Isu Mental Health Dikalangan Para Peserta Didik
--None--
Kamis, 23/11/2023, 23:37:01 WIB

Ilustrasi/Istimewa

ISU Mental Health saat ini sangat sering dibicarakan, terutama di kalangan para peserta didik maraknya kasus-kasus mengakhiri hidup sangat mengkhawatirkan akhir-akhir ini.

Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan remaja karena kesehatan mental adalah keadaan di mana seseorang mampu menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberi kontribusi terhadap lingkungannya.

Sedangkan masalah kesehatan mental di artikan sebagai ke tidak bisaan seseorang menyesuaikan diri terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang mengakibatkan ketidak mampuan tertentu, biasanya disebabkan oleh peristiwa tidak menyenangkan dalam hidupnya sehingga meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang

Kesehatan mental pada pesert didik biasanya di sebabkan oleh pendidikan dan sosial mereka, dalam hal pendidikan biasanya di dasari pada keterpurukan nilai yang kurang memuaskan, ketertinggalan pelajaran juga pada maraknya kasus bullying yang ada sekarang di lingkup lingkungan pendidikan, sehingga berdampak sangat kuat pada timbulnya berbagai masalah kesehatan mental seperti kecemasan berlebih, depresi dan stres.

Kesehatan mental siswa tidak dapat dilihat hanya dari tampilan luarnya saja, karna banyaknya kasus peserta didik yang pandai menyembunyikan masalah kesehatan mental mereka yang sebenarnya memicu ke perparahan keadaan mereka sehingga biasa berujung pada kasus mengakhiri hidupnya sendiri.

Ciri-ciri gangguan mental pada remaja sering kali terabaikan karena di anggap sebagai hal yang wajar terjadi di masa pubertas, padahal jika tidak di tangani dengan baik kondisi ini bisa berdampak buruk bagi perkembangan emosi, kehidupan sosial, dan kesehatan fisik anak remaja.

Gangguan mental sudah biasa di jumpai bahkan Menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental dan 2,45 juta (5,5 persen) remaja mengalami gangguan mental. Gangguan kesehatan mental pada remaja tak jarang memicu tindakan bunuh diri bahkan sekitar 47% kasus bunuh diri di Indonesia terjadi pada anak usia remaja dan dewasa, oleh sebab itu penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tanda gangguan mental pada anaknya.

Mendeteksi ciri-ciri gangguan mental pada remaja tidaklah mudah memang tetapi sangat penting mengenali perubahan perilaku atau suasana hati anak sehingga orang tua dapat menangkap ke tidak normalan pada perilaku anak jika dia dalam kondisi tidak sehat mental.

Dengan demikian, perubahan tersebut tidak bisa lagi dianggap normal jika sudah menganggu kehidupan sehari-hari dan tidak sesuai dengan prilaku biasanya. Pada setiap remaja ciri-ciri gangguan mental yang muncul bisa berbeda-beda tergantung pada tingkat keparahannya.

Pada Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menunjukkan, sepanjang 2023 terdapat 17 kasus anak mengakhiri hidup atau bunuh diri. Jumlah tersebut di perkirakan masih belum menunjukkan jumlah yang sebenarnya karena ke sadaran untuk melaporkan kasus bunuh diri anak belum terbentuk dengan baik, mirisnya juga kasus-kasus itu terjadi pada usia rawan, yakni kelas lima sekolah dasar (SD), kelas satu dan dua sekolah menengah pertama (SMP), serta kelas satu dan dua sekolah menengah atas atau kejuruan (SMA/SMK).

Ada sejumlah tindakan yang dilakukan oleh korban bunuh diri ketika memutuskan mengakhiri hidupnya seperti dengan melukai dirinya, gantung diri, menjatuhkan diri dan juga menabrakan diri. Kesehatan mental di pengaruhi oleh beberapa faktor baik eksternal maupun internal. Yang termasuk faktor biologis yang secara langsung berpengaruh terhadap kesehatan mental, di antaranya otak, sistem endokrin, genetika, sensori, dan kondisi ibu selama kehamilan.

Faktor psikologi yang berpengaruh terhadap kesehatan mental, yaitu :pengalaman awal, proses pembelajaran, dan kebutuhan (Muhyani, 2012). Johnson (dalam Videbeck, 2008) juga menyatakan kesehatan mental di pengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu:otonomi dan ke mandirian, memaksimalkan potensi diri, menoleransi ke tidak pastian hidup, harga diri, menguasai lingkungan, orientasi realistis, manajemen stress.

Pola menjaga kesehatan mental itu wajib ataupun menjadi sebuah keharusan pada setiap individu baik remaja maupun orang tua dari segi kesehatan mental kita harus saling memahaminya, gangguan kesehatan mental dapat timbul dari berbagai macam faktor karna itu sebaiknya kita mulai mengenal diri kita seperti apa yang kita sukai dan apa yang tidak kita sukai, berusaha untuk tidak memaksakan diri ataupun memaksa orang lain tetapi dari itu juga orang tua memiliki peran penting bagi kesehatan mental bagi remaja maupun anak-anak seperti jangan memaksa anak untuk melakukan kegiatan yang tidak di sukai oleh anak,  jangan beri beban pada seorang anak ,hargai keputusan dan mencoba menerima sebuah kekurangan   

Meski rumit, gangguan kesehatan mental termasuk penyakit yang dapat diobati. Bahkan, sebagian besar penderita masalah kesehatan mental masih dapat menjalani kehidupan sehari-hari selayaknya orang normal. Namun, pada kondisi yang lebih buruk, seseorang mungkin perlu mendapat perawatan intensif di rumah sakit untuk menangani kondisinya.

(Mutiara Nurul Fuadah adalah Mahasiswa Prodi PGSD Universitas Peradaban, Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Email: mutiaranurulfuadah@gmail.com)