![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Dalam pengungkapan kisah yang menggetarkan hati, terbukti bahwa seorang nenek lansia, Desty (81) yang tinggal di Dusun Pangebonan RT 003 RW 006, Desa Bandungsari, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, telah merawat anaknya yang dipasung selama 15 tahun karena menderita kelainan jiwa.
Sang nenek, Desty, mengakui bahwa tindakan pasung yang dilakukan pada anak laki-lakinya, Karto(43), menjadi pilihan sulit yang diambilnya untuk menjaga keselamatan anaknya dan mencegahnya melakukan tindakan membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Kondisi Karto, yang sejak dulu dikenal sebagai sosok yang tidak terkendali dan berisiko, membuat ibunya (Desty) mengambil langkah ekstrem tersebut. Meskipun penuh kasih sayang, tantangan mental dan fisik yang dihadapi selama belasan tahun merupakan beban yang sangat berat.
Selama belasan tahun, Desty, harus berjuang sendirian merawat anak bungsunya Karto (43) yang mengalami gangguan jiwa yang tinggal di rumah sangat tidak layak huni ini.
Bagian belakang rumah yang sudah dihuni puluhan itu akhirnya ambruk akibat diguyur hujan, Rabu 17 Januari 2024 kemarin. Nenek Desti akhirnya diungsikan ke rumah tetangga. Sementara itu, Karto terpaksa tinggal di tempat bekas kandang sapi milik warga karena kerap mengamuk dan memaki-maki ibunya dengan nada tinggi.
Tak memiliki biaya cukup, membuat Karto selama ini tidak bisa menjalani pengobatan maksimal. Apalagi, Karto juga tidak memiliki KTP elektronik.
"Kasian saya lihatnya, sudah belasan tahun kondisi anak seperti itu. Kadang sedih tidak bisa apa-apa," kata Desty, saat ditemui di kediamannya, Jumat 19 Januari 2024.
Nenek Desty mengaku tak bisa berbuat banyak, dan terpaksa merelakan anaknya sementara tinggal di bekas kandang sapi milik warga. Nenek Desty memang masih mempunyai tiga anak lainnya, namun sudah berkeluarga dan tidak tinggal serumah hingga ada yang merantau.
Diketahui, rumah nenek Desty berada di Dusun Pangebonan, Desa Bandungsari, yang merupakan daerah terpencil wilayah pegunungan barat daya dari Kota Brebes. Lokasinya berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat pemerintahan.
Meski masih di Jawa Tengah, namun bahasa sehari-hari masyarakat sekitar bahasa Sunda. Untuk bisa sampai ke rumah nenek Desti, bahkan harus melewati anak tangga menanjak di tengah perbukitan, yakni setelah melewati jalan nasional Banjarharjo-Salem. Bahkan, akses kendaraan menuju rumahnya sangat terbatas.
Kerabat nenek Desty, Wastri mengatakan, Kasto mengalami gangguan mental sejak 2008. Karto sebelumnya pernah menikah dan memiliki anak, namun telah bercerai dan hidup terpisah. Karena rumah roboh, Karto memang sengaja sementara tinggal di tempat bekas kandang sapi.
Wasri menceritakan, Karto sebelumnya bekerja merantau di Jakarta. Tak lama pulang merantau, Karto sering marah-marah karena permasalahannya. Gangguan mentalnya makin parah hingga mengalami depresi berat.
"Dulu orangnya sehat, malah pintar mengaji. Tapi, sekitar tahun 2008 mulai alami gangguan jiwa hingga sering mengamuk. Sebelum lumpuh juga sering mengamuk," kata Wastri.
Wastri menyebutkan, Karto memiliki satu anak baru lulus SMA. Anaknya perempuannya yang kini tinggal bersama ibunya, seringkali menengok sang ayah.
"Anaknya sering nengok ke sini. Anaknya sekarang sudah kerja," ungkap Wastri.
Untuk makan sehari-hari, nenek Desty sering mengantarkan makanan untuk anak bungsunya yang tinggal di kandang sapi. Kadang, para tetangga juga memberinya makan.
"Kalau buang air ya di tempat itu juga. Nanti yang membersihkan ibunya," terang Wastri.
Tokoh masyarakat Banjarharjo, Warsudi mengapresiasi gotong royong warga dan pihak pemdes yang luar biasa peduli. Tak berhenti di situ, pihak Pemkab Brebes juga harus turun tangan membantu keluarga nenek Desti.
Selain membantu mendirikan kembali rumah Desti, juga dengan merujuk Karto ke rumah sakit untuk menjalani perawatan maksimal. "Melihat kondisi anaknya (Karto) harus segera diobati. Saya berharap Pemkab melalui Dinas Sosial dan Kesehatan segera turun ke sini untuk membawa ke RSUD atau kalau memang ODGJ, maka dibawa ke RS Jiwa," kata Warsudi, yang juga anggotaDPRD Brebes.