Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar
--None--
Senin, 16/01/2023, 11:58:43 WIB

PENDIDIKAN, belajar, dan pembelajaran merupakan suatu hal yang memiliki arti berbeda tetapi saling berkaitan karena belajar dengan pembelajaran tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian serta kemampuan peserta didik baik di dalam maupun di luar sekolah, sedangkan belajar yaitu kegiatan yang dilakukan oleh setiap individu untuk mengetahui suatu hal sementara pembelajaran merupakan aktivitas belajar mengajar yang dilakukan oleh peserta didik dan guru dalam lingkungan belajar untuk mencapai hasil belajar.

Gagne dan Briggs (1979) berpendapat bahwa pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa berisi serangkaian peristiwa yang dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi  serta mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.

Undang-undang nomor 14 tahun 2005 pasal 1 menjelaskan tentang guru dan dosen yang berbunyi “guru dan dosen adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Seorang guru memiliki peran penting untuk mengarahkan peserta didik pada saat pembelajaran. Tanpa seorang guru pembelajaran tidak akan terjadi karena pada dasarnya sebagian besar proses belajar-mengajar ditentukan oleh guru yang disertai dengan kompetensinya.

Tahun 2019 sebagian besar negara di dunia mengalami musibah berupa wabah Covid-19, Covid-19 masuk ke Indonesia tahun 2020. Masuknya Covid-19 ke Indonesia berdampak pada proses belajar mengajar menjadi kurang efektif karena menyulitkan peserta didik dengan guru untuk berinteraksi secara langsung. Dengan kendala yang dihadapi saat itu sistem pembelajaran di Indonesia bertransformasi dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh atau daring (dalam jaringan).

Hal tersebut dilakukan agar memudahkan guru/peserta didik dalam mengakses pembelajaran serta dapat berkomunikasi dengan lebih mudah karena dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.

Pengertian Pembelajaran Tematik:

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang proses belajar mengajarnya menghubungkan atau menggabungkan semua mata pelajaran kecuali agama meliputi Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Matematika, serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) yang didalamnya terdapat satu tema maupun subtema tertentu.

Tema yang dimaksud adalah ide yang dijadikan sebagai pokok pembicaraan dan harus bersifat jelas. Andi Prastowo (2019) berpendapat bahwa pembelajaran tematik adalah salah satu model pembelajaran terpadu (integrated learning) pada jenjang taman kanak-kanak (TK/RA) atau sekolah dasar (SD/MI) untuk kelas awal (yaitu kelas 1, 2, dan 3) yang didasarkan pada tema-tema tertentu yang konstektual dengan dunia anak.

Awal diterapkannya pembelajaran tematik yaitu pada kurikulum 2006 (KTSP) tingkat PAUD dan SD/MI kelas 1 sampai 3, kemudian kurikulum 2013 pada tingkat PAUD/TK dan sekolah dasar (SD/MI) kelas 1 sampai 6. Tujuan dari pembelajaran tematik yaitu untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan pada peserta didik. Sedangkan tujuan utamanya adalah untuk mencapai target pembelajaran yang sudah ditetapkan.

Pembelajaran tematik cocok diterapkan pada anak-anak tingkat sekolah dasar karena berkaitan dengan psikologi perkembangan dan isi dari materi disesuaikan pada tahapan tumbuh kembang anak supaya pembelajaran dapat lebih bermakna, dimana usia tersebut merupakan usia pertumbuhan.

Pembelajaran tersebut menekankan siswa supaya lebih aktif pada saat pembelajaran, sehingga mereka dapat memperoleh pengalaman secara langsung, dan terlatih mandiri untuk dapat menemukan berbagai pengetahuan yang dipelajarinya.

Manfaat Pembelajaran Tematik Bagi Guru dan Peserta Didik:

Pembelajaran tematik memiliki beberapa manfaat bagi guru dan siswa. Yang pertama bagi guru, yaitu waktu pembelajaran lebih  efisien karena mencakup berbagai mata pelajaran, mata pelajaran dan tema/topik dapat diajarkan secara logis serta membebaskan guru untuk menerapkan proses belajar se-kreatif mungkin, proses belajar mengajar tidak hanya terpacu pada buku paket, jam pelajaran, atau bahkan terbatas oleh ruang.

Manfaat bagi siswa adalah dapat lebih fokus pada proses belajar daripada hasil akhir, serta sesuai dengan minat serta kebutuhan yang mendorong mereka untuk memiliki rasa tanggung jawab atas keberhasilan belajar mereka

Pembelajaran tematik memiliki 3 tahap yang sama dengan model pembelajaran terpadu yang pertama yaitu tahap perencanaan yakni dengan menentukan jenis mata pelajaran, keterampilan yang dipadukan, memilih kajian materi, kompetensi dasar, merumuskan indikator hasil belajar serta menentukan langkah-langkah pembelajaran.

Yang kedua adalah tahap pelaksanaan, berarti prinsip-prinsip utamanya meliputi guru sebagai fasilitator, pemberian tanggung jawab individu/kelompok harus jelas, dan guru dapat menyesuaikan diri terhadap suatu ide yang telah ditentukan. Dan yang terakhir adalah tahap evaluasi, pada tahap ini guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan.

Model Pembelajaran Tematik

Rusman (2012) menyatakan bahwa pembelajaran tematik merupakan bentuk pembelajaran terpadu yang memiiki sepuluh model yaitu fragmented (penggalan), connected (keterhubungan), nested (sarang), sequenced (pengurutan), shared (irisan), webbed (jaring laba-laba), threaded (bergalur), integrated (terpadu), immersed (terbenam), dan networed (jaringan kerja).

Sementara pendidikan di Indonesia saat ini hanya mengaplikasikan 3 model pembelajaran yaitu connected (keterhubungan) berfungsi untuk menghubungkan berbagai hal yang berkaitan dengan pembelajaran, webbed (jaring laba-laba) merupakan model yang diawali dengan menentukan tema lalu dikembangkan menjadi sub tema dengan memperhatikan keterkaitan mata pelajaran, dan integrated (keterpaduan) adalah konsep dari beberapa mata pelajaran yang dikaitkan menjadi satu tema.

Untuk menerapkan model-model pembelajaran tersebut tidak mudah, karena membutuhkan keterampilan seorang guru yang cukup tinggi dalam perencanaan serta pelaksanaannya.