![]() |
|
|
SETIAP pasangan suami istri sudah tentu mendambakan hadirnnya buah hati di tengah-tengah keluarga mereka. Menurut Piitt (1986) kehamilan merupakan sebuah anugerah bagi seorang wanita berkeluarga yang mengharapkan kehadiran seorang anak. Kehamilan juga merupakan perwujudan dari identitas sebagai seorang wanita dan ibu. Kehamilan merupakan perubahan keadaan yang relatif baru, khususnya bagi wanita yang baru pertama kali mengalaminya. Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis dan psikologis yang mempengaruhi gerakan, aktifitas maupun suasana emosi pada ibu hamil. Selain berorientasi sebagai istri, ibu hamil juga harus mempersiapkan dirinya dalam menghadapi peran baru sebagai calon ibu.
Wanita menyikapi kehamilan secara positif dan negatif. Kehamilan yang disikapi secara positif menganggap kehamilan adalah sebagai sebuah anugerah dari Allah SWT dan merupakan kehamilan yang sangat dinantikan. Sebagian wanita menghadapi peristiwa kehamilan dengan sikap yang negatif. Sikap negatif yang ditunjukkan oleh ibu berpangkal pada kompleks gangguan psikologis, yaitu ketakutan untuk melahirkan, kekhawatiran akan nasib anaknya yang akan dilahirkan, dan rasa penolakan terhadap anak yang dikandungnya.
Pada ibu hamil perubahan pasti terjadi. Menurut Louise (2006) perubahan yang terjadi pada ibu hamil yaitu perubahan psikologis. Perubahan psikologis terjadi karena ibu hamil mengalami ketakutan, kecemasan, dan emosi lain yang mendadak. Perubahan psikologis yang labil terjadi pada masa trisemester pertama biasanya disebabkan oleh ketidaknyamanan fisik, misalnya tubuh yang dulunya langsing kini terus membesar. Ketidaknyamanan ini jelas dapat menurunkan rasa percaya diri pada ibu hamil. Pada saat trisemester akhir, ibu hamil tidak lagi dapat dengan leluasa untuk bergerak. Kondisi psikologis yang labil dapat berpengaruh terhadap pola tidur ibu hamil.
Setiap perubahan-perubahan yang terjadi pada diri merupakan stressor pada kehidupan. Pada sebagian wanita, kehamilan dan persalinan merupakan stressor yang minimal dan sebagian besar merupakan saat yang membahagiakan dalam kehidupan. Perasaan cemas seringkali menyertai kehamilan terutama pada seorang ibu yang labil jiwanya. Kecemasan ini mencapai klimaksnya nanti pada saat persalinan. Oleh karena itu, banyak ibu yang menghadapi kelahiran anaknya dengan perasaan takut dan cemas.
Seperti yang disampaikan oleh Sondakh (2013) bahwa kecemasan merupakan suatu reaksi yang menunjukan terhadap bahaya yang memperingatkan orang dari dalam -secara naluri- terdapat bahaya dan orang yang bersangkutan mungkin kehilangan kendali dalam situasi tersebut. Penyebab rasa cemas adalah perasaan bersalah akibat dari suatu tindakan yang seseorang perbuat dengan menghasilkan sesuatu yang tidak diharapkan, selain itu rasa takut akan suatu hal yang terjadi pada diri sendiri menyebabkan seseorang akan menjadi cemas.
Mengenai ketakutan ibu dalam melahirkan dan kekhawatiran anaknya bersumber dari Ikarus (2009) dapat diuraikan yaitu kecemasan terhadap diri sendiri dan kecemasan terhadap anaknya. Kecemasan terhadap diri sendiri umumnya kecemasan yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatn. Ibu hamil akan merasa cemas terhadap kemungkinan komplikasi waktu hamil dan waktu bersalin, cemas terhadap nyeri dan pendarahan waktu bersalin, kekhawatiran tidak segera memperoleh pertolongan ataupun perawatan yang semestinya dan mungkin pula cemas terhadap ancaman bahaya maut. Bahkan kadang-kadang dapat timbul cemas yang tidak langsung berhubungan dengan proses kehamilan, misalnya soal rumah tangga, mata pencaharian suaminya ataupun mengenai hubungan dengan suaminya yaitu gangguan seks dengan suami. Kekhawatiran suami akan meninggalkannya karena tubuhnya sudah tidak cantik seperti yang dulu dan tidak mampu melayani suami dengan baik.
Maka diperlukan pengendaliaan emosi untuk ibu hamil agar terhindar dari kecemasan yang dialaminya. Mezy (2016) menyatakan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga yang didapat oleh ibu hamil maka akan semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami, sebaliknya semakin rendah dukungan keluarga yang didapat oleh ibu hamil maka akan semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami ibu hamil tersebut. Ibu hamil yang mengalami kecemasan tetapi mendapat dukungan emosional dan fisik dari suaminya sebagaimana yang diharapkan, akan meminimalkan komplikasi psikolgis khususnya kecemasan akibat kehamilan dan persiapan menjelang persalinan.
Bersumber dari Goleman kecerdasan emosi mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan, pengendalian diri, semangat, ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mampu untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, mengatur suasana hati, tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan mampu menjalin hubungan sosial dengan baik, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta kemampuan untuk memimpin dan akibat-akibat yang ditimbulkan serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.
Menjaga emosi ibu hamil sangat diperlukan untuk kesehatan ibu dan calon bayi yang akan dilahirkan. Emosi ibu hamil akan berpengauh pada emosi janin dalam kandungan. Ketika ibu mudah marah, kesal, dan stres maka hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kondisi bayi nanti ketika sudah lahir. Hal yang paling berpengaruh terhadap emosi seorang ibu hamil yaitu faktor lingkungannya, jika ibu hamil mendapat dukungan dari lingkungannya terutama keluarga maka emosi yang ada dalam dirinya bisa terarah dengan baik dan tidak akan menimbulkan hal-hal negatif bagi bayi dan dirinya sendiri.
Pada dasarnya setiap ibu memiliki kecemasan pada bayinya yang akan lahir. Jadi ibu hamil harus bisa mengelola emosinya dengan cara yaitu belajar memaafkan diri sendiri dan berhenti menyalahkan diri terhadap apa yang sudah terjadi. Berhenti untuk merasa tidak cukup baik, tidak cukup cantik, dan lainnya. Setelah kita mampu menerima diri, maka lebih mudah memaafkan orang lain. Selanjutnya ibu hamil harus mampu mengelola ekspetasi agar tidak menaruh harapan terlalu tinggi terhadap apa yang belum terjadi. Belajar untuk mengontrol diri agar tidak terlalu stres saat menghadapi masalah.
Jadi lebih baik penuhi dengan pemikiran yang positif dan menyenangkan, sehingga kelak anak tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekelilingnya.
(Clara Dwi Rosana Wowor adalah mahasiswa Prodi Farmasi Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)