Jadi Anak Broken Home Tidak Seburuk Yang Dilihat
--None--
Sabtu, 11/02/2023, 13:06:08 WIB

BANYAK yang beranggapan bahwa anak broken home identik dengan beberapa sikap yang dipandang negatif. Sebagian dari mereka biasanya memilih untuk menarik diri dari pergaulan, enggan bersosialisasi, dan tidak percaya diri. Broken home sendiri merupakan penggambaran keluarga yang tidak harmonis lagi, entah karena adanya perselisihan, pertengkaran bahkan hingga perceraian.

Sudah bukan hal yang tabu lagi ketika suatu keluarga berada dalam situasi broken home, anaklah yang justru menjadi korban dari permasalahan tersebut. Sengaja atau tidak, faktor yang menjadi penyebab adanya broken home bisa berasal dari beberapa hal seperti faktor ekonomi, tidak adanya tanggungjawab dari orangtua. Biasanya orang tua terlalu fokus pada kesibukan karir, hubungan sosial atau hobi, yang akhirnya mengikis rasa tanggungjawab pada keluarganya.

Konon, banyak yang mengira anak korban broken home itu rentan menjadi anak nakal, agresif, suka berkata kasar, berbohong, hingga dipandang anak liar sebab tidak terurus. Faktanya, tidak juga. Malah kebanyakan dari suasana broken home itu menjadikan anak memiliki sikap tertutup dan cenderung introvert.  Tak jarang juga adanya kondisi rumah yang penuh dengan konflik menyebabkan kesepian bagi sang anak, parahnya anak akan merasa terasing, merasa ditolak dan memiliki emosi yang sensitif.

Berbicara terkait efek yang dirasakan seorang anak broken home tentu tidak ada habisnya. Dari kebanyakan efek yang dialami anak korban broken home, efek terhadap kesehatan mental lebih sering dialami seperti depresi. Namun, setiap ada hal negatif tidak menutup kemungkinan pun ada hal positif dari segala perkara yang ada.

Begitupun dengan broken home, anak korban broken home tidak seburuk yang orang pikirkan. Tak sedikit dari mereka pun berhasil membuktikan diri bahwa berada di dalam keluarga yang hancur adalah berkat, bukan kutukan. Beberapa hal positif  yang acap kali tidak diketahui banyak orang terkait anak korban broken home seperti:

-Pertama, emosionalnya anak broken home lebih kuat. Dengan kata lain, anak korban broken home tau bagaimana menangani berbagai jenis emosi. Pasalnya, mereka yang berasal dari keluarga yang hampir hancur pasti memahami rasanya pengabaian, rasa bersalah dan ketidakbahagiaan. Mengalami kehidupan bak roller coaster membuat mereka menjadi pribadi yang kuat.

-Kedua, sabar dan lapang dada. Kehidupan yang dialami anak broken home membawa mereka memiliki cerita yang berbeda dari kebanyakan anak dalam keluarga cemara. Anak broken home secara tidak langsung terlibat dalam masalah orang tua, lambat laun membuat mereka menjadi pribadi yang kuat dan sabar serta lapang dada menerima kenyataan, karena ia sudah dijejali masalah yang mana seharusnya seumuran anak-anak menikmati masa-masa indah.

-Ketiga, lebih setia dan menghargai kepercayaan lebih dari apapun. Adanya pengalaman diabaikan dan perlawanan dalam keluarganya, anak korban broken home akan memiliki naluri untuk melindungi diri mereka sendiri agar tidak disakiti. Berada di dalam keluarga yang membuat mereka berpikir bahwa menjaga kepercayaan itu sangat sulit, maka bagi mereka loyalitas itu penting dan mereka akan memberikannya pada seseorang yang layak dijaga.

-Keempat, mandiri dan mampu termotivasi. Lagi-lagi karena berada dalam keluarga yang bisa dibilang berantakan, dorongan untuk melarikan diri dari omong kosong sangat kuat, mereka menggunakan negativitas tersebut untuk memotivasi diri mereka sendiri. Banyaknya kekecewaan yang diterima dan hanya diri sendiri yang mampu menolong dalam kondisi apapun, memberikan potensi penuh untuk bangkit sendiri bagi anak broken home.

Sebab, dengan atau tanpa bantuan pun mereka tau bahwa kesuksesan mereka bergantung pada mereka sendiri bukan orang lain. Cukup dengan kekecewaan yang mereka dapatkan dalam keluarga, untuk diri sendiri mereka lebih berusaha bertahan dengan kemampuannya sendiri.

Dari sinilah terlihat bahwa segala sesuatu yang terlihat buruk belum tentu sepenuhnya dilingkupi hal-hal buruk pula, sama halnya dengan anak korban broken home. Lagi pula mereka para korban broken home juga sebenarnya tidak menginginkan terlahir dalam keluarga yang sedemikian rupa.

Namun, siapa lah kita, hanya seorang aktor kehidupan dunia yang sudah dirancang plot ceritanya oleh sang pencipta alam semesta.