![]() |
|
|
SIAPA yang tidak kenal dengan BTS (Bangtan Boys), boy band asal Korea yang telah membawa nama harum negaranya ke kancah dunia. Boy band beranggotakan tujuh orang asal Korea itu tengah menduduki puncak kesuksesannya.
Telah banyak prestasi yang diraih baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Puluhan penghargaan sudah dikantongi mulai dari Shorty Award untuk Best Music, Mnet Asian Music Award, Penghargaan Musik Seoul Piala Daesang, MTV Video Music Award untuk Koreografi Terbaik.
Golden Disk Award Song Division, Billboard Music Award untuk Artis Jejaring Sosial Terbaik, hingga American Music Award untuk Band/Duo/Grup Pop/Rock Terfavorit, dan masih banyak lainnya. Dengan begitu popularitas BTS sudah tidak diragukan lagi. Bahkan saking populernya banyak orang yang tidak mengenal dunia perK-POPan tetapi tahu tentang BTS.
Dunia perK-POPan memang tengah eksis manggung di dunia hiburan seluruh dunia. Fans BTS telah menyebar dari berbagai negara dan Indonesia menjadi salah satu penyumbang fans terbesarnya.
Kepopuleran tersebut membuat setiap gerak yang dilakukan boy band beranggotakan Jeon Jung-Kook sebagai vokal utama, V sebagai vokal, Jimin sebagai vokal utama juga, Suga sebagai rapper, Kim Seok-Jin sebagai vokal, RM sebagai rapper, dan J-Hop sebagai rapper juga menjadi sorotan publik.
Perhatian dunia selalu tertuju kepada mereka atas aktivitas yang tengah dilakukan. Salah satu yang terbaru adalah kehadiran mereka di Sidang Majelis Umum atau United Nations General Assembly (UNGA) ke-76 PBB yang diselengarakan di New York, AS pada 23 September 2021 sebagai perwakilan dari Korea Selatan. Pada acara tersebut, BTS memberikan pidato yang isinya mengungkit tentang gerakan peduli krisis iklim.
Sang Leader RM menyampaikan keprihatinannya terhadap kesusahan yang timbul akibat pandemic Covid-19. Tentang pandangan masyarakat pada generasi muda sekarang yang terancam oleh situasi yang membuat mereka tersesat dalam belajar untuk tumbuh.
RM mengatakan bahwa generasi sekarang ini bukanlah generasi yang tersesat melainkan generasi tangguh yang berani mencoba hal baru untuk beradaptasi dengan situasi saat ini. Jimin BTS menambahkan bahwa anak-anak generasi sekarang merupakan “welcome generation” bukan “lost generation”.
V BTS juga menyampaikan pesan semangat kepada masyarakat seluruh dunia agar tidak menyerah dengan keadaan sekarang, ia percaya masih ada harapan untuk pulih dan berharap semua orang memegang optimisme yang sama dengannya. Sampailah pada pembicaraan yang cukup menjadi sorotan yaitu BTS yang menyinggung kepedulian terhadap perubahan iklim.
Diawali oleh pidato dari J-Hope BTS yang mengatakan bahwa masyarakat harus bersama-sama peduli akan krisis iklim yang belum menemukan solusi. Ia mengatakan bahwa semua orang pasti setuju bahwa perubahan iklim merupakan masalah mendesak yang harus segera ditangani.
Namun demikian, tak dapat menentukan solusi dengan tergesa-gesa. Perlu pemikiran yang matang agar solusi yang ditemukan benar-benar mengatasi, tidak malah menimbulkan masalah lain (Kompas.com, 21/09/2021).
Semakin ke sini, cuaca memang semakin sulit diprediksi. Ketika ramalan cuaca menyatakan akan panas namun tiba-tiba hujan menjadi sesuatu yang tak jarang terjadi. Selain itu, pemanasan global juga membuat cuaca ekstrim lebih sering terjadi di mana-mana.
Musim panas menjadi terasa lebih panas dari biasanya. Sinar matahari terasa mampu membakar kulit jika berjemur terlalu lama di tengah lapangan atau bahkan sekadar berada di luar ruangan dan berjalan di trotoar. Selain panas, efek ultraviolet yang terkandung dalam sinar matahari juga cukup berbahaya.
Tak hanya musim panas, musim dingin juga terasa lebih dingin. Bahkan Indonesia sebagai negara tropis juga merasakan suhu yang ekstrim. Seperti suhu yang terlalu panas dan terlalu dingin.
Cuaca yang terlalu panas mampu menyebabkan kebakaran hutan. Tentu itu merupakan krisis yang perlu mendapatkan perhatikan semua mata manusia. Taman Nasional Sequioa di California AS, tempat tumbuhnya pepohonan raksasa terancam hangus terbakar dan tentunya mengancam kelangsungan hidup pohon raksasa yang langka itu (CNN Indonesia, 22/09/2021).
Hal tersebut menandakan bahwa cuaca memang telah mengganas dan perlu untuk ditangani secara serius. Sebab, jika tidak kerusakan bumi akan terjadi di mana-mana. Maka dari itu, kita memang harus bergerak bersama-sama untuk memulihkan bumi dan cuaca agar kembali pada siklusnya.
Sebagaimana disuarakan oleh BTS dalam Sidang Majelis Umum ke-76 PBB bahwa ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk memikiran solusi dari permasalahan iklim ini.
Sejatinya perubahan iklim yang ekstrim ini terjadi tidak begitu saja. Ulah tangan manusia yang mengeksploitasi alam secara berlebihan menjadi salah satu faktornya. Pertumbuhan peradaban manusia yang semakin pesat juga menyumbang datangnya masalah-masalah yang perlu untuk diselesaikan.
Sifat serakah manusia menjadikan manusia selalu haus akan hasil yang diharapkannya selalu meningkat tidak peduli cara yang digunakan dan dampak dari cara itu. Misalnya aktivitas pertambangan. Sebenarnya manusia memang butuh minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan dan boleh untuk mengambilnya dari alam. Alam selalu menyediakan kebutuhan hidup manusia.
Akan tetapi, seharusnya secukupnya saja. Namun, sifat serakah manusia menjadikan mereka mengambil apa yang mereka butuhkan sesuai kemampuan dan kemauan mereka bukan sesuai kebutuhan. Sehingga eksploitasi alam berlebihan pun tak terhindarkan.
Aktivitas pertambangan terus dilakukan dengan cara-cara yang merusak lingkungan. Area bekas tambang sering dibiarkan begitu saja. Penggalian tambang yang terlalu dalam menjadikan lumpur lapindo naik ke permukaan. Panasnya luapan lumpur lampindo akhirnya ikut menyumbang pemanasan suhu udara.
Penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan menyumbang gelombang elektromagnetik yang berlebihan sehingga menyebabkan ketidakseimbangan alam dan dapat memicu rusaknya ozon.
Begitu pula dengan polusi udara yang ditimbulkan dari kendaraan bermotor dan juga asap pabrik yang diiringi dengan semakin menipisnya hutan hujan tropis yang berperan menyuplai udara bersih, menyaring udara kotor dan mengubahnya kembali menjadi udara bersih.
Udara yang tersebar di atmosfer pun akhirnya memiliki lebih banyak yang kotor daripada yang bersih dan itu juga ikut menyumbang pemanasan global. Lengkap sudah peran manusia dalam merusak alam. Maka dari itu, menemukan solusi dari masalah yang ditimbulkan oleh manusia adalah mutlak tanggung jawab manusia itu sendiri.
Sadarilah bahwa bumi yang kita pijak ini merupakan tempat tinggal kita yang harus dijaga bersama. Alam telah menyediakan apa yang kita butuhkan untuk hidup. Bijaksanalah dalam menggunakannya. Apa yang kita lakukan itulah yang dikembalikan oleh alam.
Jadilah manusia yang peduli dengan alam, peduli dengan lingkungan, niscaya gerakan kecilmu seperti berhenti menyia-nyiakan energi listrik, menggunakan air dengan bijak, membuang sampah pada tempatnya, ikut bergerak dalam menghijaukan bumi akan sangat bermanfaat demi keselamatan bumi kedepannya. Salam cinta lingkungan. Selamatkan bumi kita dengan tangan kita sendiri
(Siti Vitandari Yudmianti adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tinggal di Dusun Sawangan, Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga)