![]() |
|
|
Penjara suci, kata itu sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat. Walaupun begitu, tidak semua orang dapat merasakan nikmatnya kehidupan di dalamnya. Penjara suci adalah julukan dari pondok pesantren di Indonesia, yang di dalamnya terdapat beribu-ribu santri putra maupun santri putri.
Di Idonesia penjara suci sudah sangat merajalela, terutama pada pulau jawa, di antaranya adalah Pondok Pesantren Gontor, Pondok Pesantren Langitan, Pondok Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren Lirboyo, dan masih sangat banyak sekali Pondok Pesantern lainnya.
Penerimaan santri baru biasanya akan dilangsungkan pada setiap tahun ajaran baru, namun ada juga Pondok Pesanteren menerima santri yang tidak melanjukan pendidikannya. Biasanya mereka yang tidak melanjutkan pendidikan sekolah, hanya ingin fokus menghafal Al quran, mereka juga mempelajari kitab Jurumiyah, Nahwu, Shorof, dan Amtsilati, untuk dapat membaca dan mengartiakan kitab gundul (kitab yang tidak mempunyai harokat).
Banyak santri baru yang merasa tidak betah hidup di penjara suci, dengan alasan yang bermacam-macam dan tidak masuk akal. Biasanya mereka akan merengek minta pulang ketika bustelan (dijenguk keluarga), ada juga yang menelfon lewat ponsel pesantren lalu menangis sejadi-jadinya, terkadang ada juga santri yang berbohong mengaku sedang sakit agar dijemput untuk pulang. Bahkan kabur adalah jalan sesat mereka untuk kembali kerumah, walaupun mereka tahu hukuman dari melanggar peraturan yang satu ini memang cukup berat.
Namun berbeda dengan santri senior, mereka seakan-akan lupa akan kejadian dirinya pada saat masih santri baru. Permasalahan yang sering terjadi pada santri senior, yang bisa membuat tidak betah di pesantren adalah masalah pertemanan, dan percintaan mereka kepada lawan jenis. Dan ada juga santri senior yang mengangkat salah satu santri baru sebagai adik angkat, hal ini sudah sangat terbiasa di kehidupan pesantren.
Di dalam penjara suci juga terdapat kepengurusan-kepengurusan, atau bisa di sebut dengan panjang tangan dan sambung lidah dari pihak ndalem (keluarga pengasuh pesantren). Terdapat Ketua Pondok, Pengurus Keamanan, Pengurus Kopmlek, Pengurus kebersihan, yang pada umumnya sama dengan kepengurusan dalam sebuah organisasi lainnya.
Namun bedanya Pengurus Pesantren biasanya terkenal dengan ketegasannya dalam halnya kedisiplinan, terutama Pengurus keamanan dan Pengurus kebersihan yang sangat ditakuti, disegani bahkan dibenci para santri, yang apa bila ketika santri melanggar peraturan, maka mereka tidak segan-segan untuk menegurnya.
Tidak sedikit juga para sastrawan di Indonesia menceritakan tenteng kehidupan di penjara suci, dari genre misteri, komedi, inspiratif, maupun romantis/ percintaan. Namun kebanyakan para sastrawan Indonesia memilih genre percintaan. Seperti Ma’mum Affany yang mana rata-rata novelnya meceritakan tentang kehidupan cinta di pesantren. Karena Beliau juga alumni Pondok Pesantren, yang tentunya beliau pun pernah merasakan kehidupan di dalamnya.
Kehidupan di penjara suci bisa dikatakan sangat keras bagi para santri pembangkang, dan bisa juga dikatakan sangat khidmat bagi para santri yang ridha menjalankannya. Karena peraturan-peraturan di dalamnya pun memang cukup berat untuk kehidupan milenial sekarang. Mulai dari bangun sebelum subuh, sholat berjama’ah, mengaji kitab, lalaran hafalan, mengaji Al quran, takror (belajar bersama), belum lagi peraturan larangan-larangan membawa barang elektronik, berhubungan dengan lawan jenis, dan masih banyak peraturan lain, yang apa bila ada santri yang melanggarnya akan di beri hukuman yang sepadan dengan peraturan yang telah dia langgar, mulai dari membayar denda, mengepel pondok, menguras kamar mandi, berdiri disaat pengajian berlangsung atau setelah berjamaah bersama santri putra, di gundul/botak, disiram air comberan. bahkan tidak sedikit pula pesantren yang terpaksa mengeluarkan santrinya, karena santri itu sendirilah yang tidak mengindahkan peraturan-peraturan pesantren, sehingga pihak pesantren sudah angkat tangan.
Kata ghozob bagi santri sudah tidak asing lagi, memang perbuatan itu tidaklah baik, namun beberapa santri sering melakukannya. Ghozob yang sering dilakukan para santri adalah mengghozob sandal, hal ini sudah menjadi hal yang biasa bagi para santri, sehingga mereka sudah sangat memakluminya.
Lucu memang, ketika melihat santri yang sendalnya dighozob oleh temannya, biasanya mereka akan kembali kepondok dengan jingjit-jingjit, ada juga yang minta digendong temannya, bahkan ada yang menghozob sandal milik temannya lagi. Ghozob adalah meminjam barang orang lain tanpa minta izin kepada pemiliknya terlebuh dahulu. Berdasarkan sejumlah ayat, hadits, dan ijma’ para ulama, perbuatan ghozob merupakan salah satu dosa besar. Seperti keterangan pada Surat Al-Baqarah ayat 188,
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bhatil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim,supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahuinya”.
Lalu bagaimana dengan para santri yang masih suka mengghozob, memang para ustadz-ustadzah di pesantren sudah menjelaskan berulang-ulang mengenai perkara ghozob, bahkan pengasuh pun sudah mewanti-wanti agar santrinya tidak lagi melakukan perkara tersebut. Namun ada saja santri yang tidak menggubrisnya, bahkan secara tidak sengaja ada santri yang menghozob sandal ustdz-ustadzahnya. Namun biasanya setelah barang yang mereka ghozob sudah tidak diperlukan lagi, maka mereka akan mengembalikan dan meminta maaf kepada pemliknya. Jika mereka tidak mengetahui siapa pemiik barang itu, maka akan mengembalikan ketempat semula sebelum mereka memakainya.
Ketika ada santri yang izin pulang sebelum jadwal pulang, maka itu merupakan hal yang memerlukan mental yang cukup kuat. Karena jika alasannya tidak masuk akal, maka tidak akan di perbolehkan pulang, bahkan dengan alasan sakit pun tidak diperbolehkan. Dan dari pihak ndalem akan menyarankan untuk berobat di daerah pondok, dan pengurus yang akan menemaninya.
Jika menginjak bulan suci Ramadhan, para santri biasanya akan melaksanakan kegiatan pasaran (mengaji kitab pada saat bulan Ramadhan). Pada kegiatan ini, para santri wajib membeli kitab baru yang telah diputuskan materi kitabnya oleh pihak pesantren, terkadang ada pihk pesantren yang sudah menyediakannya, dengan target khatam sebelum para santri pulang ke rumah masing-masing. Pasaran biasanya dilaksanakan sebelum berangkat sekolah, setelah sholat ashar, dan setelah sholat isya sampai malam suntuk.
Bahkan ada juga santri yang membawa cemilan dan minuman ketika kegiatan pasaran malam, dengan tujuan agar tidak kantuk ketika pasaran berlangsung. Dari pihak pengurus pun biasanya seperti itu, yang artinya membawa makanan dan minum ketika pasaran malam berlangsung itu di perbolehkan.
Abdi ndalem/kodim adalah santri yang dipercayai pihak ndalem untuk membantu segala urusan, dari membantu Ibu Nyai melakukan pekerjaan rumah, membantu bibi masak di pondok, menjaga Ning (anak perempuan pengasuh) dan Gus (anak laki-laki pengasuh) yang masih kecil, dan menjaga koprasi pesantren. Menjadi kodim merupakan sebuah amanat dan tanggung jawab yang cukup besar, karena tidak sembarang santri yang dapat melaksanakannya.
Biasanya para kodim dan kodimah akan pulang ke rumah lebih lambat, dan kembali ke pesantren lebih cepat. Berbeda dengan santri lainnya yang kembali ke pesantren sesuai jadwal., bahkan ada juga santri yang terlambat kembali ke pesantren, dan mendapat hukuman/denda satu hari terlambat dengan denda satu sak semen.
Kehidupan di penjara suci memang sangat berat, memerlukan adaptasi yang tidak mudah, karena santri yang berada di pesantren berasal dari bermacam-macam daerah, yang kebiasaan-kebiasaannya pun sangat berbeda dengan daerah kita. Namun percayalah kehidupan di pesantren sesungguhnya sangat khidmat, kebersamaan dan kedisiplinan yang hidup di dalamnya memang sangat penting dan sangat diperlukan kedepannya untuk bekal hidup dimasyarakat.
Bahkan banyak para lulusan pesantren yang masih ingin hidup dipondok, terkadang mereka menyesali perbuatan yang seharusnya tidak mereka lakukan di Pesantren dahulu. Karena penyesalan selalu datang di akhir. Bagi kalian yang masih hidup di penjara suci, maka jalanilah dengan kebahagian.
(Winda Arosti adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)