Pengaruh Gaya Pola Asuh Terhadap Kreatifitas Anak
--None--
Minggu, 05/09/2021, 21:37:04 WIB

ABAD 21 merupakan era ekonomi kreatif. Hal ini terjadi karena perubahan teknologi yang semakin cepat, sehingga suatu negara membutuhkan sumber daya manusia yang mudah beradaptasi, solutif dalam menghadapi masalah, inisiatif, penuh imajinasi dan ide.

Hal ini berarti jika negara memiliki keunggulan komparatif dalam ekonomi kreatif, maka negara tersebut akan menguasai masa depan (Megawangi et al. 2010). Tingkat kreativitas penduduk di suatu negara digambarkan dalam Global Creativity Index (GCI) yang dikeluarkan oleh Martin Prosperity Institute (2011).

Posisi Indonesia ternyata berada di peringkat 81 dari 82 negara, artinya kondisi negara Indonesia dalam hal kreativitas masih tertinggal. Selain itu, data yang dikeluarkan oleh Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS, 2007), menunjukkan bahwa hanya 1% siswa di Indonesia yang mampu berpikir advanced.

Artinya hanya segelintir siswa di Indonesia yang mampu mengelola informasi, membuat generalisasi, menyelesaikan masalah nonrutin, dan mengambil kesimpulan atas data.

Menurut Gardner (2011) kreativitas bisa menurun karena adanya kesalahan dalam mendidik anak sejalan dengan pendapat diatas klien juga menyatakan, bahwa kesalahan orang tua dalam memotivasi anak dan sistem pembelajaran di sekolah yang tradisional dapat mematikan insting anak untuk belajar. Jika insting anak untuk belajar dihambat oleh lingkungannya maka anak akan mengalami kesulitan untuk menemukan banyak ide.

Berdasarkan laporan Federasi Kesehatan Mental Indone sia (FEKMI) sekitar 82% remaja di Indonesia beranggapan bahwa orang tua mereka adalah orang tua yang otoriter, 39% menyatakan bahwa orang tua mereka adalah pemarah, bahkan 50% mengaku pernah mendapatkan hukuman fisik (Haryadi & Chandra, 2003).

Hasil penelitian FEKMI tersebut dapat disimpulkan, bahwa sebagian besar anak Indonesia berada dalam kondisi yang tertekan dan tidak nyaman ketika di rumah. Anak yang berada dalam kondisi tertekan akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan struktur jaringan otaknya (Schore, 2001) sehingga mereka akan kesulitan untuk mengeluarkan ide-idenya.

Selain karena gaya pengasuhan yang otoriter, kondisi anak yang tertekan bisa juga disebabkan karena keadaan ekonomi keluarga. Kondisi keluarga yang tergolong miskin akan berakibat dengan minimnya fasilitas yang dimiliki anak di rumah dan kegiatan ekstrakurikuler/les yang diikuti oleh anak, sehingga dapat mengurangi stimulasi bagi anak untuk lebih kreatif.

Selain di rumah, kondisi yang dapat menghambat kreativitas juga didapat di sekolah. Metode pembelajaran yang konvensional seperti komunikasi satu arah, rote learning (belajar dengan cara menghafal), orientasi pada nilai, serta materi pembelajaran yang parsial membuat anak berpikir secara baku (Megawangi et al. 2010).

Siswa hanya berpikir untuk mencari jawaban yang standar atau umum. Cara berpikir tersebut disebut convergent thinking yang merupakan kebalikan dari divergent thinking, yaitu cara berpikir yang dimiliki oleh orang kreatif. Hal inilah yang membuat siswa Indonesia berada di posisi yang rendah dalam berpikir advanced.

Gaya pola asuh yang dilakukan oleh seorang Ibu dari hasil pemaparan dari beberapa peneliti ternyata sangat memengaruhi kreatifitas dari anak tersebut. Setiap orang tua memang memiliki caranya masing-masing dalam mendidik anaknya. Ada yang sangat memanjakan, memberikan pola mandiri, dan juga ada yang tidak ikut terlibat aktif dalam tumbuh kembang anaknya ketika dewasa.

Hal-hal seperti ini sangat lumrah diterapkan oleh orang tua disemua kota. Hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang tua ialah membiarkan anaknya tanpa sentuhan darinya, karena bagaimanapun anak akan tumbuh kembang menjadi seseorang yang sangat berguna dimulai dari pola asuh orang tuanya.

(Siska Purnama Sari adalah Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah)