![]() |
|
|
Skripsi Bukan Hanya Sebagai Hasil Akhir Tapi Mampu Membuat Mahasiswa Berpikir.
SKRIPSI merupakan salah satu tugas akhir yang harus dilalui oleh mahasiswa untuk menempuh gelar sarjananya. Selain itu, skripsi juga menjadi salah satu tolak ukur mahasiswa untuk dapat lulus kuliah.
Melalui skripsi mahasiswa dapat belajar berpikir kritis mengenai penelitian yang sedang dilakukannya, melatih tanggung jawab dan konsistensi yang ada dalam dirinya. Mayoritas orang, beranggapan bahwa skripsi bisa menentukan masa depan seorang mahasiswa.
Namun, nyatanya sekripsi di zaman sekarang ini hanya dijadikan formalitas belaka. Karena sekarang marak adanya jasa jual beli skripsi yang membuat mahasiswa terlena dan lebih memilih membeli skripsi, yang menurutnya lebih simple dan dapat mempermuda dibandingkan dengan membuat skripsi dengan melakukan penelitian sendiri.
Kecurangan tersebut seharusnya dihindari bagi semua mahasiswa khususnya mahsiswa yang sedang menyelesaikan sekripsi. Buatlah skripsi sesuai dengan kemampuan sendiri, dari skripsi bisa melihat sejauh mana kemampuan mahasiswa menulis karya ilmiah, mengasah kemampuan merangkai kata.
Dari situ juga dapat terlihat antara mahasiswa yang suka membaca dan jarang membaca. Karena dari penggunaan kosakata yang terdapat dalam skripsi akan sangat terlihat antara mahasiswa yang suka membaca dan yang jarang membaca. Oleh karena itu, selagi masih menjadi mahasiswa semester muda rajin-rajinlah membaca, karena dengan membaca akan bermanfaat untuk nantinya. Baik bermanfaat pada saat skripsi maupun untuk hal lainnya.
Banyak mahasiswa menganggap bahwa skripsi merupakan sesuatu yang sangat berat untuk ditempuh dan tentunya sangat horor bagi mahasiswa. Kenyataannya, skripsi tidaklah seberat dan sehoror yang ditakuti selama ini. Kuncinya dalam mengerjakan skripsi mahaiswa haruslah menikmati apa yang sedang di hadapinya dengan begitu semua akan baik-baik saja.
Orang yang menganggap skripsi adalah hal yang menakutkan salah satu faktornya karena mahasiswa tersebut malas. Malas untuk melakukan penelitian, malas untuk membaca buku, malas untuk mencari reverensi, malas untuk mencicil mengerjakan skripsi, bahkan malas untuk bertemu dengan dosen pembimbing. Oleh karena itu mereka malas untuk mengerjakan tugas akhir (skripsi) sebagai syarat kelulusan.
Padahal skripsi merupakan salah satu anugrah terindah yang dapat dinikmati oleh mahasiswa. Karena tidak semua orang bisa menikmati romantisme menjadi pejuang skripsi, mahasiswa semester akhir ini memiliki hobi baru yaitu mencari-cari keberadaan dosen pembimbing untuk mencari pencerahan mengenai apa yang sedang menjadi keresahan yang dialami olehnya.
Kegiatan setiap harinya hanya membaca, dan memegang leptop dan diwaktu malam hari menjelama menjadi hewan malam yang di tengah keheningan malam masih terjaga agar tugasnya segera selsai dan akhirnya bisa hidup normal seperti sedia kala. Romantisme itulah yang tak akan terlupakan sampai kapanpun.
Jika menganggap skripsi sebagai beban maka yang ada di pikiranpun skripsi merupakan tugas yang sangat sulit untuk dilewati. Akan tetapi, jika menganggapnya sebagai romantisme maka skripsi akan menjadi hal yang menyenangkan.
Oleh karena itu sangat disayangkan apabila mahasiswa tidak mengalami masa-masa romantisme menjadi pejuang skripsi. Karena skripsi tidak hanya dijadikan sebagai tugas akhir tapi mampu membuat mahasiswa berpikir. Akan tetapi, dalam dunia kerja pengalaman organisasi dan kemampuan dalam bidang tertentu yang dimiliki oleh mahasiswa lebih diutamakan dibandingkan dengan skripsi ataupun IPK yang dimiliki oleh mahasiwa selama menempuh gelar sarjananya.
Oleh karena itu, banyak mahaiswa yang terlena dengan organisasi yang diikutinya dibandingkan dengan akademik dalam proses perkuliahan, karena mayoritas mahasiswa menganggap setelah lulus kuliah skripsi tidak akan dibutuhkan lagi, skripsi hanya dijadikan sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa.
Seharusnya, mahasiswa lebih bijak lagi, harus menyinkronkan antara organisasi dan akademik, jangan sampai berat sebelah. Niat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi adalah untuk kuliah bukan untuk berorganisasi.
Akan tetapi, jangan hanya memikirkan akademiknya saja, mahasiswa harus memikirkan juga prihal organisasi yang nantinya akan membantu bagaimana terjun dengan masyarakat karena belajar bukan hanya melalui bangku sekolah, dari organisasipun bisa belajar.
(Firda Umami adalah Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)