![]() |
|
|
Menurut Kementrian Kesehatan RI (2014), Hepatitis merupakan peradangan (pembengkan) pada hati hingga liver dengan penyebab utama infeksi, virus, melakukan satu tubuh dengan pengguna, hingga penggunaan obat-obatan juga faktor lainnya. Selain disebabkan oleh faktor-faktor tersebut, hepatitis juga terjadi karena kerusakan pada hati yang disebabkan senyawa kimia utamanya alkohol. Penyakit hepatitis menjadi masalah kesehatan dunia, yang menyebabkan kematian pada bayi, balita, usia dewasa maupun lansia. Mudahnya penularan hepatitis kurang menjadi perhatian oleh berbagai pihak.
Para ahli membagi virus hepatitis menjadi lima jenis yaitu; Hepatitis A yaitu jenis hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A (HAV). Penyakit ini termasuk infeksi hati menular dan termasuk endemik di negara berkembang. Pasalnya, hepatitis A berkaitan dengan kebersihan lingkungan serta perilaku bersih dan sehat.
Hepatitis B yaitu infeksi hati serius yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Hepatitis C merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis C (HCV). Hepatitis D (HDV) atau juga bisa disebut sebagai virus delta adalah jenis hepatitis yang paling jarang ditemukan. Hal ini dikarenakan hepatitis D memerlukan HBV untuk berkembang biak. Oleh karena itu, penyakit hepatitis D hanya bisa ditemukan pada penderita hepatitis B. Hepatitis E yaitu jenis hepatitis yang cara penularannya hampir mirip dengan HAV, yaitu melalui konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi virus hepatitis E (HEV).
Hepatitis virus merupakan sebuah fenomena dimana penderita yang tercatat atau yang datang kelayanan kesehatan lebih sedikit dari jumlah penderita sesungguhnya. Menurut hasil Riskesdas 2013 bahwa jumlah orang yang didiagnosis hepatitis difasilitas pelayanan kesehatan berdasarkan gejala-gejala yang ada, menunjukkan peningkatan 2 kali lipat apabila dibandingkan dari data tahun 2007 dan 2013, hal ini dapat memberikan petunjuk awal tentang upaya pengendalian dimasa lalu, potensial masalah dimasa yang akan datang apabila tidak segera dilakukan upaya-upaya yang serius.
Menurut informasi dari Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, diperkirakan bahwa di antara 100 orang Indonesia, 10 di antaranya telah terinfeksi hepatitis B atau C.
Faktor-Faktor Penyebab Hepatitis
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit hepatitis antara lain virus hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D, hepatitis E, kebersihan lingkungan serta perilaku hidup bersih dan sehat, kontak dengan darah, air mani dan cairan tubuh lainnya, penggunaan jarum suntik secara bersamaan, pembuatan tato, dll.
Gejala Penyakit Hepatitis
Menurut Wright dan Grulich (2009). Pada penderita penyakit hepatitis seringkali tidak memahami bahkan mengalami gejala yang terjadi sehingga tidak dapat mengetahui bahwasanya mereka sudah terinfeksi hepatitis dan gejala yang ditimbulkan seperti mata dan kulit menjadi kuning, demam, hingga mual.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 dan 2013 terjadi kenaikan proporsi hepatitis dari 0,6% menjadi 1,2%. Apabila dikonversikan ke dalam jumlah absolut penduduk Indonesia tahun 2013 sekitar 248.422.956 jiwa, maka bisa dikatakan bahwa 2.981.075 jiwa penduduk Indonesia terinfeksi hepatitis.
Price dan Wilson (2012), mengatakan bahwa diagnosis pasien yang menderita penyakit hepatitis dapat diketahui dari gejala-gejala yang muncul atau dialami oleh pasien dan faktor resiko yang dirasakan pasien. Center for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa sejumlah 200.000 hingga 300.000 orang (terutama remaja) terinfeksi oleh virus hepatitis B setiap tahunnya. Hanya 25% dari mereka yang mengalami ikterus, 10.000 kasus memerlukan perawatan di rumah sakit, dan sekitar 1-2% meninggal karena penyakit fluminant.
Masa inkubasi adalah selang waktu yang berlangsung antara paparan patogen atau bakteri atau virus hingga muncul gejala-gejala pertamakali. Masa inkubasi hepatitis A sekitar 14-49 hari, masa inkubasi hepatitis B sekitar 60-90 hari, masa inkubasi hepatitis C sekitar 2-24 minggu, masa inkubasi hepatitis D sekitar 21-45 hari, dan masa inkubasi hepatitis E sekitar 2-9 minggu.
Menurut Direktorat Jendral Kementrian Kesehatan RI (2012), virus hepatitis A ditularkan secara fesal-oral. virus hepatitis B apat ditemukan pada cairan tubuh penderita seperti darah dan produk darah, air liur, cairan vagina dancairan tubuh lainnya, sedangkan cara penularan hepatitis C yang paling umum adalah secara parenteral, yaitu berkaitan dengan penggunaan bersama jarum suntik yang tidak steril terutama pada penggunaan obat-obatan terlarang, tato, tindik, penggunaan alat pribadi bersama penderita, tranfusi dara, operasi, transplantasi organ, dan melalui hubungan seksual. Penyebaran penyakit hepatitis ini tergolong mudah, karena berkaitan dengan tidak kuatnya sistem sanitasi dan kebersihan diri.
Pencegahan Penyakit Hepatitis
Pencegahan hepatitis dapat dilakukan dengan vaksin hepatitis, namun sejauh ini baru tersedia vaksin untuk dua jenis virus hepatitis, yaitu hepatitis A dan hepatitis B, rutin mencuci tangan, hindari berbagi jarum suntik, tidak menggunakan alat kebersihan diri dengan orang lain, menjaga kebersihan diri dan lingkungan terutama kebersihan makanan dan minuman, membiasakan makan-makanan yang matang, menjaga kesehatan liver, dan kenali riwayat kesehatan keluarga sendiri.
Penanganan/Pengobatan Penyakit Hepatitis
Menurut Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Penanganan tergantung jenis hepatitisnya. Hepatitis virus dapat diobati dengan obat antivirus. Pengobatan yang dilakukan bisa secara farmakologi yaitu; Hepatitis A, hanya ada pengobatan pendukung dan menjaga keseimbangan nutrisi. Hepatitis B, obat untuk hepatitis ini yaitu Interferon alfa-2a, Peginterferon alfa-2a, Lamivudin, Adefovir, Entecavir, Telbivudin dan Tenofovir. Hepatitis C, kombinasi Pegylated interveron dan ribavirin. Hepatitis D, dengan obat Interferon seperti Prginterferon alfa-2a, selain itu, obat-obat untuk hepatitis B mungkin diperlukan. Mengingat hepatitis D dan bisa terjadi bersamaan. Hepatitis E, belum ada pengobatan antivirus.
Untuk mencegah dan mengobati penyakit hepatitis (antihepatitis) bisa juga menggunakan obat-obatan herbal antara lain Meniran (Phyllanthus Niruri, Linn), Temu Lawak (Curcuma Xanthorrhiza, Roxb), Mengkudu (Morinda Citrifolia, L) dan Pegagan (Centella Asiatica, L).
(Mala Aulia Sari adalah mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes Jawa Tengah)