![]() |
|
|
HARGA pupuk pupuk dan obat-obatan pertanian melonjak naik, sedangkan harga hasil pertanian anjlok. Para petanian pun mempertanyakan apa yang melatarbelakangi mahalnya harga pupuk itu.
Tidak sebandingnya harga pupuk yang tinggi, dan harga hasil panen yang turun, dikeluhkan para petani di wilayah Kayu Aro, Kayu Aro Barat, dan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.
Dikatakan salah satu warga Kayu Aro, Ninda (23) saat wawancara dengan penulis, bahwa saat ini harga kentang yang biasanya Rp 8000 kini hanya menjadi Rp 5000 per kilogram.
Sedangkan harga pupuk dan obat-obatan semuanya melonjak tinggi. Fungisida jenis herbisida Basmilang, biasanya dijual di pasaran Rp 75.000 kini menjadi Rp 105.000, dan pupuk NPK 16-16-16 biasanya hanya Rp 580.000 kini tembus menjadi Rp 650.000.
“Harga pupuk dan harga hasil panen tidak sebanding, sehingga petani mengalami kerugian,” ungkap Ninda kepada penulis, Minggu 5 Desember 2021.
Seluruh petani di Kabupaten Kerinci, hhususnya di daerah yang mayoritas penduduknya adalah petani seperti di wilayah Kayu Aro, Kayu Aro Barat dan Gunung Tujuh mengeluh karena murahnya hasil panen tidak sebanding dengan harga obat dan pupuk di pasaran.
Sekali belanja obat untuk pertama kali tanam, biasanya hanya tembus Rp 1.000.000-an kini hampi Rp 2.000.000. Entah apa yang melatarbelakangi mahalnya harga obat-obatan dan pupuk kimia, dan harga pupuk subsidi pun saat ini ikut melonjak.
Kepada penulis, beberapa petani berharap harga hasil panen sebanding dengan harga pupuk dan obat-obatan di pasaran. Dengan demikian, petani akan mendapatkan hasil yang memuaskan dan sebanding dengan modal yang telah di keluarkan.
