![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Komunitas Sastrawan Tegalan (KST) tak pernah kehabisan forum untuk menggelar sebuah moment pagelaran pementasan acara kesenian, baik diskusi, kongres, pemutaran film, maupun pembacaan puisi.
Kamis malam Jumat 7 Juli 2022, sebuah acara kesenian digeber bukan di sebuah gedung, auditorium, melainkan justru di sebuah kedai.
Dengan mengambil thema “Maca Segepok Puisi”, Komunitas Sastrawan Tegalan bekerjasama dengan “Termopolium” atau yang sering kita kenal sebuah kedai, menggelar pementasan baca puisi dwi Tegalan dan Indonesia.

Dua penyair Apito Lahire dan Dyon Dyonk didapuk menjadi tokoh penyair untuk membacakan beberapa puisi dua bahasa di hadapan para pengunjung kawasan kuliner yang ada di wilayah Slawi. Mereka sengaja disandingkan oleh panitia penyelenggara untuk beradu kemahiran masing-masing dalam performance pembacaan puisi.
Malam itu, acara menampilkan dua penyair itu digelar di kawasan Kuliner Ki Gede Sebayu, Jalan Wahidin Hasim No. 4 depan SMAN 1 Slawi, Kabupaten Tegal. Dengan menggandeng Komunitas Sastrawan Tegalan, penyelenggara Termopolium Tuan Besar Coffee, mengusung acara tersebut.
Malam itu puluhan puisi dwi bahasa Tegalan dan Nasional berkumandang dari pukul 19.30 hingga tengah malam saat para penyair dari Tegal, ibu rumah tangga, Ki Dalang, dan para penonton dari kawasan itu menyaksikan jalannya pagelaran.

Sebagai pembuka acara sebelum dua tokoh penyair Apito Lahire dan Dyon Dyonk membacakan beberapa puisi mereka, tampil Ki Dalang Anton Surono dengan membawakan puisi Tegalan berjudul “Bumijawa Mulad” karya Lanang Setiawan. Puisi Tegalan ini bercerita tentang pertempuran antara para pejuang kemerdekaan melawan pasukan Belanda yang terjadi di Bumijawa pada tahun 1947:
//Kontak senjata pecah/landa karo para pejuang adu cepet/gerombolan landa kocar-kacir/puluhan para kafir klojotan/dibrondong, dibacok uga dicéngkrong/getih kécrét nang endi paran/mayid para kafir pating blangsak...//
Usai pembacaan puisi tersebut, tampil Amik Sri Narwati Surono membacakan sajak “Perkawinan” karya M. Enthieh Mudakir. Beberapa penyair Tegal yang lain, mengapresiasi acara yang baru pertama kali diusung di Termopolium Tuan Besar Coffee begitu bersemangat dan bernas. Beberapa puisi dwi bahasa baik karya sendiri maupun karya orang lain menggentak malam semakin merayap. Wahyu Ranggati yang sehari-harinya dikenal sebagai penari menyempatkan membacakan puisi Tegalan berjudul “Wis Ana Sing Ngatur” karya Dyon Dyonk.

Giliran dua tokoh penyair Apito Lahire dan Dyon Dyonk saling baku melambungkan puisi-puisinya di hadapan pengunjung dan para pedagang di sekitar kawasan kuliner. Penyair Apito Lahire menampilkan dua sajak Tegalan.
Sajak yang pertama membahana berjudul “Kipat Kipit Kepot”, disusul membawakan puisi “Plostomo”. Kali ini Apito mengundang Wahyu Ranggati untuk mendampingi performance tarian seperti burung-burung melayang-layang. Selepas itu Apito pun menyalakkan satu puisi nasional karya sendiri.
Sementara penyair Dyon Dyonk tampil membawakan puisi bertajuk “Kehilangan” karya Otto dalam bahasa nasional. Sedang yang puisi Tegalan yang ia bacakan berjudul “Reg” disusul pembacaan puisi Tegalan “Suluk Srang-Srangan” karya sendiri
Malam itu baik Apito Lahir maupun Dyon Dyonk, menjadi sebuah pernyataan bahwa performance mereka tidak saja mahir dalam membaca puisi nasional, melainkan piawai juga mbacakan puisi-puisi Tegalan. Hal ini pun ditegaskan oleh Ki Anton Surono dan Atmo Tan Sidik.
Menurut mereka penampilan Apito dan Dyon Dyonk cukup prima dan dapat menjadi contoh generasi muda yang ingin mendalami pembacaan puisi Tegalan maupun nasional.
“Mereka layak menjadi panutan generasi muda yang akan mendalami pembacaan puisi,” ujar Ki Anton Surono yang diamini Atmo Tan Sidik.
Menjelang akhir pagelaran, tampil penyair Tegalan Mohammad Ayyub membawakan puisi “Laut Emas”. M. Enthieh Mudakir melambungkan dua puisi berbahasa Indonesia berjudul “Di Televisi” dan “Membaptis”.
Penyair Musabbih yang biasanya hanya membacakan puisi nasional. Untuk malam ini langsung membawakan dua puisi sekaligus. Untuk tampilan pertama ia membacakan puisi Tegalan berjudul “Laku Sukma Maca Jiwa” karya alm Dwi Ery Santoso, disusul membawakan “Surat Sore Hari” dalam bahasa Indonesia karya sendiri.
Sementara itu Atmo Tan Sidik membacakan puisi Tegalan berjudul “Ngudar Piwulang Ning Jumat Kliwon” dan puisi yang menggunakan bahasa Indonesia. Pungkas acara muncul Nindra membacakan puisi berjudul “Iqro” karya M. Enthieh Mudakir.
Ginanjar selaku pemilik “Termopolium Tuan Besar Coffee merangkap ketua panitia penyelenggara, dalam sambutannya menuturkan, bahwa ia sengaja menyelenggarakan acara itu dikandung maksud agar Sastra Tegalan kian berkibar dan dikenal di masyarakat Slawi khususnya generasi muda milenial.
“Tujuan kami hanya satu, agar puisi Tegalan terus berkibar dan anak-anak muda milenial tahu bahwa di Tegal, tidak sedikit penyair yang berkiprah di khasanah puisi lokal yang sudah dicuatkan sejak tahun 1994 ketika muncul puisi Tegalan “Tembangan Banyak” yang diambil dari puisi berjudul “Nyanyian Angkasa” karya WS. Rendra yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tegalan oleh Lanang Setiawan,” ujarnya yang bertekat akan menyelenggarakan pentas-pentas seni lokal.
Malam itu ternyata betul-betul menjadi sebuah peringatan yang sangat istimewa bagi Ki Anton Surono dan Penyair Musabbih. Karena apa? Kebetulan saja pada malam itu bertepatan dengan “Hari Ulang Tahun” pernikahan mereka. Ki Anton berulang tahun pernikahannya yang ke-31 tahun. Sedangkan penyair Musabbih berulang tahun pernikahannya yang ke-10.