawabannya adalah listrik itu dihasilkan dari dari pembangkit listrik yang cara kerjanya, ialah mengubah energi gerak menjadi energi listrik yang dilakukan oleh komponen generator pada pembangkit listrik.
Dikutip dari laman (gatrik.esdm.go.id(2021)), kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 72.750,72 MW yang terdiri dari pembangkit PLN sebesar 43.186,53 MW dan Non PLN sebesar 29.564,19 MW.
Dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar 69.678,85 MW, maka kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik mengalami kenaikan sebesar 3,071.87 MW. Dengan presentase masing-masing pembangkit yaitu PLTU sebesar 44,45%, PLTU MT sebesar 3,12%, PLTU-M/G sebesar 2,83%, PLTG sebesar 7,35%, PLTGU sebesar 16,82%, PLTMG sebesar 4,37%, PLTD sebesar 6,69%, PLTA sebesar 7,75%, PLTM sebesar 0,52% ,PLTMH sebesar 0,15%, PLTB sebesar 0,21%, PLTBg sebesar 0,16%, PLTBm sebesar 2,42%, PLTP sebesar 2,93%, PLTS sebesar 0,2%, PLTSa sebesar 0,02%, dan PLT Hybrid sebesar 0,05 %
Dari data diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar pembangkit listrik yang beroperasi di Indonesia masih menggunakan energi tak terbarukan. Pembangkit listrik itu dibagi menjadi 2 jenis yaitu pembangkit listrik tak terbarukan (non renewable energy) dan pembangkit listrik terbarukan (renewable energy).
Pembangkit listrik tak terbarukan (non renewable energy) ialah pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi yang terbatas dan tidak dapat diperbarui seperti minyak bumi dan batu bara. Contoh pembangkit listrik tak terbarukan adalah PLTU, PLTM dan PLTG, sedangkan pembangkit listrik terbarukan (renewable energy) ialah pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi yang tak terbatas dan dapat diperbarui seperti matahari, air, dan angin. Contoh Pembangkit terbarukan ialah PLTS, PLTA, PLTB dan PLTP
Dalam penggunaan pembangkit listrik tak terbarukan (non renewable energy) dan pembangkit listrik terbarukan (renewable energy), mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kelebihan dari pembangkit listrik tak terbarukan (non renewable energy) adalah harga bahan baku untuk pengoperasian pembangkit murah karena jumlah yang melimpah, jumlah dari energi yang dihasilkan cukup besar dengan 1 Kg batubara dapat menghasilkan listrik sebesar 2 kWh tergantung teknologi yang digunakan dalam pembangkit (Agustinus,2016), dan yang terakhir teknologi yang digunakan sudah maju.
Kekurangan dari pembangkit listrik tak terbarukan (non renewable energy) adalah dari proses pembakaran untuk menghasilkan listrik itu menghasilkan emisi yang dapat mencemari lingkungan dan menyebabkan pemanasan global. Kelebihan dari pembangkit listrik terbarukan (renewable energy) ialah ramah terhadap lingkungan karena dalam proses menghasilkan listrik pembangkit tidak menghasilkan emisi, relatif murah untuk investasi jangka panjang, dan masyarakat juga dapat menghasilkan listrik sendiri agar tidak tergantung pada PLN.
Kekurangan dari pembangkit listrik terbarukan (renewable energy) adalah pertama, dalam proses pembangkitan listrik itu tergantung cuaca, contoh pada PLTA (pembangkit listrik tenaga air), saat musim kemarau debit ait pada waduk itu berkurang sehingga jumlah listrik yang dihasilkan tidak maksimal.
Kedua, teknologi saat ini masih berkembang dan belum semaju teknologi pembangkit listrik tak terbarukan dan terakhir biaya untuk pembangunan pembangkit cukup mahal.
Oleh karena itu menurut saya, pembangunan pembangkit listrik dengan energi terbarukan harus diperbanyak segera sambil mengurangi ketergantungan listrik dari pembangkit dengan energi tak terbarukan karena saat ini suhu bumi semakin panas yang disebabkan oleh fenomena pemanasan global.
Namun dalam pembangunan pembangkit listrik dengan energi terbarukan harus dikaji dengan kondisi cuaca di Indonesia yang mempunyai 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau, sehingga pembangkit yang paling cocok menurut saya pada kondisi di Indonesia adalah PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) dan PLTA (pembangkit listrik tenaga air), sehingga saat pergantian musim tidak kekurangan pasokan listrik.
