49 Hari Kisah Penantang Gelombang: Kita Harus Bangga Dengan Diri Sendiri
--None--
Kamis, 01/06/2023, 19:21:47 WIB

Judul Buku: 49 Hari Kisah Penantang Gelombang. Penulis: Nuril Basri. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama. Cetakan: Pertama. Tahun terbit: 2023. ISBN: 978-602-06-6318-0.

NURIL Basri adalah seorang penulis karya sastra yang lahir di kota Tangerang pada tanggal 14 Maret 1985. Di sela-sela kegiatan menulisnya ia pernah melakoni beberapa perkerjaan mulai dari operator warung internet, kasir di mini market, guru privat, sekertaris di kedutaan Korea, account manager hingga pelayan di hotel dan kapal pesiar yang berlayar ke Antartika.

Karakter Nuril yang berkisar membuatnya sering menjelajahi tema-tema yang cukup eksentrik. Dia bereksperimen dengan genre dan tema seperti komedi, drama, horror, novel pendidikan dan cerita coming of age. Beberapa karya yang ia tulis antara lain: Dosa (2012), Romantis (2015), My Favorite Goodbye (2016), Enak (2016), dan Sunyi (2017).

Selain itu beberapa karyanya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Melayu. Karya-karya yang telah diterbitkan anatara lain: Halo, Aku Dalam Novel (2009), Not A Virgin (2017), Love, Lies and Indomee (2019), Rasa (2020), dan Gula Gula Gula (2022).

Pada awal tahun 2023 ini Nuril telah menerbitkan sebuah novel yang berjudul “49 Hari Kisah Penantang Gelombang”. Novel ini menceritakan tentang perjalanan Nuril dalam menuliskan sebuah kisah nyata yang dialami oleh anak lelaki bernama Aldi Novel Adilang. Dia mengangkat tokoh “Aku” untuk mewakilinya sebagai penulis dan pencerita.

Awal mulanya tokoh “Aku” dalam novel ini yang merupakan Nuril sendiri ditawari sebuah proyek oleh salah satu rumah produksi untuk membuat novel yang nantinya akan di filmkan. Novel tersebut menceritakan tentang perjuangan seorang anak lelaki yang terapung-apung di lautan Pasifik selama 49 hari sampai akhirnya diselamatkan.

Anak lelaki tersebut bernama Aldi Novel Adilang. Aldi bekerja menyalakan lampu untuk kapal nelayan, dan selama bekerja ia tinggal di atas rakit atau yang disebut rompong. Namun suatu pagi ketika Aldi menjaga rompong, tali-tali yang mengikat rompongnya terputus akibat angin selatan yang berhembus kencang.

Dia hanyut sejauh 1900 km melalui Samudra Pasifik menuju lautan Guam. Terapung-apung selama 49 hari sampai akhirnya diselamatkan dan dibawa ke Jepang. Entahlah. Nuril sendiri belum pernah mendengar kisah anak lelaki itu sebelumnya, namun menurutnya kisah itu seperti “Life of Pi” dengan kearifan lokal.

Perjalanan Nuril membawanya ke Sulawesi Utara tepatnya di Kabupaten Minahasa Utara, Kecamatan Wori, Desa Lansa. Pada awalnya dia berencana akan tinggal selama beberapa hari di Lansa untuk melihat bagaimana kehidupan Aldi dengan keluarganya, karena dia ingin melihat Aldi bersama keluarganya tanpa batas.

Namun karena keadaan rumah Aldi yang tidak memungkinkan dirinya untuk menginap, lalu ia putuskan untuk kembali ke hotel dan mencari penginapan di tengah kota. Hari demi hari dilewati Nuril di kota Medan. Beberapa kali ia berkunjung ke tempat Aldi melihat tempat-tempat yang sering Aldi kunjungi atau hanya sekedar mendengarkan cerita Aldi selama hanyut di rompong.

Tapi tidak jarang Aldi pun berkunjung ke tempat penginapanya untuk bercerita mengenai pengalamnaya itu. Selama di Medan dia juga memiliki beberapa teman yang membuat hidupnya terasa lebih sedikit berwarna, mereka adalah San, Sera, Suci dan Rama.

Novel ini bertemakan tentang kisah inspiratif dari seorang Aldi Novel Adilang dengan latar belakang pengalaman hidupnya yang hanyut selama 49 hari di atas rompong dan kehidupan seorang penulis bertokoh “Aku” dalam menuliskan sebuah novel.

Tokoh “Aku” digambarkan sebagai tokoh yang sedang mengalami kejenuhan dalam menjalani hidup sehingga beberapa kali dia berniat akan bunuh diri. Hal itu ia urungkan karena ada hal yang harus ia selesaikan sebelum ia mati, pikirnya. Namun di sisi lain tokoh “Aku” merupakan orang yang mandiri dan senang bertualang dan selalu ingin menjelajah dan menemukan sesuatu.

Alur cerita dalam novel ini adalah alur maju. Pada novel ini tidak menggunakan bab tapi menggunakan tanggal di setiap kejadian sehingga membuat alur belajan dengan teratur. Alur cerita yang unik membuat pembaca terhanyut dalam suasana cerita yang jarang ditemukan di novel-novel lain.

Gaya bahasa dalam novel ini mudah dipahami dan enak untuk dibaca. Selain itu penggunakan bahasa Indonesia yang baik membuat novel ini tidak ditemukan di novel lain, yang mengedepankan gaya bahasa gaul atau trend dan melupakan tutur bahasa Indonesia sendiri.

Sudut pandang dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama yaitu tokoh “Aku” sebagai pencerita. Sementara dari sudut pandang saya sendiri, novel ini sangat saya rekomendasikan untuk dijadikan sebagai koleksi karena mengandung banyak makna. Novel ini syarat akan pesan dan pembelajaran hidup.

Salah satu pesan yang tertulis dalam novel ini adalah “Kita harus bangga dengan diri sendiri. Bahkan sekadar bertahan hidup, itu adalah sebuah keahlian dan tindakan yang berani”.

Dengan kemampuanya merangkai kata, Nuril mampu menuliskan sebuah cerita dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca. Nuril tidak hanya fokus menceritakan kisah yang di alami oleh Aldi saja seperti pada judul buku, tapi dalam novel ini juga menceritakan perjalanan dirinya selama menuliskan cerita tersebut yang membuat pembaca tertarik pada novel ini.

Dibalik kelebihan pasti ada kekurangan. Kekurangan dalam novel ini yaitu konflik cerita yang tidak terlalu tajam. Selain itu terdapat beberapa bagian yang membahas mengenai hal dewasa sehingga tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur 17 tahun.

Kendati begitu, novel “49 Hari Kisah Penantang Gelombang” milik Nuril Basri ini tetap menjadi novel yang sangat layak untuk dibaca dan sayang jika dilewatkan. Pesan-pesan tentang kehidupan dalam novel tersebut akan tetap relevan untuk pembaca.