Implementasi Pembelajaran Tatap Muka Pascapandemi
--None--
Selasa, 26/10/2021, 13:03:18 WIB

PADA akhir 2019 dunia digegerkan dengan ditemukanya virus baru di negara Cina, yaitu Virus Corona. Virus Corona atau Corona Virus Disease (Covid-19) menyebar di Indonesia pada awal tahun 2020.

Virus ini menyerang sistem pernapasan dan virus ini mudah menular. Orang yang terpapar virus ini akan mengalami gejala sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung tersumbat, bersin, batuk, demam, dan kelelahan.

Pada masa pandemi Covid-19, pemerintah menghimbau masyarakat untuk berkegiatan dirumah, hal ini terjadi karena penularan virus yang begitu cepat dan mempunyai risiko.

Pada 17 Maret 2020, Mentri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim mengeluarkan surat edaran tentang pembelajaran secara daring, dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

Tertulis pada nomer empat a dan b, bahwasanya pemberlakukan pembelajaran secara daring dari rumah bagi siswa dan mahasiswa; pegawai, guru, dan dosen melakukan aktivitas bekerja, mengajar atau memberi kuliah dari rumah (Bekerja Dari Rumah/BDR) melalui video conference, digital documents, dan sarana daring lainnya. Sebagai informasi, berbagai lembaga penyedia telah bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, menyediakan sarana pembelajaran daring secara gratis.

Semenjak adanya surat edaran tersebut maka kegiatan belajar mengajar pun dilakukan secara daring atau pembelajaran jarak jauh. Siswa bersekolah dirumah melalui media elektronik seperti handphone, TV, dan laptop yang diawasi oleh orang tua masing-masing siswa. Pembelajaran jarak jauh atau daring merupakan hal baru bagi siswa kala itu, siswa harus beradaptasi dengan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh karena mau tidak mau pembelajaran jarak jauh harus dilakukan.

Setelah satu tahun lebih pembelajaran jarak jauh diberlakukan dan setelah satu tahun lebih juga kasus Covid-19 melanda akhirnya kasus Covid-19 mulai menurun. Kabar penurunan kasus Covid-19 diumumkan pada awal bulan Agustus 2021 oleh Wiku Adisasmito jubir penanganan Covid-19 ia mengatakan.

“Selama dua minggu terakhir kasus positif mingguan di tingkat nasional telah menunjukan penurunan dari puncak kasus tertinggi tiga minggu yang lalau. Jika dilihat dari 34 provinsi sebanyak delapan provinsi mencatatkan penurunan kasus posetif dua minggu berturut-turut.”

Dengan kabar melandainya kasus Covid-19 di Indonesia menjadi kabar gembira bagi siswa dan masyarakat Indonesia. Setelah kabar itu terdengar tidak lama kemudian terdengar kabar tentang pembelajaran tatap muka pada tanggal 23 Agustus 2021 pada rapat komisi X DPR RI rapat kerja dengan Mendikbud Ristek RI.

Diadakannya sekolah tatap muka kembali ini dilatar belakangi SKB empat mentri, bahwasanya sudah satu tahun lebih pandemi Covid-19 terjadi dan berpotensi menimbulkan dampak sosial negatif yang berkepanjangan seperti banyaknya siswa yang putus sekolah, kesenjangan capaian belajar, kekerasan yang dialami anak oleh orang tuanya tanpa diketahui oleh guru, orang tua tidak bisa melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar, learning loss, banyaknya siswa yang melakukan pernikahan dini.

Berdasarkan kabar tersebut beberapa sekolah mulai melangsungkan pembelajaran tatap muka. Hal tersebut membuat siswa beradaptasi kembali dengan kegiatan pembelajaran tatap muka setelah sekian lama para siswa bersekolah daring atau pembelajaran jarak jauh. Para siswa mulai beradaptasi dengan sekolah, teman, dan guru karena lebih dari satu tahun siswa tidak bersosialisasi atau berinteraksi dengan guru dan teman sejawat secara langsung.

Untuk penerapan sekolah tatap muka pascapandem menggunkan sistem sif, setiap kelas diisi 50% dari jumlah siswa kelas tersebut. sistem sif ini dilakukan agar siswa dapat bersekolah tatap muka secara bergantian dengan siswa lainnya. Hal ini terjadi agar tidak menimbulkan kerumunan yang begitu padat.

Saat ini masih ada kendala dari pembelajaran tatap muka yaitu kemungkinan terpapar virus, tidak tercapainya materi karena terbatas waktu. Dari kendala tersebut hal yang bisa diperhatikan oleh guru dan siswa yaitu semua siswa dan guru harus mematuhi protokol kesehatan agar tidak terjadi penularan Covid-19 seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan. 

Sedangkan manfaat dari pembelajaran tatap muka yaitu berkurangnya risiko epresi karena sering berinteraksis dengan orang, memudahkan guru untuk mengetahui kinerja siswa dan dapat menilai tugas siswa melalui kerjanya, apat menyampaiakn materi kepada semua siswa tanpa ada kendala jaringan internet, dan psikologis anak menjadi lebih baik.

Pembelajaran daring masih bisa dilakukan tapi dengan banyaknya kendala. Banyak siswa yang mengeluhkan pembelajaran daring dikarenakan pembelajaran yang monoton, fasilitas handphone yang dimiliki siswa tidak sama, kendala dalam sinyal, dan siswa yang kurang memahai pembelajaran dikarenakan membuaka aplikasi sosial media saat pembelajaran berlangsun.

Maka hal yang harus di perhatikan oleh guru yaitu memfariasi pembelajaran, interaktif dalam pembelajaran, bisa menggunakan Zoom, Classroom, YouTube. Sedangkan hal yang harus diperhatikan oleh siswa yaitu tidak membuaka sosial media saat pembelajaran dan fokus pada materi yang sedang diajarkan oleh guru.

Maka kesimpulannya, pembelajaran tatap muka perlu untuk segera dilakukan karena melihat banyaknya dampak yang kurang baik bagi siswa dari pembelajaran daring.

Bahkan akibat dari terlalu lamanya pembelajaran daring sikologis anak bisa terganggu bahkan bisa memungkinkan berkurangnya jiwa sosial anak, karena jarang bertemu dan berinteraksi dengan orang.

Jika pembelajaran tata muka belum bisa dilakukan, maka gunakan pembelajaran daring dengan syarat siswa harus bisa mengontrol penggunaan media sosial.

Ketika pembelajaran daring jangan membuka media sosial agar pembelajaran daring bisa berjalan dengan baik dan sesuai yang diharapkan, dan guru sebagai pengajar juga harus interaktif jangan hanya memberikan tugas tanpa memberikan penjelasan materi kepada siswa.

(Fatikhatussifa Uwarohmah menempuh pendidikan dengan mengawalinya di SD Adisani 01, lalu melanjutkan di SMP Islam Ta’allumul Huda Bumiayu, dan lanjut di SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu. Sekarang sedang menempuh pendidikan S1 program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)