![]() |
|
|
LITERASI adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Literasi sendiri berasal dari bahasa latin “Literatur” yang dimana artinya adalah orang yang belajar.
Hal ini diperkuat oleh pendapat dari Elizabeth Suzlbpady (1986) bahwa Literasi atau kemelekan adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi pada tingkat sekolah saat ini sangat mempengaruhi terhadap proses pembelajaran. Terutama pada tingkat Sekolah Dasar. Dimana pendidikan awal anak-anak adalah menempati bangku di Sekolah Dasar.
Menurut Abidin, ( 2017:1 ) Secara tradisional literasi dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis. Orang yang dapat dikatakan literat dalam pandangan ini adalah orang yang mampu membaca dan menulis atau bebas buta huruf. Pengertian literasi selanjutnya berkembang menjadi kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak.
Sejalan dengan perjalanan waktu, definisi literasi telah bergeser dari pengertian yang sempit menuju pengertian yang lebih luas mencakup berbagai bidang penting lainnya. Perubahan ini disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor perluasan makna akibat semakin luas penggunaannya, perkembangan teknologi informasi komunikasi.
Literasi dan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi di era pendidikan pada masa sekarang sangat penting sekali. Karena dengan adanya teknologi yang lebih canggih dapat mempermudah seorang pendidik untuk menyalurkan atau menyampaikan pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Literasi pada masa sekarang sangat penting diterapkan dalam proses pembelajaran di bangku Sekolah Dasar. Dengan adanya literasi di pendidikan Sekolah Dasar para pelajar tersebut akan mudah memahami dan cepat tanggap pada saat proses pembelajaran
Masa Milenial adalah masa dimana pertumbuhan dari generasi ke generasi diiringi dengan gaya modernisasi. Sehingga membuat anak yang lahir di generasi tersebut menjadi lebih kekinian dibanding generasi-generasi sebelumnya. Di generasi ini, umumnya lebih menggunakan modernisasi untuk membentuk sebuah tampilan kece. Karena dilahirkan di era teknologi dimana kehidupan sudah lebih baik, serta kebutuhan fisik sudah relatif lebih tenang aman, dan mudah.
Istilah milenial pertama kali hadir diketahui dari seorang penulis bernama William Strauss dan Neil Howe. keduanya dianggap sebagai pencipta dari istilah milenial pada tahun 1987. Ketika istilah tersebut pertama kali muncul, anak-anak yang lahir pada tahun 1987 mulai masuk pra sekolah dan media-media mulai menyebut kelompok anak tersebut terhubung ke dalam istilah milenium.
Seorang psikolog bernama Jean Twenge mengungkapkan, bahwa istilah milenial dijelaskan sebagai generation me di tahun 2006 pada bukunya yang berjudul “Generation Me: Why Today Young American Ar More Confident, Assertive, Entitled and More Miserable Than Ever Before”. Dalam bukunya tersebut, Twenge menjelaskan bahwa istilah milenial merupakan sebutan yang kurang tepat.
Sebab Twenge berpendapat bahwa milenial merupakan generasi yang sama dengan gen x yang berusia lebih muda dan menjadi bagian dalam generation me. Jean twenge memberikan atribut pada generasi milenial dengan karakter-karakter khasnya seperti percaya diri, toleran, narsis dan sadar pada haknya, sesuai dengan hasil survei dari kepribadian milenial.
Selain psikolog Jean Twenge, seorang ahli demografi bernama William Strauss dan Neil Howe yaitu pencetus dari istilah milenial, mendefinisikan milenial sebagai anak-anak yang lahir di tahun antara 1982 hingga 2004. Baik Strauss dan Howe percaya bahwa setiap era generasi memiliki karakteristik yang umum dan karakteristik tersebut akan menjadi karakter generasi dengan empat pola yang terus berulang. Menurut hipotesis dari Strauss dan Howe, generasi milenial memiliki karakter yaitu berwawasan luas dengan empati yang kuat pada komunitas lokal maupun global.
Keduanya pun menjelaskan, bahwa ada tujuh karakter yang dimiliki oleh milenial di antaranya ialah, spesial, terlindungi, percaya diri, memiliki wawasan kelompok, konvensional, tahan terhadap tekanan, serta selalu mengejar pencapaian.
Literasi dan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi di era pendidikan pada masa sekarang sangat penting sekali. Karena dengan adanya teknologi yang lebih canggih dapat mempermudah seorang pendidik untuk menyalurkan atau menyampaikan pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Literasi pada masa sekarang sangat penting diterapkan dalam proses pembelajaran di bangku Sekolah Dasar. Dengan adanya literasi di pendidikan Sekolah Dasar para pelajar tersebut akan mudah memahami dan cepat tanggap pada saat proses pembelajaran.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
Gerakan Literasi Sekolah merupakan program baru yang di usung pemerintah. Program literasi muncul dilandasi kondisi pendidikan yang belum membudaya di sekolah. Panduan Gerakan Literasi Sekolah Dasar ( 2016 ), bahwa data penelitian dalam “Progress International Reading Literacy Study ( PIRLS)” tahun 2011 menunjukkan bahwa kemampuam siswa Indonesia dalam memahami bacaan berada dibawah rata – rata internasional.
Menurut data tersebut, literasi belum menjadi budaya dikalangan pelajar Indonesia terutama tingkat sekolah dasar. Kondisi ini harus segera diperbaiki dengan memperkenalkan literasi sejak dini.
Literasi harus diterapkan sedari awal pada para pelajar khususnya di kelas yang sudah mulai mengenal huruf dan sudah bisa membaca. Pendidik harus membiasakan para siswanya untuk mengenal atau megetahui apa itu literasi dan bagaimana manfaat dari hasil pembiasaan tersebut. Budaya literasi memiliki peranan yang besar dalam melatih kemampuan dasar anak untuk membaca, menulis, dan bercerita.
Penanaman atau pembiasaan budaya literasi pada anak sejak dini akan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyiapkan anak untuk memasuki dunia pendidikan selanjutnya, sehingga tidak ada terjadinya cultural shock.
Pentingnya literasi pada anak khususunya di bangku Sekolah Dasar yaitu dapat membangun kesadaran siswa akan pentingnya membaca, menulis, mendengarkan, dan juga berkomunikasi terhadap sesama. Para pendidik sudah pasti sangat berupaya sekali terhadap usaha pembiasaan literasi pada anak-anak menyangkut keberhasilan dari proses pembelajaran. Namun faktanya, penanaman budaya literasi pada masa sekarang kurang disukai dan diminati anak-anak. Sehingga tingkat rendahnya literasi anak di bangku Sekolah Dasar sangat perlu diperhatikan lebih.
Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya kemampuan literasi pelajar Sekolah Dasar adalah perkembangan teknologi, informasi, dan juga komunikasi. Banyak aplikasi-aplikasi teknologi seperti aplikasi pada gadget yang menggiurkan anak-anak untuk lebih sering melihat, mendengar, dan bermain terhadap hal tersebut.
Teknologi khususnya gadget ini sudah sangat menyediakan banyak fitur aplikasi yang anak Sekolah Dasar sekarang sukai dan menyebabkan efek kecanduan. Kemudian kurangnya komunikasi dan bimbingan baik dari guru ataupun orang tua anak terhadap literasi. Literasi tidak hanya tentang membaca, menulis, menghitung saja, namun juga tentang penalaran.
Peran guru dan orang tua sangat penting terhadap pembiasaan anak terhadap pemahaman literasi. Faktor lainnya adalah dari kurang tersedianya fasilitas atau koleksi bacaan buku baik dirumah, maupun disekolah. Sehingga anak-anak tidak ada sarana untuk melakukan literasi tersebut. Dampak yang akan diakibatkan dari factor-faktor tersebut adalah kurangnya minat baca siswa, kurang tanggap dalam proses pembelajaran, dan kurang menalar. Guru juga akan mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran jika para siswanya minim akan literasi. Dalam proses pembelajaran perlu adanya strategi yang harus dilakukan.
Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan. Strategi pertama yang dilakukan adalah pada lingkup keluarga. Peran yang sangat penting dalam hal ini adalah orang tua, dimana pendidikan awal anak adalah pada orang tua. Orang tua dapat melakukan pembiasaan terhadap hal-hal kecil yang berkaitan dengan literasi. Contohnya membacakan dongeng sebelum tidur, membelikan buku yang bervariasi atau yang berisi gambaran yang menarik.
Sehingga anak akan tertarik dan penasaran terhadap isi dari buku tersebut. Kemudian selain peran penting dari orang tua, peran selanjutnya adalah guru. Guru sebagai seorang pendidik adalah orang yang bertugas memberikan pelajaran berupa ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik, juga sekaligus melatih, membimbing, dan mengarahkan peserta didiknya agar lebih mulia dan berpikir secara cerdas.
Dalam kaitannya dengan pentingnya literasi ini adalah guru dapat melakukan pembiasaan membaca buku atau melakukan literasi lainnya sebelum melanjutkan ke materi yang akan disampaikan selama kurang lebih 10 atau 15 menit. Dapat juga menerapkan media pembelajaran menggunakan kartu kata, gambar, teks cerita, dan video yang ditampilkan di LCD. Dan selalu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Hal ini sebagai upaya guru untuk menanamkan jiwa literasi pada anak. Selain guru, peran dari pihak sekolah juga berpengaruh terhadap pentingnya literasi di masa sekarang. Pihak sekolah diharapkan mampu mengadakan kegiatan diluar jam pelajaran seperti adanya kegiatan perpustakaan kelas, pembuatan mading setiap kelas yang dilaksanakan setiap minggu atau sebulan sekali.
Peran pihak sekolah dalam penerapan literasi bertujuan untuk mengembangkan potensi berupa kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan-keterampilan lainnya yang berguna untuk dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pernyataan ini jelas tertuang dalam undng-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003.
Keterlibatan pihak sekolah sangatlah penting dalam pelaksanaan suatu program dalam mengembangkan budaya berkualitas di sekolah. Budaya literasi sekolah sangatlah diperlukan, selain untuk meningkatkan mutu pembelajaran, literasi sekolah juga bertujuan untuk memfasilitasi dan mengembangkan kemampuan siswa, membiasakan membaca serta mengelola informasi yang mereka peroleh.
Sehingga pembelajaan menjadi lebih bermakna, bermutu, dan menyenangkan seperti yang tertera dalam Tujuan Literasi Sekolah (2016), yaitu meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak, agar siswa-siswi mampu mengelola pengetahuan, serta menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
