Dakwah Ringan Nan Gaul Melalui Buku ala Syakir Daulay
--None--
Rabu, 31/03/2021, 14:21:00 WIB

...bisa menjadi salah satu referensi untuk memotivasi kaum muda, agar lebih semangat lagi dalam mengejar cinta-Nya, bukan cintanya...

SIAPA yang tidak mengenal Syakir Daulay? Pemuda yang berhasil sukses di masa mudanya, dengan segudang prestasi dan capaiannya mampu membuat kaum muda termotivasi, juga tidak sedikit pula yang mengidolakannya termasuk saya.

Melalui media sosialnya, Syakir juga tidak jarang menceritakan dirinya sebagai seorang jomblo melalui cuitan humor yang membuat fans ikut tertawa ketika melihatnya. Bukan hanya sekedar cuitan humor belaka, namun di dalamnya ia juga sering menambahkan dakwah ringan dalam bahasa anak muda yang mudah dipahami.

Dakwah sendiri secara umum berarti menyampaikan sebuah pesan kepada khalayak luas untuk menjalankan perintah ajaran islam dan menjauhi atau mencegah apa yang dilarang oleh islam. Sedangkan kata dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu da'a-yad'u-da'watan yang artinya mengundang, mengajak, menyeru.

Sementara dalam masyarakat umum dakwah lebih identik dikenal dengan ceramah yang cara penyampainnya secara lisan. Namun tahukah sebenarnya ada jenis dakwah yang kurang akrab di telinga masyarakat yakni Dakwah Bil Kitabah atau dakwah secara tulisan.

Dakwah bil kitabah atau dakwah melalui tulisan juga sering diidentikan dengan dakwah bil qalam (DBQ) atau dakwah menggunakan pena. Kata "Qalam" merujuk kepada firman Allah SWT yang terjemahannya : "Nun, perhatikanlah Al-Qalam dan apa yang dituliskannya" (QS Al-Qolam :1).

Disamping menulis dapat memberikan pengetahuan, berdakwah melalui media tulisan juga berarti melaksanakan salah satu sunah yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw. Seperti yang dilakukan Syakir Daulay melalui sebuah buku yang ia tulis sendiri berdasarkan pengalaman pribadinya yang berjudul Ijo Tomat alias Ikatan Jomblo Terhormat.

Pasti terdengar begitu menggelikan atau terheran-heran mengapa ada julukan jomblo terhormat sedangkan di masa sekarang seorang jomblo seringkali terkesan menyedihkan, sendirian tanpa pasangan atau yang lainnya. Namun, berbeda halnya persepsi jomblo menurut Syakir Daulay.

Melalui bukunya yang terbit bulan Oktober 2019 lalu, Syakir menjelaskan banyak hal dan pengalamannya yang dikemas dengan bahasa ringan juga gaul yang dapat mengubah mindset anak-anak muda untuk tidak terlena dengan cinta karena hidup tidak sesederhana itu untuk mendefinisikan perasaan.

Awal mula mendapatkan ide menulis buku, berawal dari banyaknya fans yang seringkali bertanya pada Syakir perihal cinta-cintaan yang sejatinya yang memang rentan dialami oleh anak remaja zaman sekarang.

Maraknya fenomena pacaran di kalangan remaja sudah menjadi hal yang lumrah di zaman sekarang ini, tidak heran jika terlihat muda-mudi bergandengan tangan menikmati indahnya cinta berdua, tertawa kesana kemari seperti dunia milik sendiri tanpa mereka sadari ada sesuatu yang salah dari tindakannya itu.

Mirisnya, ketika mereka akhirnya putus cinta, pasti akan berdalih bahwa cinta itu tidak adil baginya. Padahal itu salah, seperti yang Syakir jelaskan di dalam bukunya bahwa seringkali kita menyalahartikan antara cinta dan nafsu karena keduanya itu samar-samar keberadaannya. Sebab kenyataannya banyak orang bercinta, tapi justru sedikit yang kenal dengan Sang Pemilik Cinta yaitu Allah.

Islam sendiri telah menganjurkan untuk menikah bukan berpacaran karena islam tidak ingin kita dipermainkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan cinta, tapi yang sebenarnya adalah nafsu. Allah selalu memberikan wujud cinta dalam bentuk apapun kepada kita, dari itu seharusnya kita jangan membiarkan cinta menjadi nafsu. Karena ketika kita sakit hati bukan cinta yang menyakiti, tapi kita yang tidak bisa menggenggam cinta-Nya dengan baik.

Berbagai macam nasehat yang Syakir jelaskan melalui bukunya yang ia tujukan untuk para pembaca sangatlah menarik. Bahkan tidak hanya soal kisah kasih asmara saja, menggunakan bahasa yang gaul ia juga menuliskan beberapa kisah Rasulullah untuk dijadikan pedoman hidup.

Seperti yang dikisahkan bahwa paman Nabi Muhammad yaitu Abu Jahal sangat membenci beliau sampai ia menyusun rencana untuk mencelakakan Rasulullah dengan membuat lubang, agar Rasulullah terperosok ke lubang tersebut ketika akan melaksanakan sholat shubuh di masjid.

Namun siapa sangka, malaikat Jibril pun memberi tahu rencana tersebut yang akhirnya membuat Rasulullah bisa menghindari jebakan dari pamannya. Karena pensaran mengapa jebakannya tidak berhasil, dengan tidak sengaja akhirnya Abu Jahal sendirilah yang terperosok ke dalam lubang itu.

Dari peristiwa ini, Syakir menuliskan pesan bahwa ketika kita mencoba menjatuhkan seseorang, maka sebenarnya bukan orang itu yang jatuh, tetapi kita sendirilah yang akan jatuh.

Melalui buku Ijo Tomat ini jelas bisa menjadi salah satu referensi untuk memotivasi kaum muda, agar lebih semangat lagi dalam mengejar cinta-Nya bukan cintanya. Bijak dalam bermain media sosial, lebih sering untuk meningkatkan ibadah kepada Allah agar terhindar dari kegalauan, lebih fokus pada masa depan tanpa banyak membuang waktu untuk hal yang tidak berguna.

Memikirkan masa depan justru lebih penting daripada memikirkan cinta yang tak pasti karena cinta sejati itu bukan memberi cokelat, tapi memberi seperangkat alat sholat.

Dan yang terpenting kesendirian bukan berarti tidak bisa berkarya, jomblo bukan berarti kesepian, karena untuk menjadi elegan dan menawan tetap bisa dilakukan meskipun tanpa someone. Salam Ijo Tomat.

(Asri Candra Wanodya adalah Mahasiswi Semester 4 Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)