![]() |
|
|
MEMBACA merupakan kegiatan yang dapat membawa manusia memahami dan mengenal banyak hal. Dengan banyak membaca, maka akan banyak pula pengetahuan yang didapat. Kemauan dan kemampuan membaca seseorang akan memengaruhi kemampuan dan keterampilannya.
Semakin banyak membaca maka dapat dipastikan akan semakin banyak tahu dan bisa melakukan berbagai hal, artinya banyaknya pengetahuan seseorang akan membantu dirinya dalam melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak dikuasainya, sehingga seseorang yang banyak membaca memiliki kualitas yang lebih di banding dengan orang yang sedikit membaca.
Meningkatkan minat baca mau tak mau kini sudah sangat diperlukan. Keadaan dunia yang semakin mengglobal secara tidak langsung telah memaksa kita untuk mempertajam pengamatan kita terhadap informasi-informasi yang beredar. Selain itu, keadaan ini juga telah menuntut kita untuk memperbaiki kualitas diri. Salah satu kunci untuk mencapai beberapa poin tersebut adalah dengan membaca.
Semenjak mayoritas masyarakat Indonesia terkena wabah Covid-19 dan membuat pemerintah menetapkan sebuah keputusan untuk memberhentikan kegiatan belajar mengajar di sekolah melainkan digantikan dengan kegiatan belajar dirumah atau home work. Hal ini menciptakan skema pembelajaran yang tidak efektif bagi siswa, dapat dibuktikan dengan banyak siswa yang memanfaatkan kegiatan belajar di rumah untuk bersantai-santai dan bermain game online.
Dari hal tersebut menjadi alasan lunturnya minat baca para siswa, kurangnya kesadaran di dalam diri pendidik untuk bagaimana caranya menerapkan pembelajaran yang efektif meskipun kegiatan tersebut dilakukan di rumah masing-masing, padahal teknologi sekarang sudah semakin canggih, terbukti dengan terciptanya aplikasi Google Zoom, Google Meeting yang jelas fungsinya adalah untuk mengefektifkan kegiatan belajar mengajar di rumah.
Penurunan minat baca terjadi karena adanya perubahan terhadap cara membaca pada masa pendemi Covid-19. Jika pada pembelajaran secara tatap muka, siswa bisa melakukan aktivitas baca di sekolah dan di perpustakaan, pada masa pandemi Covid-19, siswa tidak bisa melakukan itu. Ini terjadi karena adanya pembatasaan-pembatasan selama pandemi.
Ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Sunarti, Mudjiran dan Gusmanti (2021). Hasil penelitian mereka menunjukan bahwa pandemi Covid-19 memberi dampak langsung kepada siswa khusunya pada kegiatan pembelajaran, seperti membaca. Kegiatan membaca siswa menurun akibat pembelajaran secara daring.
Guru tentunya sudah menyiapkan berbagai macam cara, model, strategi, bahkan membuat media pembelajaran semenarik mungkin melalui berbagai platform yang mudah diakses oleh siswa. Diharapkan dengan begitu siswa akan tetap merasa tertarik dan nyaman dalam belajar.
Sedangkan di rumah, bahan bacaan sangat terbatas. Tidak banyak buku, majalah, bahan bacaan lain yang tersedia di rumah. Kurangnya kesadaran siswa untuk memanfaatkan gawai kepada ranah yang lebih bermanfaat, kebanyakan siswa menggunakannya hanya untuk bermain sosial media (Instagram, Tiktok). Padahal pemerintah sudah memberikan akses baik dalam dunia pembelajaran secara daring, contohnya adalah aplikasi perpustakaan online (https://www.eperpus.com/home/).
Orang tua sangat dituntut untuk berperan dalam sistem belajar di rumah, karena bagaimanapun juga orang tua adalah guru pertama untuk anak dan sangat diharapkan untuk bisa mengawasi anak. Dalam hal ini orang tua harus menanamkan nilai kedisiplinan yang tinggi kepada anak karena guru tidak bisa mengawasi seperti kegiatan pembelajaran di sekolah seperti biasanya.
Hal lain yang memengaruhi minimnya minat baca siswa adalah kurangnya motivasi dalam membaca, padahal di zaman yang serba digital ini seharusnya siswa lebih mudah mengakses media untuk membaca karena tidak selalu harus ke perpustakaan untuk membaca buku, bisa saja di rumah membaca dengan menggunakan gawai.
Kemudian faktor lingkungan, jelas ini sangat berpengaruh kepada pudarnya minat baca siswa khususnya di Indonesia. Kebanyakan anak sekarang ketika berkumpul dengan teman-temannya hanya untuk bermain game online bersama-sama, siklus pertemanan yang seperti inilah yang berpengaruh besar dalam pudarnya minat baca. Kemudian orang tua yang terlalu memanjakan anak-anaknya alhasil si anak lebih suka bersantai-santai bermain gawai untuk game online bukan untuk belajar di rumah.
Pada kenyataanya, penggunaan telepon pintar untuk pembelajaran dirasa kurang efektif, diantaranya orang tua yang tidak bisa selalu mengawasi anaknya dalam belajar (Adnan & Anwar, 2020; Fauzi & Khusuma, 2020; Pei & Wu, 2019). Hal ini terjadi karena kurangnya kontrol atas penggunaan telepon pintar siswa sekolah dasar. Orang tua cenderung lelah ketika harus mendampingi anaknya belajar melalui gawai. Apalagi untuk orang tua yang sehari-harinya bekerja. Artinya kontrol tersebut tidak maksimal dilakukan.
Kurangnya dukungan orang tua terhadap penyediaan buku bacaan di rumah. Beberapa orang tua menganggap tidak begitu perlu untuk membeli buku di luar buku pelajaran yang sudah ada, karena merasa anak sudah tercukupi dari buku pelajaran saja. Selama ini masih banyak orang tua yang menganggap membaca buku bukan kegiatan yang penting untuk perkembangan belajar anak, ketika anak hanya membaca buku sekadarnya tanpa memhami lebih lanjut, orang tua terkesan membiarkan dan tidak terlalu mementingkan.
Seharusnya pendidik dan orang tua itu bekerja sama agar anaknya dapat mengikuti pembelajaran selayaknya di dalam sekolah. Setidaknya siswa sadar bahwa tugasnya adalah belajar, bahkan tidak hanya siswa, orang tua pun belajar untuk bertanggungjawab atas anaknya. peran orangtua di program ini cukup besar. Ada indikasi kuat bahwa siswa berusaha agar orang tuanya mengambil peran sebagai guru di rumah saat pembelajaran daring.
Anak-anak yang biasa melihat guru membaca buku di kelas setiap hari menuntut orang tuanya melakukan hal serupa di rumah. Sedangkan untuk dukungan dari orang tua, guru perlu mengedukasi orang tua tentang pentingnya kegiatan membaca bagi perkembangan anak dalam kegiatan belajar karena dimasa pandemi seperti ini, peran orang tua sangat penting demi kelancaran kegiatan belajar.
Orang tua harus mulai membuka hatinya dan berusaha untuk peduli dengan budaya membaca anaknya. jika orang tua masih acuh akan minat baca anaknya, maka si anak tidak akan menjadi generasi militan yang memiliki pengetahuan yang luas.
Tidak hanya untuk jenjang SD, SMP, SMA seperti kuliah pun sama orang tua harus lebih menekankan kepada anaknya sebagai mahasiswa untuk terus giat dalam belajar, pendidik harus terus menekankan kepada mahasiswanya agar memiliki sifat tanggung jawab dan sadar akan masa depannya.
(Aditya Budi Nugraha adalah Mahasiswa program setudi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Aditya yang tinggal di Desa Kedungbanteng, Paguyangan, Kabupaten Brebes ini menyukai dunia puisi dan musik)