Pentingnya Komunikasi Anak Dengan Orang Tua
--None--
Selasa, 17/01/2023, 00:29:20 WIB

MENURUT Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A. dalam bukunya yang berjudul "Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek",mengatakan bahwa pentingnya komunikasi bagi kehidupan sosial, budaya, pendidikan, dan politik sudah disadari oleh para cendekiawan sejak Aristoteles yang hidup ratusan tahun sebelum Masehi. Namun, komunikasi dalam lingkungan keluarga juga penting lho, terutama komunikasi anak dengan orang tua.

Komunikasi sendiri secara umum memiliki pengertian bahwa komunikasi adalah proses pemindahan pesan dari komunikator kepada penerima/komunikan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.

Sedangkan menurut paradigma Lasswell, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.

Berdasarkan pengertian di atas,agar tercipta komunikasi yang baik antara dua orang atau lebih,maka orang yang sebagai penyampai pesan (komunikator) harus menyampaikan maksud dengan baik pula, yang kemudian dapat diterima, dimengerti, dan direspon oleh si penerima pesan (komunikan). Seperti halnya komunikasi orang tua dengan anak.

Sarwono (2007) mengungkapkan meskipun tidak ada batasan secara eksplisit tentang usia anak remaja,akan tetapi dalam Undang-Undang Kesejahteraan Anak (UU no.4/1979) disebutkan bahwa semua orang di bawah usia 21 tahun dan belum menikah dikategorikan sebagai remaja. Apabila sudah menikah dalam usia tersebut maka dianggap orang dewasa. Sementara itu, masyarakat Indonesia menggolongkan usia remaja. Remaja pun dibagi menjadi remaja awal 11-15 tahun dan remaja akhir 16-24 tahun.

Menurut Chris Dukes dan Maggie Smith dalam bukunya yang berjudul "Cara mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan berbahasa pada anak prasekolah", mengatakan bahwa secara psikologis anak usia remaja,nalar (reason) bangkitnya akal (ratio) dan kesadaran diri (self consciousness) sudah mulai muncul.

Dalam masa ini terdapat energi dan kekuatan fisik yang luar biasa serta tumbuh keingintahuan dan keinginan coba-coba. Terjadi perubahan dari kecenderungan mementingkan diri sendiri menjadi kecenderungan memerhatikan harga diri.

Nalar pada anak usia remaja juga sudah berfungsi maksimal. Banyak anak pada usia ini sudah mulai berfikir nalar sehingga sering apa yang diinginkan orang tua belum tentu sama dengan yang diinginkan anak usia remaja. Oleh karena itu, anak usia remaja memerlukan perhatian dan perlakuan ekstra dari orang tua mereka.

Perlu dipahami bahwa orang tua adalah ayah dan ibu yang bertanggung jawab atas sikap dan perilaku maupun segala aspek kehidupannya sejak anak masih kecil hingga mereka dewasa. Karena orang tua merupakan role model yang dimana kesehariannya menjadi contoh bagi anak untuk selalu ditiru. Jadi, anak akan selalu meniru apapun yang dilakukan oleh orang tuanya, baik dan buruknya perilaku orang tua mereka.

Sedangkan menurut Sulastri & Ahmad Tarmizi (2017),orang tua adalah dua individu yang berbeda memasuki hidup bersama dengan membawa pandangan dan kebiasaan sehari-hari. Orang tua juga merupakan orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga, atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu.

Orang tua dan anak sangat memerlukan komunikasi dalam sebuah hubungan,karena komunikasi ini dapat mempererat suatu hubungan. Akan tetapi, seringkali orang tua selalu menyepelekan tentang komunikasi, apalagi komunikasi dengan anaknya sendiri. Padahal komunikasi dengan anak sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan, yang dimana juga mempunyai manfaat besar terhadap perkembangan anak.Itulah mengapa perlunya menjaga komunikasi antarpribadi,khususnya orang tua dengan anak.

Komunikasi antar pribadi: Menurut (Berger, 1979; Dainton dan Stafford, 2000) dalam (Dalam, West dan Tuerner, 2008:36) komunikasi antarpribadi merujuk pada komunikasi yang terjadi secara langsung antara dua orang. Konteks interpersonal banyak membahas tentang bagaimana suatu hubungan dimulai, bagaimana mempertahankan suatu hubungan, dan keretakan suatu hubungan.

Melalui komunikasi antarpribadi antara orang tua dengan anak, diharapkan dapat tersampaikan pesan-pesan moral, norma, etika, agama bahkan aturan dan undang-undang. Melalui komunikasi antarpribadi orang tua dengan anak, diharapkan anak memahami, menentukan sikap yang baik, serta berperilaku baik sesuai dengan pesan moral, norma, etika, agama bahkan aturan dan undang-undang.

Menurut Dwi Prijono Soesanto dan Muhammad Shaufi (2019), adapun beberapa akar permasalahan komunikasi antarpribadi yang buruk antara orang tua dengan anak diantaranya disebabkan oleh cara melakukan komunikasi antarpribadi. Sering kali anak merasa terlalu diperintah, padahal maksud orang tua tidak seperti itu.

Orang tua bermaksud memberikan bekal etika, norma dan nilai budaya, nilai agama dan sebagainya yang diperlukan dalam kehidupan anaknya. Orang tua harus mempunyai pengetahuan yang memadai dalam berkomunikasi dengan anak. Orang tua harus memahami situasi, kapan, dimana, mengapa dan bagaimana komunikasi antarpribadi dengan anak dapat dilakukan.

Disinilah peranan orang tua dalam mendidik anak, dimana orang tua harus mempunyai pengetahuan tentang bagaimana berkomunikasi antar pribadi dengan anak, dalam rangka pembentukan sikap, perilaku serta karakter anak yang baik dan benar, sesuai dengan norma, kaidah, budaya, agama serta undang undang.

Sedangkan menurut J.A. Devito (1997:259) dalam bukunya, mengatakan bahwa keberhasilan dalam menyampaikan informasi sangatlah ditentukan oleh sifat dan mutu hubungan diantara pribadi yang terlibat dan mengandung lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu: keterbukaan (opennes), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).

Berdasarkan pendapat Devito tersebut di atas,agar komunikasi antarpribadi orang tua dengan anak berhasil, setidaknya orang tua mengikuti dan memperhatikan 5 (lima) hal, yang terdiri dari keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif serta kesetaraan. Komunikasi antarpribadi orang tua dengan anak, tanpa adanya keterbukaan,tidak akan dapat menyampaikan pesan yang berupa symbol maupun kata-kata dengan baik.

Pesan yang disampaikan oleh orang tua pada anak, merupakan pesan untuk memengaruhi pikiran, perasaan dan bagaimana seharusnya anak bertindak dalam kehidupan bermasyarakat ini. Dalam hal ini,yang dimaksud orang tua adalah ayah dan ibu yang lebih berperan sebagai komunikator, dan anak lebih berperan sebagai komunikan atau penerima pesan.

Memahami makna pesan yang disampaikan oleh orang tua pada anak memang membutuhkan pemikiran yang dapat dijangkau oleh panca indra anak. Tujuannya, anak dapat menafsirkan makna pesan yang disampaikan oleh orang tuanya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh orang tuanya. Jika hal ini terjadi, maka komunikasi dapat dikatakan efektif.

Dalam komunikasi antarpribadi, orang tua akan memberikan pesan pada anaknya yang mempunyai nilai-nilai kehidupan yang baik, dengan tujuan pesan yang disampaikan akan membentuk sikap dan perilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tuanya. Sebagai dasar kehidupan, komunikasi terjadi melalui pertukaran pesan.

Menurut Ruben dan Stewart(2013:8), ada lima jenis pesan yang lazim digunakan saat berkomunikasi:

-1. Pesan penglihatan (visual message), -2. Pesan sentuhan (tactile message), -3. Pesan penciuman (olfactory message), -4. Pesan pengucapan (gustatory message), dan -5 Pesan pendengaran (audiotory message).

Pola komunikasi yang seperti inilah yang dapat membuat anak menjadi lebih mudah dalam mengatasi dan menyelesaikan sebuah permasalahan yang akan dihadapinya. Tentu saja kita pasti menginginkan kondisi lingkungan keluarga yang baik dan nyaman. Kondisi lingkungan keluarga yang seperti inilah yang membuat anak menjadi lebih betah tinggal di rumah dibanding di luar dan juga dapat mengantisipasi anak untuk melakukan hal-hal yang menyimpang.

Kompasiana (2019): Dengan memainkan peran orangtua dengan benar dan sebaik mungkin dalam mendidik dan mengasuh anak inilah,anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal. Yang tak kalah pentingnya anak akan tumbuh berkarakter dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk dari luar, serta menjadikan anak yang berkepribadian baik yang akan menjadi aset generasi penerus bangsa di masa depan.

Pada akhirnya, komunikasi yang berjalan baik, akan terjadi apabila ada timbal balik antara orang tua dengan anak maupun anak dengan orang tua. Diharapkan, orang tua dapat memberikan contoh baik bagi anak-anaknya dan anak juga dapat tumbuh menjadi anak yang berkepribadian baik, dan mampu mengekspresikan diri melalui karya-karyanya.