![]() |
|
|
KESEHATAN adalah salah satu kebutuhan yang sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap individu, kesehatan sangat penting sebab sehat adalah faktor yang mampu membuat orang percaya diri dan meningkatkan suasana hati. Menurut Notoadmodjo (2012) kesehatan adalah “keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setaip orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi”.
Adapun upaya yang dapat dilakukan dalam menjaga kesehatan tubuh antara lain rutin mengecek kondisi kesehatan tubuh, rajin melakukan aktifitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat yang cukup, hindari minuman beralkohol, berhenti merokok, dan kendalikan pikiran agar tidak stres.
Namun tidak semua orang dapat disiplin menerapkan pola hidup sehat sehingga menimbulkan beberapa penyakit ringan, bahkan hingga penyakit kronis. Penyakit kronis adalah gangguan kesehatan yang berlangsung lama, biasanya lebih dari 1 tahun. Kebanyakan penyakit kronis disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, ditambah lagi dengan ketidak patuhan para pasien penyakit kronis dalam mengkonsumsi obat harian mereka. Jenis penyakit ini sering tidak disadari sampai kondisinya sudah terlanjur parah, dan tidak jarang berujung pada kematian.
Dalam terapi pengobatan suatu penyakit tentunya memerlukan kerja sama yang baik antara pasien dengan dokter, dimana dokter memberikan obat sesuai dengan dosis dan kebutuhan pasien, sedangkan pasien harus patuh dalam meminum obatnya. Definisi kepatuhan menurut Nursalam & Kurniawati (2007) istilah kepatuhan digunakan untuk menggambarkan perilaku pasien dalam meminum obat secara benar sesuai dosis, frekuensi, dan waktunya. Ketaatan sendiri memiliki arti pasien menjalankan apa yang telah dianjurkan oleh dokter atau apotekernya. Kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat adalah suatu komponen penting dalam pengobatan suatu penyakit terlebih lagi pada kasus penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang.
Tingkat kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat harian menurut laporan WHO pada tahun 2003 yang menyatakan bahwa “kepatuhan rata-rata pasien pada terapi jangka panjang terhadap penyakit kronis di negara maju hanya sebesar 50% sedangkan di negara berkembang jumlah tersebut bahkan lebih rendah”.
Kepatuhan dalam mengkonsumsi obat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, menurut Niven (2002) faktor yang dapat menambah kepatuhan pasien dalam meminum obatnya dipengaruhi oleh faktor individu yakni sikap motivasi ingin sembuh dari pasien lah yang menjaadi alasan kuat mengapa pasien tersebut patuh dalam mengkonsumsi obatnya, faktor keluarga yakni dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar dapat membuat pasien tidak mudah putus asa dan dapat menerima keadaannya, dan faktor petugas kesehatan yakni dukungan dari petugas kesehatan yang berguna saat pasien menghadapi perilaku kehidupan sehat yang baru.
Mengkonsumsi obat secara patuh tentunya memiliki manfaat bagi kondisi pasien itu sendiri diantaranya yaitu mencegah dan menunda progresivitas penyakit, mengurangi frekuensi hospitalisasi dan dapat mengurangi beban biaya kesehatan.
Selain itu terdapat pula faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obatnya secara rutin, berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obatnya secara rutin. Antara lain pemahaman tentang istruksi seperti kurang jelasnya instruksi yang diberikan oleh tenaga kesehatan, menyebabkan pasien tidak mengetahui dengan jelas kegunaan dari masing-masing obat yang diberikan dan akhirnya menganggap remeh tentang pentingnya mengkonsumsi obat secara rutin, panjangnya jangka pengobatan misalnya lama pengobatan dan efek samping obat menjadi hambatan dalam kepatuhan konsumsi obat bagi pasien karena mengkonsumsi obat dalam jangka waktu yang panjang serta efek sampingnya dapat menimbulkan efek jenuh pada pasien.
Kurangnya pengawasan seperti ketidak puasaan dalam hubungan emosioanl antara pasien dengan petugas kesehatan serta ketidak puasan layanan bisa mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien, kondisi sosial ekonomi pasien sehingga pasien tidak memperoleh obat yang diperlukannya karena harga obat yang tidak terjangkau, kurangnya kesadaran melakukan modifikasi gaya hidup untuk menunjang keberhasilan terapi, tingkat pendidikan dan pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya, dan kurangnya kepercayaan pasien terhadap efektivitas pengobatan modern.
Ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi dapat menyebabkan kekambuhan yang memunculkan resistensi, dan apabila ketidakpatuhan ini dilakukan dalam jangka panjang dapat menimbulkan semakin buruknya kondisi kesehatan, serta meningkatkan biaya perawatan.
Untuk menigkatkan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat harian dapat dilakukan beberapa upaya diantaranya memberikan informasi kepada pasien akan mnafaat dan pentingnya kepatuhan untuk mencapai keberhasilan pengobatan, memberikan keyakinan kepada pasien akan efektivitas obat dalam penyembuhan, memberikan informasi resiko dari ketidakpatuhan, dan memberikan layanan kefarmasian dengan cara observasi langsung.
Untuk mengukur kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat harian dapat dilakukan dengan dua metode, menurut Morisky & Muntner (2009) kedua metode tersebut yaitu, metode langsung berupa kegiatan observasi langsung, kegiatan mengukur tingkat metabolisme tubuh dan kegiatan mengukur aspek biologis dalam darah. Metode yang kedua yaitu metode tidak langsung berupa kuisioner kepada pasien atau kepada orang-orang terdekat pasien, monitoring pengobatan secara elektronik, dan rate beli ulang resep.
Pada penerapan metode-metode yang digunakan untuk mengukur kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat harian ini juga memunculkan tiga teori, menurut Morgan & Horne (2005) ketiga teori tersebuat yaitu teori health belief model yang menjelaskan model perilaku sehat yang merupakan fungsi dari keyakinan personal tentang besarnya ancaman penyakit dan penularannya, teori kedua yaitu theory of planned behavior yang berusaha menguji hubungan antara sikap dan perilaku yang fokus utamanya pada niat yang mengantarkan hubungan antara sikap dan perilaku, norma subjekif terhadap perilaku dan kontrol terhadap perilaku yang dirasakan. Teori yang ketiga yaitu model of adherence yang mengacu pada hambatan pasien dalam proses pengobatan.
(Ucca Valensi Ranu Fatma adalah mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)