![]() |
|
|
-Upacara ngasa dilaksanakan pada mangsa kesanga, dalam kalender nasional berarti bulan Maret tepatnya Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon dan dilaksanakan di Gunung Kumbang dan Gunung Segara-
INDONESIA merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau yang dihuni lebih dari 360 suku yang tersebar di berbagai pulau dari sabang sampai merauke. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisinya.
Salah satunya adalah Kampung Budaya Jalawastu yang terletak di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes yang berbatasan dengan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Penduduk setempat berkomunikasi menggunakan bahasa sunda dengan campuran logat jawa.
Saat saya berkunjung ke kampung budaya Jalawastu, saya di sambut dengan sangat ramah oleh penduduk sekitar dan juga tetua kampung budaya Jalawastu namanya mbah karsono, masyarakat sekitar dan pengunjung memanggilnya bapung.
Di kampung budaya Jalawastu masyarakatnya hidup jauh dari kata modern dan bisa di katakan terisolasi mayoritas penduduknya bermatapencarian sebagai petani dan peternak sapi. Kampung Jalawastu merupakan kampung budaya yang masih memegang teguh tradisi dan adat istiadatnya.
Saya pertama kali berkunjung ke kampung budaya Jalawastu mata saya langsung tertuju pada rumah-rumah warga yang terbuat dari kayu beratap seng dan alang-alang. Dengan suasana kampung yang sangat astri saya serasa berada di tahun 90an dengan penuh kesederhanaan masyarakatnya dan jauh dari keramaian kota.
Masyarakat kampung budaya Jalawastu sangat menjaga kelestarian budaya adat istiadat secara turun temurun dan terus melestarikannya. Penduduk kampung budaya Jalawastu memiliki pantangan-pantangan unik yang tidak boleh di langgar, dalam memelihara hewan ternak mereka dilarang untuk memelihara binatang seperti domba, angsa dan kerbau.
Dalam bercocok tanam masyarakat Jalawastu juga memiliki aturan sendiri yaitu tidak boleh menanam bawang merah dan kacang tanah. Selain itu masyarakat di kampung Jalawastu dilarang mementaskan wayang karena dianggap memainkan peran manusia. Warga sekitar sangat mematuhi adat istiadat tersebut masyarakat kampung Jalawastu percaya bila mereka melanggar akan mengakibatkan bencana.
Yang paling unik dari kampung Jalawastu yaitu upacara ngasa atau sedekah gunung. Upacara ngasa adalah adat yang dilaksanakan oleh masyarakat yang tinggal di kampung jalawastu, selain warga kampung Jalawastu juga di perbolehkan untuk mengikuti upacara tersebut.
Upacara tersebut digelar setahun sekali dan sudah dilaksanakan oleh masyarakat dukuh Jalawastu sejak ratusan tahun silam. Upacara ngasa dilaksanakan pada mangsa kesanga -bulan sembilan dari kalender jawa-, dalam kalender nasional berarti bulan Maret tepatnya Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon dan dilaksanakan di Gunung Kumbang dan Gunung Segara.
Upacara ngasa memiliki makna yang sangat dalam dan menjadi simbol rasa syukur kepada tuhan yang Maha Kuasa atas segara rezeki yang di berikan di masa-masa sebelumnya.
Masyarakat dukuh jalawastu menganggap upacara ngasa sebagai pesta rakyat atau hajatan, dan pada akhir upacara ngasa diadakan makan bersama dengan jagung sebagai makanan pokoknya dan dilarang makan nasi, daging dan ikan. Alat makan yang mereka pakai pun dilarang menggunakan kaca. Piring, sendok, cepon dan rantang yang mereka pakai menggunakan kayu, seng dan daun. tradisi seperti ini harus terus di lestarikan dan wariskan turun temurun ke generasi selanjurnya agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Penulis berharap agar kampung budaya jalawastu di berikan perhatian lebih oleh pemerintah daerah, karena akses jalan menuju kampung jalawastu sangat susah untuk dilalui, jalan yang berlubang, berlumpur dan penuh bebatuan bisa membuat wisatawan berfikir dua kali untuk berkunjung.
Padahal dengan pemandangan dan keunikannya, kampung jalawastu bisa menjadi destinasi wisata untuk mengenalkan sejarah kepada masyarakat agar dikenal secara luas. Jangan sampai kebudayaan kita diambil oleh orang lain baru kita bertindak seolah-olah orang yang paling mencintai kebudayaan.
(M. Fikri Vebri Ashar adalah Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)