Membaca Sejarah Perilaku Kaum Bangsawan Jawa Sampai Eropa Lewat KUR 267
-LAPORAN SL. GAHARU
Jumat, 30/12/2022, 09:25:11 WIB

…keganjilan mitos merebak terjadi di belahan dunia Eropa…

PanturaNews (Tegal) - Ingin mengetahui sejarah kekejaman raja-raja Jawa dari era Ken Arok, pembunuhan Ki Mangir oleh mertuanya sampai kemudian kekejian raja Mataram dipertontonkan?.

Tidak selalu bertumpu pada buku komik, novel, kitab Pararaton, sandiwara radio, film atau serial sinetron, buku-buku pelajaran, spekripsi, tesis, maupun disertasi, masmedia,  pementasan ketoprak sampai pada pementasan teater.

Tetapi cukup membaca Antologi Kur 267 "Saka Jawa Nembus Negeri Sebrang", dapat dengan gamblang dinikmati.

Pernyataan itu diucangkan Lanang Setiawan di sela-sela istirahat saat mengikuti Lokakarya Penyusunan Antologi Puisi Tegalerin 2:4:2:4 Terjemahan buku "Kluwung Dewa-Dewi" dalam bahasa Nasional, dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) di salah satu hotel di Kota Tegal.

"Bahkan tidak hanya keangkaramurkaan sejarah raja-raja Jawa, melainkan keganasan, pembunuhan dan juga umbar seks pada zaman kekaisaran Romawi dari era Caligula, Claudius, sampai masa Nero membakar Kota Roma, melakukan inses dengan ibunya dan hubungan intim dengan saudara sedarah sebelum mereka pada akhirnya dibunuh.

Pada Kur 267 yang lain, pembaca akan disodori kisah cabul permaisuri Messalina dari Kaisar Claudius, melakukan obral birahi pada siapapun, dan bahkan mendirikan rumah pelacuran yang didalamnya ia sendiri sebagai pelacur. Tidak heran jika Messalina dijuluki "Permaisuri Tercabul". Semua itu hanya ada di buku Antologi Kur 267 itu," ujar Lanang selaku penulis buku antologi Kur 267 "Saka Jawa Nembus Negeri Sebrang".

Lebih lanjut dijelaskan, dalam buku itu tidak hanya menyodorkan tragedi kemanusiaan zaman raja-raja Jawa dan kekaisaran Romawi, banyak juga disandingkan babad, tradisi, dan mitos dari Tegal sampai Eropa.

Dalam buku itu, pembaca Kur 267 karya Lanang Setiawan bakal mrngetahui tentang kesintingan orang Swiss menikahi Tembok Berlin, Jerman, dan seorang perawan menikahi Menara Eiffel, sumur yang ada di Bran Castle Romania bukannya berisi air jernih justru kedapatan berumpuk dolar dari berbagai negara.

Di satu sisi sang penulis menyodorkan tradisi banting-banting barang pecah belah menjelang hari H hajat pernikahan. Hal itu terjadi di salah satu wilayah di Jerman.

Jika kemudian keganjilan mitos merebak terjadi di belahan dunia Eropa, di tlatah Tegal pun terjadi perisitiwa adanya pernikahan antarbenda mati berpasangan dengan benda mati. Biasa disebut tradisi Mantu Poci. Hal yang sama terjadi pada hajat Sunat Poci, adalah bentuk ritual khitan menggunakan bahan poci yang ujungnya dibungkus perban.

"Senada dengan kekejaman kekaisaran di Romawi, di Jawa pun terjadi pula. Tersebutlah Raden Anom yang bergelar Amangkurat II melakukan pembunuhan terhadap Pangeran Trunojoyo. Semula hubungan mereka koncoisme lantas berbalik menjadi musuh hingga kepala Trunojoyo dipenggal. Saat kepala sudah terpenggal, Anom langsung menumbuk kepala Trunojoyo di lubang lesung," katanya.

Menurutnya juga, dalam buku antologi Kur 267 itu ada kisah mengenaskan dialami oleh Bupati Tegal Cokronegoro--kondang disebutan Mbah Kaloran--disingkiran oleh Raffles dan kedudukannya diganti bupati baru. Cokronegoro kemudian ditempatkan di gedung sebelah utara, dekat Pasar Esuk.

Peristiwa itu kemudian popular dengan sebutan Bupati Rangkat. Oleh Lanang peristiwa itu dapat dibaca pada Kur 267 berjudul "Jaman Raffles" pada sub judul Babad Tegal.

Membaca buku Lanang ini, pembaca seperti sedang diajak menembus lorong waktu pada masa yang sangat jauh. Bakal merugi jika tidak memiliki buku yang sarat sejarah dan pernik-pernik peradaban manusia.