![]() |
|
|
DAHULU kala, nenek moyang Indonesia dari berbagai daerah dengan suku dan budaya memiliki beragam keahlian dan kegiatan atau acara kebudayaan masing-masing.
Selain itu, masing-masing daerah juga memiliki beragam kreatifitas kerajinan tangan yang bisa berbentuk barang untuk digunakan sebagai alat bantu manusia, seperti peralatan memasak, peralatan berburu, peralatan adat, dan lain sebagainya.
Misalnya di tanah Jawa, nenek moyang orang Jawa pada zaman dahulu memiliki upacara adat ‘Slametan’ yakni kegiatan berdoa bersama untuk mendoakan keselamatan suatu hal, baik keselamatan diri, suatu barang, maupun bumi. Diadakan dengan menyediakan banyak makanan yang nantinya di makan bersama-sama dan dibagi-bagikan.
Lalu, untuk kreatifitas nenek moyang orang Jawa pada zaman dahulu, mereka suka membuat alat-alat dari bambu dengan tangan mereka sendiri, seperti tampah, cempeh, sumbul, ceting, capon, tumbu, toblok/piti, irig, keranjang, kemanak, kukusan, kekeb, dan lain-lain. Selain itu, juga ada kerajinan dari tanah liat seperti tungku, dandang, belanga, wajan, kendi, tempayan/genthong, cobek, dll (Surani, 2015).
Tak hanya yang terbuat dari bambu dan tanah lihat, yang terbuat dari kayu dan material lain juga banyak seperti parutan dari kayu, munthu/ulekan dari kayu, irus, centong dari kayu, dan masih banyak lainnya.
Alat-alat tradisional tempo dulu merupakan alat yang dibuat dengan tangan menggunakan bahan-bahan alami dari alam sehingga ramah lingkungan. Seni dari si pengrajin juga terdapat di dalamnya. Tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan mengesankan keasrian tempo dulu. Dahulu kala, masyarakat Jawa sangat senang menggunakan dan membuat alat-alat tersebut.
Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, keberadaan mereka pelan-pelan tergusur oleh modernisasi. Alat-alat dapur tergantikan oleh yang berbahan plastik buatan pabrik. Orang-orang lebih suka membeli itu daripada alat-alat tradisional karena dinilai lebih murah.
Sedikitnya minat pembeli membuat para pengrajin alat tradisional pun beralih profesi. Sehingga kini tidak banyak lagi pengrajin yang memproduksi alat tradisional. Lalu, hal itu pun berdampak pada generasi penerus pengrajin alat tradisional. Jika dahulu kala, para orang tua akan menurunkan seni membuat kerajinan alat tradisional kepada anak-anak mereka dan kemudian dilestarikan oleh generasi penerusnya dengan bangga.
Lain dengan masa kini. Banyak anak-anak yang enggan belajar membuat alat tradisional dari orang tua mereka. Alasannya beragam, terlalu sulit, malas, butuh waktu yang lama, hingga pada alasan bahwa membuat kerajinan alat tradisional tidak bisa menghidupi mereka. Tentu karena peminatnya memang jauh berkurang daripada tempo dulu.
Dinamika pergeseran budaya terus terjadi sampai alat-alat tradisional hampir hanya bisa dijumpai di tempat-tempat khusus kebudayaan seperti museum, sanggar, pondok, dan lain-lain. Di rumah-rumah warga, bisa sudah jarang sekali yang masih menggunakan alat-alat tradisional. Apalagi setelah kehadiran kompor gas yang menggeser adanya tungku.
Orang-orang memilih hal yang lebih praktis, seperti kompor gas yang tidak perlu menyiapkan kayu dan menjaga api agar tetap menyala, dan masih banyak lagi contoh pergeseran kebudayaan lainnya.
Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Anak-anak sudah banyak terpengaruh oleh budaya luar tanpa bisa menyaring apa yang boleh diserap dan apa yang tidak boleh. Pola pikir yang mulai berubah, pendidikan yang belum memadai, sehingga banyak anak tidak bisa berpikir mengenai hal-hal urgensial tentang budaya mereka yang mulai luntur. Jika bukan generasi sekarang yang melanjutkan budaya nenek moyang mereka, lantas hendak siapa lagi? Namun, jarang yang berpikir demikian.
Akibat dari pola pikir itu, kini hanya tersisa sedikit orang yang melestarikan budaya mereka. Lalu, banyak budaya yang berangsur punah. Miris bukan? Apakah generasi sekarang ingin generasi-generasi berikutnya bahkan tidak tahu tentang adanya budaya nenek moyangnya?
Jika saat ini saja sudah sedikit yang mau melestarikan budaya sendiri, bagaimana dengan 10 tahun yang akan datang? Jika pola pikirnya tidak dirubah maka era kepunahan budaya akan benar-benar ada. Maka generasi muda, ingatlah budaya kita sendiri, belajarlah dari orang-orang tua yang masih bisa mengajari.
Jangan sampai mereka tiada dan tak ada lagi yang bisa mengajari kita kebudayaan milik sendiri. Jangan tunggu nanti. Sebab usia manusia tidak bisa diperpanjang untuk menunggu keniatan kita datang. Belajarlah sekarang. Jangan sampai budaya kita hilang. Kitalah yang bertugas untuk menjaga dan melestarikan budaya kita.
Alangkah baiknya jika ada gerakan pelatihan membuat kerajinan tradisional yang digagas oleh suatu lembaga baik dari pemerintahan maupun swasta yang menarget generasi sekarang dan mendatang dengan menghadirkan orang tua yang masih bisa mengajarkan.
Kemudian, dilakukan produksi serta distribusi untuk alat-alat tersebut bukan hanya di satu atau dua tempat tetapi di masing-masing daerah sehingga bukan hanya segelintir orang yang bertugas melestarikan budaya tetapi banyak orang yang bergerak. Maka kebudayaan mungkin bisa terselamatkan untuk tetap lestari.
