Menerapkan Budaya Literasi Dalam Membentuk Generasi Kritis
--None--
Sabtu, 09/07/2022, 16:03:43 WIB

Budaya literasi adalah budaya yang harus dijunjung tinggi oleh kaum intelektual. Budaya literasi bagian dari suatu budaya di dalam masyarakat yang meliputi segala aspek usaha manusia yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Kemudian, literasi ini memiliki makna mengenai dengan proses atas kemampuan yang dihadapi dalam memahami dan bersikap terhadap pembiasaan dari aktivitas membaca dan menulis. 

Budaya literasi erat kaitannya dengan generasi baru khususnya dalam dunia pelajar dan mahasiswa sehingga dapat melahirkan generasi yang kritis. Namun, di Indonesia sendiri budaya literasi masih sangat minim berkembang di kalangan generasi. Maraknya permasalahan yang terjadi mengakibatkan budaya literasi ini luntur dan hilang begitu saja seiring dengan berjalannya waktu. Padahal dengan adanya budaya literasi bagi generasi bisa menjadikan diri pada generasi menjadi manusia-manusia yang berjiwa dan berpemikiran kritis.

Tingkat literasi yang rendah di Indonesia ini yang menjadi permasalahan sering terjadi, padahal sejatinya pentingnya budaya literasi ini dapat melahirkan generasi yang kritis. Dengan berliterasi dapat meningkatkan kecakapan tiap orang untuk berselancar dan membuka pikiran atas banyaknya pengetahuan yang bisa diperoleh melalui cakrawala dunia literasi. Adapun manfaat yang dihasilkan ketika generasi menerapkan budaya literasi, maka akan membentuk generasi yang kritis dari segi pemikiran, cerdas dan kreatif pula dalam berbagai hal.

Berpikir kritis adalah konsep untuk merespon suatu pemikiran yang diterima oleh seseorang. Banyak sekali manfaat yang didapat ketika menerapkan budaya berliterasi dikalangan generasi yaitu meningkatkan pengetahuan kosa kata, mengoptimalkan kinerja otak, meningkatkan kemampuan verbal, meningkatkan kemampuan analisis dan berpikir seseorang dan membantu meningkatkan daya fokus dan konsentrasi seseorang.

Dalam beberapa konteks literasi banyak membantu kehidupan manusia, literasi bukan hanya melibatkan proses membaca dan menulis saja. Dengan berliterasi bahkan seseorang dapat menyelesaikan segala permasalahan dengan berpikir logis dan sisematis, karena nyatanya literasi bukan hanya soal baca buku tetapi juga paham konten. Namun tidak dipungkiri nyatanya masih banyak kasus minimnya literasi di Indonesia ini, berbagai macam alasan seperti kurangnya ketersediaan buku dan fasilitas lain yang menunjang proses literasi, sampai hingga kesadaran individu akan pentingnya literasi.

Beberapa lembaga survei menyatakan fakta tentang rendahnya budaya literasi di Indonesia. Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan, pada tahun 2012 budaya literasi di Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negera yang disurvei. Pada penelitian yang sama ditunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara dalam kategori minat baca. Data Unesco menyebutkan posisi membaca Indonesia 0.001% artinya dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca. Hasil survei tersebut cukup memprihatinkan. Padahal, jika menilik dari budaya Negara maju, salah satu faktor pendorong terkuat adalah dari segi literasi. Jepang misalnya, menjadi salah satu negara dengan tingkat literasi tinggi, hal ini sudah di tanamkan masyarakatnya dengan gemar membaca buku.

Di zaman yang semakin berkembang ini kebutuhan akan informasi sudah seperti asupan bagi manusia, kita mulai dituntut untuk bisa berpikir kritis dalam menerima segala informasi. Karena minimnya tingkat literasi ini terkadang membuat manusia hanya bisa menerima tanpa menyerap terlebih dahulu informasi tersebut untuk mencari kebenarannya. Inilah kenapa berpikir kritis sangat penting dan erat kaitannya dengan literasi. Dengan berliterasi seseorang sudah memiliki fondasi untuk mengolah dan melengkapi isu ataupun hoax yang sering beredar.

Dengan demikian budaya literasi memegang peranan penting bagi generasi untuk bisa berpikir secara kritis dan objektif serta seadil mungkin terhadap suatu isu atau topik. Dengan berpikir kritis juga seseorang dapat menganalisis segala faktor dan argumen atau point of view dengan sudut pandang yang lebih luas. 

(Navarotul Azkiya adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. E-mail: navarotulazkiya@gmail.com)