Kesulitan Belajar Pada Anak Sekolah Dasar
--None--
Minggu, 26/11/2023, 08:49:00 WIB

BELAJAR merupakan kegiatan berproses dan juga unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan  tingkah laku belajar di kalangan anak didik.

Aktivitas belajar bagi setiap Individu juga tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat, terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan  (Ahmadi & Supriyono, 2004).

Untuk anak sekolah dasar sendiri, belajar menjadi hal yang wajib dilakukan karena belajar merupakan tuntutan atau sebuah kewajiban yang harus dilakukan sebagai anak sekolah. Perlu diketahui bahwa hal seperti inilah yang menjadikan anak mengalami kesulitaan atau perasaan berat untuk melakukannnya.

Belajar seharusnya terasa menyenangkan tanpa ada tekanan ketika melakukannnya. Orang tua sendiri merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak. Orang tua dikatakan pendidik pertama karena dari merekalah anak mendapatkan pendidik untuk pertama kalinya, dan dikataka pendidik utama karena pendidik dari orang tua menjadi dasar perkembangan dan kehidupan anak dikemudian hari.

Selain orang tua guru perlu untuk memperhatikan perkembangan siswanya, karena guru merupakan pendidik yang ditemui siswa setiap hari di sekolah.

Proses belajar sendiri dapat dilihat dari adanya perubahan pada diri manusia yaitu perubahan pada kepribadian manusia yang ditandai dengan peningkatan kualitas maupun kuantitas dari segi pengetahuan, sikap, kecakapan, kebiasaan, pemahaman, daya pikir dan lain sebagainya.

Masalahnya saat ini, banyak anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, salah satunya adalah permasalahan membaca siswa. Pada dasarnya kesulitan belajar tidak hanya dialami oleh siswa yang berkemampuan  rendah saja, tetapi juga dialami oleh siswa berkemampuan tinggi.

Beberapa penelitian menyatakan Kemampuan membaca merupakan sesuatu yang vital dalam suatu masyarakat terpelajar karena aktivitas belajar pada anak dimulai dari bagaimana individu membaca. Proses membaca buku akan sangat dipentingkan bagi anak untuk kehidupan mendatang (Pratiwi & Ariawan, 2017; Widyaningrum & Hasanudin, 2019b).

Proses belajar siswa sendiri selalu melibatkan membaca sebagai hal yang lumrah dilakukan. Membiasakan anak untuk membaca sendiri, bukan merupakan hal yang mudah tentunya. Mengingat Indonesia sendiri menjadi negara berkembang dengan minat baca yang masih sangat rendah.

Pikiran rakyat terbitan tanggal 17 Maret 2017 menyebutkan bahwa berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Makanya tidak heran mengapa anak-anak sangat sulit untuk mau membaca. Kurangnya kebiasan membaca sendiri yang menjadi salah satu faktor internal anak malas untuk membaca.  

Padahal dengan membaca banyak wawan yang dapat di peroleh. Karena itu perlu menjadi perhatian untuk para pendidik memastikan anak sekolah dasar bisa membaca dan mau membaca apalagi untuk melanjutkan kejenjang selanjutnya .

Selain membaca ada beberapa faktor lain yang menjadi kesulitaan siswa dalam belajar, misalnya faktor dari dalam keluarnya, lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah dan lain sebagainya. Kesulitaan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (selain mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non-intelegensi.

Salah satu faktornya adalah siswa yang memiliki IQ tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada setiap anak didik, para pendidik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar (Azis, 2019; Suryani etal., 2020)

Para pendidik sendiri harus mampu menjadikan pembelajaran suatu hal yang menarik untuk dilakukan, agar proses pembelajaran tidak terasa memberatkan apa lagi terasa membebani siswa. Sudah menjadi tanggung jawab pendidik menyediakan media yang menyenangkan untuk belajar.

Memang tidak dipungkiri kesulitaan belajar anak tidak hanya di sekolah saja, akan tetapi dengan media dan metode pembelajaran yang menyenangkan setidaknya bisa membuat anak merasa senang berada dilingkungan tersebut. Dengan ini maka proses belajar tidak akan terasa berat apalagi membebani anak jika anak sudah merasa belajar menyenangkan maka dengan sendirinya semua akan terasa mudah untuk dilakukan.

Dapat dikatakan bahwa kesulitaan belajar pada anak sekolah dasar memang wajar terjadi, kita sebagai pendidik yang semestinya dapat memberi arahan untuk kedepannya. Dengan melalui pembelajaran interaktif serta metode pembelajaran yang sesuai apa yang dibutuhkan anak, sudah sedikit membantu kesulitaan belajar anak.

Selain itu pendekatan dan juga interaksi secara intens dapat membuat anak merasa nyaman, sehingga akan menceritakn hal-hal apa yang menjadi kesulitaan mereka pada saat belajar.

(Awwalya Septiawie Rahma adalah Mahasiswa Prodi PGSD Universitas Peradaban, Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Email: awwalyaseptiawie@gmail.com)