![]() |
|
|
DPR terus mendorong untuk menjadi Bahasa Internasional di tahun 2045...
PanturaNews (Jakarta) - Sebagai upaya legalitas dalam mensinergikan Internasionalisasi Bahasa Indonesia, DPR RI melalui Komisi X terus mendorong Badan Bahasa Kemendikbud Ristek agar lebih gencar mengkampanyekan program literasi.
Hal itu dikatakan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dr. H. Abdul Fikri Faqih pada Webinar Internasionalisasi Bahasa Indonesia sebagai bahasa Asean yang diselenggarakan KBRI London, didukung Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), Afiliasi Pengajar dan Pegiat Pipa Inggris, kemarin.

Webinar sekaligus meluncurkan buku Bahasa Indonesia sebagai bahasa Asean yang ditulis oleh 11 penulis, pemerhati sastra dan sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunai Darisalam. Moderator dibawakan Doroty Ferari, Ketua Afiliasi Pengajar dan Pegiat Pipa Inggris.
“DPR terus mendorong pemerintah untuk pemantapan peta jalan menuju Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Internasional pada tahun 2045,” ujar Politisi PKS dari Dapil Jawa Tengah IX (Kota-Kab. Tegal dan Brebes) ini.
Selain itu, kata Fikri, DPR melaui Komisi X mendorong dalam penerapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan, dan sebagai bagian dari pelajaran wajib di dalam kurikulum.
“Kami sepenuhnya mendukung untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional,” tegas Fikri.
Namun menurutnya, masih ada tantangan internal dalam internasionalisasi bahasa Indonesia, seperti adanya dominasi bahasa lain yang lebih populer, yakni penggonaan di media, penggunaan pada nama produk lokal, dan lunturnya bahasa Indonesia dengan munculnya bahasa gaul.
Sementara untuk posisi strategis internasionalisasi bahasa Indonesia, dijelaskan Fikri bahwa dari hasil Seminar Forun Guru Besar Bahasa Indonesia, yakni Bahasa Indonesia telah memenuhi persyaratan sebagai bahasa internasional, karena saat ini sudah diajarkan di 45 negara.
“Bahasa Indonesia memiliki ratusan ribu kosa kata,” tuturnya.
Selain itu, jumlah penutur di Indonesia lebih dari 267 juta orang, dan Bahasa Indonesia dipahami dengan baik oleh jutaan orang di berbagai negara, terutama negara-negara Asean.
“Hal itu karena bahasa Indonesia diproyeksikan akan menjadi bahasa pengantar dalam kegiatan perekonomian penting, sehingga dipelajari oleh berbagai negara,” ungkapnya.
Indonesia, lanjutnya, terletak di Asia Pasifik yang memiliki geopolitik strategis dalam interaksi global, dan memungkinkan berperan besar dalam panggung internasional.
“Kata Bung Karno, seperti ditulis peneliti geopolitik bahwa orang yang tidak tahu tentang posisi kita secara geopolitik, orang itu tidak bisa mengembangkan negaranya,” ucap Fikri.
Lebih lanjut diuraikan,potensi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional, itu juga didasari bahwa Indonesia memiliki posisi strategis di Asean. Dimana populasi penduduk Indonesia di Asean paling besar yaitu 40,89 persen. Karena itu Bahasa Indonesia merupakan bahasa dengan jumlah penutur paling banyak di Asean.
“Sehingga menjadikan bahasa Indinesia sebagai bahasa Asean, adalah langkah strategis dalam menjadikanya sebagai bahasa diplomasi dan perdagangan internasional,” tandas Fikri.