![]() |
|
|
PENGUATAN kreativitas siswa melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), adalah suatu inisiatif yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Proyek ini dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan yang kreatif dan memberikan kesempatan kepada mereka, untuk berkontribusi dalam membangun karakter dan sikap yang sesuai dengan semangat Pancasila. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang berbeda dengan pembelajaran berbasis proyek dalam program intrakurikuler di dalam kelas.
Dalam kegiatan proyek ini, peserta didik memiliki kesempatan untuk mempelajari tema-tema atau isu penting sehingga peserta didik bisa melakukan aksi nyata dalam menjawab isu-isu tersebut sesuai dengan tahapan belajar dan kebutuhannya. Projek penguatan ini juga dapat menginspirasi peserta didik untuk memberikan kontribusi dan dampak bagi lingkungan sekitarnya.
Di kutip dari sebuah surat kabar yang ditulis oleh Siti Ati S.Pd M.Pd pada surat kabar Radar Tegal tanggal 11 April 2023. Kurikulum Merdeka menawarkan sebuah paradigma yang menggeser posisi siswa lebih ke tengah di dalam desain pendidikan di sekolah. Konsep ini dikenal istilah Student Center. Artinya, pola pembelajaran berubah, pola pikir guru pun harus berubah. Para siswalah yang aktif dan kreatif belajar karena pembelajran paradigma baru bukan lagi berpusat pada guru.
Tugas guru adalah membantu siswa dalam mengembangkan potensi dirinya, sesuai karakteristik dan kebutuhan individu siswa. Salah satu pengimplementasian paradigma student center dalam kurikulum merdeka adalah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
P5 ini merupakan bagian tak terpisahkan dari struktur kurikulum merdeka disamping kegiatan kurikuler yang mencakup 30 persen alokasi waktu dalam satu tahun. Projek penguatan profil pelajar Pancasila memuat beberapa dimensi yaitu bertakwa dan berkeTuhanan serta berakhlak mulia, mandiri, bergotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis dan kreatif.
Dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Peserta didik didorong untuk berpikir kritis, menggali ide-ide baru, dan menciptakan solusi yang inovatif terhadap permasalahan yang dihadapi. Mereka diajak untuk mengembangkan keterampilan berpikir lateral, kolaborasi, dan pemecahan masalah, yang sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
P5 juga mendukung pengembangan kemandirian peserta didik. Mereka diberikan ruang untuk mengatur belajar secara mandiri, mengembangkan inisiatif, dan mengelola waktu serta sumber daya mereka sendiri. Pembelajaran dilakukan melalui proyek-proyek nyata dan pengalaman praktis, sehingga peserta didik dapat belajar dari pengalaman langsung dan mengembangkan kemampuan diri mereka dalam situasi riil.
Dalam rangka mewujudkan implementasi P5, perlu adanya perubahan mindset dan paradigma dalam sistem pendidikan. Guru harus berperan sebagai fasilitator dan pemandu, memberikan panduan dan dukungan kepada peserta didik dalam menjalankan pembelajaran mereka.
Ada beberapa kendala atau tantangan yang dirasakan guru dan sekolah dalam melaksanakan P5 ini. Pertama, mencari tema proyek yang sesuai. Terkadang guru dan sekolah kesulitan menentukan tema proyek yang bisa membuat siswa bersemangat melaksanakan proyek. Kendala ini bisa diatasi dengan memilih proyek yang kontekstual dan kekinian. Agar siswa tertarik dalam melaksanakan proyek ini. Misalnya, bagaimana menjalankan gaya hidup minim sampah.
Kedua, sulit bekerjasama lintas sektor. P5 ini sebenarnya tidak hanya tanggung jawab guru dan sekolah melainkan melibatkan stakeholder yang lainnya. Cara mengatasinya adalah dengan melakukan komunikasi efektif. Jika sudah menjalin komunikasi dengan baik, niscaya akan lebih mudah dalam bekerjasama.
Ketiga, pesatnya arus globalisasi. Tak bisa dipungkiri, siswa sudah banyak yang berinteraksi erat dengan media sosial yang seringkali membawa nila-nilai yang tidak sesuai dengan karaktersitik bangsa. Ini menjadi kendala dalam mengajak siswa melaksanakan proyek pelajar Pancasila.
Cara mengatasi kendala ini adalah dengan membuat P5 dengan konsep kekinian. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang khas digunakan di era globalisasi ini. Misalnya, mengajak siswa membuat vlog proyek pelajar Pancasila.
Kesimpulannya; Ketika setiap satuan pendidikan mampu mengimplementasikan P5 ini dengan baik sesuai dengan esensi, alur, dan penilaiannya tentunya akan memberikan manfaat bagi satuan pendidikan, yaitu menjadikan satuan pendidikan yang lebih terbuka dan berpartisipasi aktif dan berkontibusi di lingkungan sekitarnya.
Bagi pendidik (guru) dapat terus mengembangkan kompetensinya untuk dapat bekerjasama dan berkolaborasi dalam merancang setiap alur pembelajaran projek. Bagi peserta didik (siswa) dapat memberi ruang dan waktu untuk peserta didik mengembangkan kompetensi dan memperkuat karakter dan profil Pelajar Pancasila, merencanakan proses pembelajaran dengan tujuan akhir yang jelas, mengembangkan kompetensi sebagai pendidik yang terbuka untuk berkolaborasi dengan pendidik dari mata pelajaran lain untuk memperkaya hasil pembelajaran, dan melatih kompetensi pemecahan masalah dari peserta didik.
Hal ini akan membantu menciptakan generasi muda yang berintegritas, toleran, dan berkomitmen pada nilai-nilai kebangsaan.
