![]() |
|
|
...satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tapi satu tulisan kebaikan mampu menembus jutaan kepala...
PanturaNews (Tegal) - Urusan menerbitkan buku bukan monopoli para sastrawan. Di Tegal, urusan berkarya membukukan apa saja itu terbuka buat siapapun.
Seperti halnya figur seorang ustadz H. Edi Priyono, kelahiran Tegal, diam-diam telah menerbitakan buku bertajuk “Saat Kau Memberi Kau Akan Menerima”. Buku itu baru terbit di bulan ini yang diterbitkan oleh Jamiyyah Ishlakhussalam.

Menurut Ustadz Edi, buku ini merupakan kumpulan tulisan yang ia himpun pada akun Facebook-nya. Dengan menyikapi bahwa peradaban dunia diawetkan oleh tradisi tulis para sahabat nabi serta para ulama, tanpa pikir panjang ia pun mewujudkannya dalam format buku.
Pemberian judul buku “Saat Kau Memberi Kau Akan Menerima” itu sengaja dipilih, semata-mata untuk menegaskan bahwa sodaqoh itu bukan sebuah kerugian, karena pada saat yang sama, si pemberi sodaqoh pada fakir miskin telah menerima pahala besar dari Yang Maha Kuasa.
“... Banyak orang takut didatangi fakir miskin. Sebab logika berpikirnya kedatangan fakir miskin hanya merepotkan, lantaran dipastikan mau minta bantuan. Padahal sebenarnya kitalah yang butuh mereka.

Sabda Nabi SAW, “Perbanyaklah berkenalan dengan orang-orang fakir miskin dan berbudilah kepada mereka. Sebab mereka di hari kiamat akan menerima kekuasaan.”
Sahabat bertanya, “Apakah kekuasaan mereka, Yaa Rasulullah?” Dikatakan pada mereka, perhatikan siapa yang dahulu pernah memberimu makanan, minuman, pakaian. Peganglah tangannya dan tuntunlah ke surga: Kalau kita didatangi fakir miskin, tandanya Allah sudah mempersiapkan kita untuk bisa membantu,” ujarnya yang mengutip dari isi bukunya pada hal 71-72.
Mengapa ia menulis? Ustadz Edy menegaskan bahwa, satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tapi satu tulisan kebaikan mampu menembus ribuan bahkan jutaan kepala.
“Dengan menulis dan membaca bertambahnya ilmu bermanfaat. Engkau akan mendapatkan ide-ide dan gagasan baru, juga inspirasi positif dari hobi menulis dan membaca itu sendiri. Dengan menulis orang di masa yang akan datang tahu, bahwa engkau pernah hidup di masa lalu, dan engkau adalah apa yang engkau baca,” tuturnya.
Baginya, manfaat menulis dan membaca adalah sebuah keuntungan cukup besar. Selain memang untuk mengasah otak, lebih penting lagi sebagai warisan literasi untuk generasi mendatang.
Buku yang ditulis sang ustadz ini sangat permanfaat. Di dalamnya banyak nasehat hidup untuk direnungkan dan menambah khazanah ilmu bermanfaat. Buku dengan kata penyantar Atmo Tan Sidik ini, diharapkan dapat dimiliki siapapun, karena isi daripada buku itu sarat kedalaman kebajikan dan nasehat, agar perjalanan hidup seseorang lebih menitik beratkan pada laku manfaat.
“Semoga buku perdana Ustadz Edy Priyono ini menghadirkan pendekatan yang humanistik dan agamawi, karena memang yang kita perjuangkan adalah terbangunnya masyarakat madani, dudu masyarakat sing medeni,” ujar Atmo pada akhir pengantar buku itu.
Kapan buku ini dilanching? Menurut penulisnya, buku ini jauh sebelum terbit sudah habis dipesan.
“Insya Allah pada cetak ulang, buku secepatnya dilanching, didiskusikan, dan dibedah,” pungkasnya.
Ustadz Edi Priyono pernah menjadi anggota DPRD Kota Tegal tahun 1999-2004, Ketua MUI Kota Tegal, Kecamatan Tegal Barat tahun 2020-2023, dan lain sebagainya. Kini ia menjabat Ketua RW 08 Kelurahan Tegalsari, Kota Tegal periode tahun 1999-2025.