![]() |
|
|
SESEORANG yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada masa dewasanya nanti, ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam kehidupannya.
Lain halnya dengan orang yang pada waktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama, misalnya ibu dan bapaknya orang tahu beragama, lingkungan sosial, kawan-kawannya juga hidup menjalankan agama, dan ditambah pula pendidikan agama secara sengaja di rumah, sekolah dan masyarakat.
Maka orang-orang itu akan dengan sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, takut melangkahi larangan-larangan agama dan dapat merasakan betapa nilmatnya hidup beragama.
Agama sebagai pedoman hidup memiliki peran yang sangat besar dalam proses kehidupan manusia, agama telah mengatur pola hidup manusia baik dalam hubungan dengan Tuhannya maupun berinteraksi dengan sesamanya. Agama selalu mengajarkan yang baik tidak menyesatkan penganutnya.
Agama itu sebagai benteng diri remaja dalam menghadapi berbagai tantangan, kiranya perlu menanamkan nilai-nilai agama yang kuat akan diri remaja, sehingga dengan nilai-nilai agama ini pola hidup remaja akan terkontrol oleh rambu-rambu yang telah digariskan oleh agama dan dapat menyelamatkan remaja agar tidak terjerumus dalam keterbelakangan mental dan kenakalan remaja.
Pendidikan Islam tentunya hal yang utama dalam penanaman Agama Islam, untuk lebih jelasnya kita pahami terlebih dahulu akan makna dari nilai-nilai ini. Nilai adalah seperangkat keyakinan atas perasaan yang diyakini sebagai identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterikatan maupun perilaku.
Oleh karena itu sistem nilai dapat merupakan standar umum yang diyakini, yang diserap dari keyakinan, sentimen, (perasaan umum) maupun identitas yang diberikan atau diwahyukan oleh Allah SWT, yang pada gilirannya merupakan sentimen (perasaan umum), kejadian umum, identitas umum yang oleh karenanya menjadi syari’at umum.
Disamping itu nilai Islami adalah bersifat menyeluruh, bulat dan terpadu, tidak terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang satu sama lain berdiri sendiri. Suatu kebulatan nilai itu mengandung aspek normatif (kaidah, pedoman) dan operatif (menjadi landasan amal perbuatan).
Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang di sengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu Pendidikan Agama Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia, harus mempunyai landasan bagi semua kegiatan didalamya. Adapun dasar pendidikan Agama Islam sebagai berikut:
-1. Al-Qur’an
AlQur’an adalah firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi terakhirnya Muhammad SAW, agar disampaikan dan dikomunikasikan kepada seluruh umat manusia.
Berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, pendidikan dan pengajaran di sekolah, maka Al Qur’an menjelaskan dan rujukan utama dalam pendidikan Islam.
-2. Al-Sunnah
Sunnah menjadi dasar hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Pendidikan merupakan posisi terpenting dalam kehidupan manusia, maka umat muslim meletakkan Al-Qur’an, hadist, dan akal sebagai dasar bagi teori-teori pendidikan.
Secara umum bahwa Al-Qur’an dan hadist menyuruh kita menggunakan akal. Al Qur’an dan hadist menjadi dasar pendidikan, karena kedua sumber tersebut terjamin kebenaranya.
-3. Ijtihad
Pekerjaan yang dilakukan sangat berat dan sukar sehingga membutuhkan kekuatan yang maksimal, serta mengerahkan kesungguhan untuk menemukan hokum syara. Jadi, dapat diinterpretasikan bahwa yang dimaksud sumber di sini, adalah landasan atau dasar suatu pendidikan itu sendiri, sumber pendidikan Islam sendiri berasal dari Al-Qur’an, as-sunnah dan ijtihad.
Pendidikan Islam diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan mensyaratkannya serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam dalam berhubungan dengan Allah dan dan dengan sesamanya, yang dapat mengambil manfaat yang semakin meningkat dari alam semesta ini untuk kepentingan hidup di dunia kini dan di akhirat nanti.
Tujuan dari ajaran Agama Islam bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai insan kaamil yakni bertaqwa kepada Allah SWT, juga sebagai persiapan ilmu pengetahuan dalam menjalani kehidupan duniawi dan akhirat.
Sehingga anak-anak mampu memahami akan ilmu pengetahuan yang duniawi juga akhirat, tentunya menjalankan kewajiban dalam agama serta menjauhi laranganya serta tertanam didalam diri anak-anak mengenai nilai-nilai pendidikan Agama Islam secara mendalam, inilah tujuan yang diinginkan sesuai dengan masalah dalam penelitian.
Pemahaman Sikap Keagamaan pada Remaja:
Perasaan remaja dalam beragama, khususnya terhadap Tuhan, tidaklah tetap. Kadang-kadang sangat cinta dan percaya kepada-Nya, tetapi sering pula berubah menjadi acuh tak acuh bahkan menentang.
Motivasi beragama dalam diri remaja adalah bermacam-macam dan banyak yang bersifat personal. Adakalanya didorong oleh kebutuhan akan Tuhan sebagai pengendali emosional, adakalanya karena takut akan perasaan bersalah, dan pengaruh dari teman-teman dimana ia berkelompok.
Empat sikap beragama pada yang dialami remaja, yaitu: 1) Percaya ikutikutan yang dihasilkan oleh didikan agama yang didapat dari keluarga ataupun dari lingkungannya, 2) Percaya dengan kesadaran, -3) Kebimbangan beragama, 4) Tidak Percaya.
Hakikat pergaulan dalam Islam dengan melihat Al-Qur’an dan Al-Hadis, sebagai berikut:
-1) Menundukkan Pandangan, -2) Bersentuhan Kulit, -3) Berduaan dengan yang bukan muhrim, -4) Ikhtilat yaitu campur baurnya antara lakilaki dan perempuan yang bukan muhrimnya baik dalam pertemuan resmi atau sekedar ngobrol bareng.
Kalaupun terjadi dalam kondisi yang sangat terpaksa, hendaknya ada hijab (penghalang) sebagai pelindung wanita dari pandangan lakilaki. Larangan tersebut, antara lain dimaksudkan sebagai batasan dalam pergaulan antara lawan jenis demi menghindari fitnah.
-5) Perintah Merekatkan Persaudaraan. Persaudaraan sangat dibutuhkan dan dianjurkan dalam Islam. Oleh karena itu, jauhilah perbuatanperbuatan yang dapat menyebabkan perpecahan, seperti saling menghina, atau menganiaya satu sama lain. -6) Ajakan Kepada Kebaikan.
