Pandemi Covid-19 Mengancam Kesehatan Mental Seseorang
--None--
Rabu, 01/09/2021, 10:56:32 WIB

SUDAH dua tahun ini pandemi Covid-19 menghantui seluruh orang dimuka bumi. Namun seolah tidak cukup dampak pandemi juga merambah ke tatanan sosial masyarakat.

Akibat pandemi ini, menyebabkan sebagian besar orang tidak bisa melakukan aktivitas secara normal. Mulai dari bekerja di kantor, belajar di sekolah, serta kegiatan sosial yang biasa dilakukan tatap muka.

Setelah lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Vaksinasi dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diselenggarakan pemerintah, tidak juga membuahkan hasil yang signifikan. Kini dampak pandemi berbuntut panjang setelah krisis ekonomi, dampak psikis pun turut dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Dampak psikis ini timbul karena adanya tekanan seseorang yang terlalu lama di rumah menimbulkan rasa bosan, mereka tidak tahu aktivitas apa lagi yang dilakuakan ketika berada di rumah saking lamanya berada di dalam rumah.

Dampak ini sangat terasa pada anak remaja yang memasuki usia 14-18 tahun, dimana waktu yang seharusnya mereka habiskan untuk bersosialisi dengan teman sebayanya secara langsung semakin dipersulit.

Selain itu dampak psikis yang dirasa pun tak sedikit. Mulai dari orang-orang yang merasa kesepian, berubahnya sifat seseorang yang cenderung introvert, sensitif dan semakin mageran.

Kejadian ini membuat beberapa orang mulai resah karena bisa saja kejadian tersebut dapat mempengaruhi pola pikir dan menimbukan kehidupan sosial ke tingkat baru, yaitu semakin banyak orang yang bersikap individualis, dan semakin mengikisnya budaya gotong royong yang telah menjadi pusat budaya orang Indonesia sejak dulu.

Tidak banyak orang yang mengeluh karena terbatasnya sosialisasi yang mereka lakukan sebelum pandemi. Tatanan kesopanan sosial yang bisa dilakukan pun kini bergeser.

Misalnya saja jika anak-anak bertemu dengan orang yang lebih tua mereka biasa berjabat tangan dan mencium punggung tangan orangtua sebagai tanda kesopanan, namun kini salam itu diganti menjadi salam ‘namaste’ atau salam yang biasa dilakukan seperti salam orang India. Hal ini menjadikan anak-anak sedikit cangguh, bahkan tak jarang mereka hanya melempar senyum saja pada orang yang lebih tua.

Jika dampak seperti ini saja sangat terasa untuk orang yang sehat lalu, bagaimana jika ada orang yang terinfeksi virus Corona dan terpaksa harus melakukan isolasi mandiri, karena beberapa rumah sakit sudah penuh dan sesak rumah sakit disekitar mereka tinggal.

Mungkin keadaan psikis mereka jauh lebih berat karena selain harus bertahan hidup mereka juga dihantui dengan rasa takut mereka sendiri. Belum lagi penyediaan makanan yang bergizi  dan vitamin yang cukup selama masa karantina, menjadikan kendala untuk beberapa orang yang memang memiliki sumber penghasilan minim.

Untuk sebagian orang yang memiliki kondisi fisik cukup kuat, mereka akan mampu melewati virus ini. Akan tetapi, jika penyakit yang dirasa sudah sampai membuat kodisi fisik mereka memburuk, mereka harus sesegera mungkin mendapatkan bantuan medis.

Jika pandemi Covid-19 memakan banyak korban dan jika pemerintah ingin menyelamatkan banyak nyawa manusia di negara ini, tapi kenapa mental seseorang bisa menjadi ancaman serius untuk kasus ini?

Akankah kita tetap berdiam diri di rumah secara terus menerus? Lalu apa manfaat vaksinasi jika PPKM masih tetap diberlakukan di beberapa daerah?

(Indah Purwati adalah Mahasiwi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)