Otomatisasi Pengering Padi Berbasis Arduino Uno
--None--
Kamis, 28/07/2022, 07:06:42 WIB

PADA umumnya pengeringan padi di Indonesia masih dilakukan dengan cara yang relatif sederhana atau pengeringan secara tradisional dengan cara dipanaskan pada terik sinar matahari atau dijemur. Proses pengeringan sederhana ini umumnya membutuhkan waktu tiga hari untuk proses pengeringan kurang lebih mencapai satu minggu.

Dalam menghadapi perubahan iklim akibat pemanasan global, jadi pengeringan secara tradisional sering tidak dapat dilakukan dikarenakan cuaca yang tidak menentu. Dengan demikian padi tidak dapat kering dan akan menimbulkan kerusakan seperti busuk.

Padi merupakan salah satu bahan makanan berbasis biji-bijian terbesar kedua di dunia. Di Indonesia sendiri padi telah menjadi komoditas strategis yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan hal ini dikarenakan padi merupakan sumber makanan utama sebagian besar penduduk di Indonesia. Dan juga merupakan salah satu sumber perekonomian sebagian besar penduduk di pedesaan. Semakin besar jumlah penduduk maka akan semakin besar kebutuhan akan pangan terutama beras.

Proses pengeringan yang masih serba manual atau secara konvensional. Banyak memerlukan tenaga kerja yang banyak untuk membolak-balikan padi disetiap jam sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengeringkan hasil panen serta memerlukan lahan yang luas. Penjemuran yang konvensional dengan cara menghamparkan padi di atas lantai akan mengakibatkan kadar air yang tidak sama.

Alat pengering buatan ini sangat membantu para petani khususnya petani padi yang masih menggunakan pengering manual yang hanya bergantung pada cuaca mendung ataupun hujan. Tetapi pengering buatan juga memiliki kelebihan yaitu proses pengeringan yang cepat, tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak, serta suhu dan proses pengeringannya biasa diatur sesuai keinginan kita, tapi pengeringan buatan ini juga banyak mempunyai kelemahan seperti bajet yang lebih tinggi dan memerlukan peralatan, sedangkan kalau dibandingkan dengan pengeringan secara tradisional tidak memiliki bajet yang lebih tinggi cuma membutuhkan tenaga orang dan juga membutuhkan lahan yang luas.

Berdasarkan penelitian dari Syahrir Abdussamad, Stephan A. Hulukati, Ayun Husain tentang pengeringan menggunakannya lampu pijar pada pengujian pertama pengeringan padi basah sebanyak 10 kg dengan menggunakan lampu pijar selama 12 jam. Hasil pengujian tersebut memperoleh data berkurangnya berat padi sebesar 2,5 kg. Selama dalam proses pengeringan padi, suhu pada ruangan pengeringan meningkat oleh sebab itu lampu pijar semakin lama menyala akan menghasilkan panas yang berlebihan. pada penelitian ini juga membandingkan hasil pengeringan dengan sinar maatahari, dari hasil pengeringan matahri selama 9 jam dengan cara pengujian yang sama, dihasilkanlah suatu data. Disaat pengeringan menggunakan matahari proses padi yang mengering terbilang cepat namun suhu yang dihasilkan tidak setabil karena perubahanya cuaca.

Dalam hasil proses pengeringan padi yang secara tradisional atau yang menggunakan sinar matahari itu hasil suhunya lebih rendah, kenapa oleh sebab itu sinar matahari mungkin tidak stabil sebab cuacanya mendung dan berbeda setiap jamnya. Pada saat mau penjemuran padi seorang petani biasanya dimulai dari jam 07:00 sampe 15:00 dibawah sinar matahari. Tetapi itu setiap waktu atau jamnya di cek suhu nya oleh seorang petani. Tetapi berbeda jam nya dengan yang menggunakan lampu pijar, biasa nya padi yang dikeringkan oleh lampu pijar selama 12 jam.

Menurut yang dilakukan oleh S Abdussamad, SA Hulukati A Husain ( 2022 ) merancang alat model tentang otomatis pengering padi berbasis arduino uno, sehingga otomatis dapat mengukur panas pada suhu ruang pengering gabah agar tetap konstan. Alat pengering buatan ini sangat membantu kita dalam proses pengerjaan agar para petani dapat memerlukan hasil padi yang optimal dan bertujuan untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Hal ini sejalan dengan penelitian pernah membahas tentang Sistem Kontrol Pengaduk Pada Alat Pengering Gabah Berbasis Mikrokontroler Atmega oleh Niken Suprapti Dan Agus Purwanto (2017), yang menyatakan bahwa pada sistem kontrol ini bekerja berdasarkan bawha pada perbedaan antara suhu gabah dibagian atas dan bawah. Pada kedua perbedaan itu apabila terjadi perbedaan maka pengaduk akan berputar secara otomatis sehingga dapat meratakan suhu gabah, sehingga tidak membutuhkan tenaga untuk mengontrol pengaduk.

Sebuah alat ini berbeda dengan alat yang akan dirancang, karena objek yang akan dikontrol pada alat pengering padi adalah suhu ruang dan pengontrolannya ialah menggunakan arduino, kemudian set point diatur seseuai standar kering gabah, apabila suhu pada gabah melebihi set point maka proses pengeringan akan berhenti sementara dan lampu pijar akan mati, kipas akan berputar untuk menurunkan suhu ruang dan pada saat penjemuran siang hari maka hanya kipas angin yang akan berputar.

Penelitian ini bertujuan untuk merancang alat sistem kontrol kadar air, dengan mengontrol kadar air pada gabah dengan set point 14%. Pada alat sistem kontrol ini menggunakan mikrokontroler atmega 8 yang keluarnya akan mempengaruhi kondisi kerja saklar transistor sehingga memicu relay yang berfungsi untuk menyalakan dan mematikan pemanas. Pada saat pengeringan tidak akan berhenti, karena bagian atap rumah pengering diberikan lampu pijar yang akan menggantikan cahaya sinar matahari. Pada cuaca mendung atau pun hujan, proses pengeringan akan tetap berlanjut pada saat atap rumah pengering tertutup maka lampu pijar akan menyala secara otomatis. Sehingga pada sistem kontrol ini mesin pengering padi bersifat objek yang dikontrol adalah temperatur suhu pada ruang dengan menggunakan arduino.

Alat ini bekerja berdasarkan suhu ruang pengeringan, apabila suhu ruang kurang maka proses pengeringan menggunakan lampu pijar akan terjeda sementara samapi suhu ruang pengering turun. Arduino bekerja sesuai set point yang diberikan, maka arduino akan bekerja dan secara otomatis kipas akan berputar untuk menurunkan suhu ruang, Apabila suhu ruang pengering melebihi set point maka proses pengeringan akan berhenti sementara secara otomatis. Apabila atap pengering akan tertutup maka lampu pijar akan menyala dan mati saat atap pengering akan terbuka, tetapi pada saat cuaca mendung maka atap pengering akan tertutup dengan sendirinya, dan proses pengeringan tetap berlangsung, dengan bantuan lampu pijar.

Sistem kontrol pengering mempunyai masukan berupa arduino yang sudah di program dan akan di hubungkan dengan alat pendeteksi suhu ruangan dan keluaran berupa proses pengeringan gabah secara otomatis dengan bantuan cahaya sinar matahari dan panas yang dihasilkan dari lampu pijar. Pengontrolan pengeringan gabah dilakukan dengan mengetahui suhu ruang menggunakan sensor suhu yang di hubungkan dengan arduino yang di pasang di posisi tertentu di dalam rumah pengering, arduino yang di pasang akan terus mendeteksi suhu ruangan maka kalau ketika cuaca mendung atap rumah pengering akan tertutup secara otomatis.

Dari hasil proses pengujian pengeringan gabah dan hasil suhu yang diperoleh yang menggunakan panas matahari suhu tidak normal disebabkan cuaca berbeda di setiap waktu. Jadi proses perubahan suhu ini terjadi karena sinar matahari yang untuk setiap waktunya berubah dari pagi sampai malam. Akan tetapi dengan menggunakan sinar matahari gabah yang dikeringkan sangat cepat dari alat yang dirancang. Dari hasil penelitian ini dengan merancang model pengering gabah otomatis dengan menggunakan arduino sehingga dapat memudahkan proses pengeringan dan secara otomatis dapat mengukur panas pada suhu ruang pengering gabah agar tetap konstan. Setelah pengujian yang dilakukan sebanyak dua kali dalam penelitian ini yang digunakan sensor yang berdeda yaitu sensor cahaya. Pada saat sensor cahaya menerima cahaya maka atap pengering akan terbuka otomatis dan akan kembali tertutup otomatis pada saat sensor tidak membaca cahayanya. 

(Miko Aprisa Dwi Abadi adalah mahasiswa Program studi Teknik Elektro Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)