Mencetak Generasi Berbudi Luhur Dimulai Dari Pola Asuh Yang Tepat
--None--
Sabtu, 15/01/2022, 12:03:30 WIB

JIKA manusia diberikan pilihan untuk menetukan lingkungan tempat tinggalnya, tentunya setiap manusia ingin memilih lingkungan yang damai, tentram, dan penuh kebahagiaan, dimana interaksi sosialnya berjalan baik tanpa adanya permusuhan atau permasalahan, hanya ada cinta dan kasih sayang.

Namun, apakah lingkungan tersebut sudah tersedia begitu saja? Tentunya tidak, setiap manusia harus berusaha untuk mewujudkan itu.

Untuk mewujudkan lingkungan sosial yang baik, bergantung pada setiap individu yang tinggal dilingkungan tersebut. Jika mayoritas karakter dari setiap individunya berbudi luhur maka mampu mewujudkan lingkungan sosial yang baik. Berbudi luhur merupakan istilah dalam masyarakat jawa yang berarti segala etika, tata krama, tata susila, dan perilaku baik dalam pergaulan dan kehidupan sehari-sehari.

Untuk membentuk karakter yang berbudi luhur setiap manusia tentu perlu belajar, belajar memang bisa didapatkan dari mana saja, seperti di sekolah, lingkungan, dan sumber belajar lainnya, namun yang paling utama dalam pembentukan karakter adalah pola asuh yang diberikan oleh orang tua. Karena pertama kali manusia bisa berintarksi sosial adalah dengan orang tuanya.

Pola asuh adalah suatu proses yang ditujukan untuk memberikan pembelajaran kepada sang anak. Ada tiga jenis pola asuh, yang pertama yaitu Pola asuh ototiter merupakan pola asuh yang bersifat hukuman, tuntutan, dan cenderung memaksa sesuai dengan keinginan orang tua. Kemudian pola asuh permissive, dimana orang tua mendidik anaknya secara bebas, anak dianggap sudah dewasa dan diberi kelonggaran seluas-luasnya apa yang dikehendakinya.

Dan yang terakhir adalah pola asuh demokratis, merupakan pola asuh yang memberikan pengakuan terhadap kemampuan sang anak, anak diberi kesempatan untuk mengembangkan dan berpartisipasi dalam mengatur hidupnya. Setiap jenis dari pola asuh tersebut tentu memiliki dampaknya masing-masing, baik itu dampak positif maupun dampak negatif.

Penerapan pola asuh yang baik adalah dengan menerapkan ketiga jenis pola asuh tersebut secara fleksibel, jadi tidak hanya menerapkan satu pola asuh saja. Orang tua harus mampu memahami psikologi perkembangan, kondisi, dan situasi yang dialami oleh anaknya.

Contoh kecilnya ketika sang anak melakukan tindakan yang melanggarar aturan hukum dan dapat menyakiti orang lain, maka dari orang tua berhak menerapkan pola asuh yang otoriter. Pola asuh demokratis juga perlu diterapkan untuk memberikan kehangatan dalam keluarga pada sang anak. Dan pola asuh permissive diterapkan tatkala anak sudah benar-benar dewasa baik secara usia dan sikapnya.

Namun pada kenyataannya masih banyak orang tua yang hanya menerapkan satu jenis pola asuh saja, hal ini dapat membuat kepribadian anak yang kurang baik. Seperti di Indonesia sendiri tidak sedikit orang tua yang masih menggunakan pola asuh otoriter saja, atau pola asuh permissive di usia yang belum tepat. Yang mengakibatkan kepribadian anak yang tidak terbentuk secara baik bahkan sampai pada kenakalan remaja.

Kenakalan remaja ini sering sekali diresahkan oleh maysarakat, menjadi ketakutan, dan kekhawatiran dalam lingkungan sosial. Bentuk kenakalan remaja yang sering terjadi di Indonesia adalah tawuran, narkoba, seks bebas, bahkan sampai pada tindak kriminalitas pembunuhan.

Sudah banyak sekali berita-berita yang mengabarkan tindak kenakalan remaja di Indonesia, sebagai contohnya pada kasus Gaga Muhammad seorang selebgram yang cukup terkenal, dia menyetir kendaraan disaat kondisi sedang mabuk hingga menyebabkan kecelakaan. Dan masih banyak lagi kenakalan remaja dan tindak criminal lainnya.

Tidak hanya kenakalan remaja, perilaku yang tidak sopan dan tidak adanya tata karma juga menjadi kerisauan dalam masyarakat, banyak masyarakat yang mengeluhkan akan hal tersebut, tanpa mereka ketahui bahwa sebagian dari mereka jugalah yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya.

Pola asuh yang terlalu otoriter dapat menyebabkan anak menjadi depresi karena tidak ada pilihan dalam hidupnya dan jika depresi tersebut dibiarkan bisa menjadikan karakter seseorang yang selalu memberontak, demi untuk mencari kebahagiaannya sendiri dengan mecari pilihannya didunia luar tanpa adanya pengawasan.

Dan untuk pola asuh yang terlalu permissive diwaktu yang kurang tepat tanpa diimbangi dengan pola asuh lainnya, pola asuh tersebut dapat membentuk karakter anak yang terlalu bebas tidak memahami aturan dan bertindak sesuka hati tanpa mengetahui dampaknya terhadap orang lain.

Jadi untuk menciptakan lingkungan sosial seperti yang diimpikan, dimana penuh suka cita dan kedamaian, maka setiap orang tuapun harus berusaha untuk mewujudkannya dengan menerapkan pola asuh yang tepat, yaitu pola asuh yang fleksibel sesuai dengan psikologi perkembangan sang anak.

Orang tua memang harus mampu berpikir yang luas dan berpengetahuan yang cukup dalam mendidik anak, demi untuk menciptakan generasi yang berbudi luhur.