Profesionalisme Guru Tercermin pada Keberhasilan Siswa
--None--
Minggu, 11/12/2022, 17:01:21 WIB

Dalam pengelolaan SDM, profesionalitas merupakan pra-syarat bagi suatu jabatan, pekerjaan atau profesi. Satu hal yang penting dalam bekerja yaitu sikap profesional dan kualitas kerja. Profesional (dalam bahasa Inggris) berarti ahli, spesialis, berkompeten dalam bidang yang digelutinya.

Profesional berarti menjadi ahli di bidang Anda. Dan tentunya seorang ahli yang mumpuni untuk pekerjaannya. Namun, tidak semua ahli dapat memenuhi syarat. Karena kompetensi bukan hanya soal keahlian, tapi juga soal kejujuran dan kepribadian. Dari perspektif pembangunan manusia, profesionalisme merupakan gabungan dari istilah kepribadian dan integritas yang dipadukan dengan keterampilan atau keahlian.

Profesionalisme adalah persyaratan dari profesi apa pun, seperti dokter, insinyur, pilot, atau profesi yang dikenal secara sosial. Tapi guru...? Mereka menjadi profesi dengan kriteria di atas. Mengajar jelas merupakan sebuah profesi. Tapi apakah itu berhasil...? Kegiatan sebagai guru sekurang-kurangnya harus memiliki keterampilan tertentu dan sesuai dengan ketentuan profesi. Jika kompetensi ini tidak ada, maka tidak bisa disebut guru. Artinya tidak semua orang bisa menjadi guru.

Namun kenyataannya, banyak guru sebagai pilihan karir terakhir. Tidak dengan itikad baik, ketika diblokir, tidak ada pekerjaan atau status sosial lain yang terkait dengan pengucilan, upah rendah, kekayaan, bahkan di bawah garis kemiskinan. Bahkan ada guru yang dipilih dalam keadaan kotor, asalkan ada yang mengajar. Meskipun guru adalah penjaga kurikulum, dia adalah ujung tombak para pejuang pengentasan kebodohan. Guru juga merupakan mata rantai dan pilar peradaban serta benang merah dalam proses perubahan dan kemajuan suatu masyarakat atau bangsa.

Mengingat mengajar adalah profesi yang sangat idealis, maka timbul pertanyaan apakah ada guru yang profesional...? Dan bagaimana cara menciptakan guru yang profesional?

Guru Profesional

Berkaitan dengan konsep di atas, profesionalisme memadukan kualitas dengan kejujuran, penting untuk menjadi guru yang profesional. Namun, profesi guru sangat terkait dengan peran psikologis, humanistik, dan bahkan sinonim dengan citra seseorang. Karena ibarat laboratorium, guru ibarat ilmuwan yang bereksperimen dengan nasib anak bangsa dan juga bangsa. Ada beberapa kriteria untuk menjadi guru profesional. Anda memiliki keterampilan/keahlian dalam pelatihan atau pengajaran.

Mungkin semua orang bisa menjadi guru. Tetapi menjadi seorang guru yang berpengalaman dalam pendidikan atau pengajaran membutuhkan pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang tepat. Untuk menjadi seorang guru dalam konteks di atas, persyaratan minimum yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

- Anda memiliki kemampuan intelektual yang memadai

- Mampu memahami visi dan misi pendidikan

- Pengalaman dengan transfer pengetahuan atau metode pembelajaran

- Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan

- Keterampilan organisasi dan pemecahan masalah

- Kreatif dan memiliki bakat untuk pendidikan.

Kepribadian Guru

Profesi guru identik dengan peran-peran pendidikan seperti kepemimpinan, pengasuhan, pengasuhan atau pengajaran. Sebagai contoh lukisan yang ditiru murid-muridnya. Baik atau buruknya hasil lukisan tergantung pada contohnya. Guru (digugu dan ditiru) otomatis menjadi panutan. Menurut persepsi peran ini, guru harus berintegritas dan memiliki kepribadian yang baik dan benar. Hal ini cukup sederhana, karena tugas guru tidak hanya mengajar (memberikan ilmu), tetapi juga memberikan nilai-nilai dasar tentang pembentukan karakter atau akhlak anak.

Ada perbedaan mendasar antara pendidikan dan pengajaran, beberapa mungkin terjebak antara definisi pendidikan dan pengajaran. Namun, ada perbedaan mendasar antara keduanya. Mengajar adalah kegiatan profesional guru sehari-hari. Semua persiapan guru untuk pelajaran bersifat teknis. Hasil juga dapat diukur dengan menggunakan perangkat modifikasi perilaku verbal. Tidak semua pendidikan adalah belajar, sebaliknya semua belajar bukanlah pendidikan. Perbedaan antara mengasuh dan mengajar sangat kecil, bisa dikatakan mengajar yang baik adalah mengasuh. Dengan kata lain, pendidikan dapat menggunakan proses pengajaran sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pencapaian tujuan pendidikan.

Pendidikan adalah kegiatan kerangka kerja jangka menengah atau jangka panjang. Hasil pelatihan tidak bisa dilihat dalam waktu dekat atau langsung. Pendidikan mengintegrasikan pikiran, perasaan dan tindakan secara sinergis dengan pengembangan kemampuan berpikir siswa. Perkuliahan diikuti dengan kegiatan belajar mengajar yang sinergis, sehingga materi yang disampaikan meningkatkan keilmuan, mengembangkan keterampilan dan membawa perubahan sikap mental/pribadi sesuai dengan nilai-nilai absolut dan relatif yang berlaku dalam masyarakat dan bangsa. Membesarkan anak adalah kegiatan pendidikan. Fokus pendidikan adalah pembentukan sikap mental/kepribadian peserta didik, sedangkan fokus pengajaran adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi tertentu yang relevan dengan orang-orang dari segala usia. Misalnya, seorang guru matematika mengajar anak yang pandai matematika, tetapi anak tersebut tidak melakukan matematika dalam semua kegiatannya, sehingga kegiatan guru hanya sebatas mengajar dan bukan pendidikan. Tidak semua guru tahu cara mendidik, sekalipun guru yang baik, menguasai bahan ajar dan keterampilan saja tidak cukup untuk menjadi seorang pendidik guru, tetapi harus memahami dasar-dasar agama dan norma-norma masyarakat agar ketika belajar, Guru mampu menghubungkan materi yang diajarkannya dengan sikap dan kepribadian yang perlu ditumbuhkan sesuai dengan ajaran agama dan norma masyarakat.

Jadi jika hasil pendidikan dapat dilihat dalam waktu singkat atau paling lama tiga tahun, maka hasil pendidikan tidak dapat dianggap sebagai segmented result. Hasil pelatihan tercermin dalam sikap, karakteristik, perilaku, aktivitas, gaya argumen, gaya reaksi dan model keputusan spesifik kasus siswa.

(Ghina Karima Anjalina adalah ahasiswi Semester III Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Abdurrahman Wahid Pekalongan)