Memahami Orang Sekitar Melalui Mendengar Secara Empati
--None--
Kamis, 26/12/2019, 16:34:35 WIB

LINGKUNGAN mana yang terhindar dari kata gosip? Ya, tentunya ada saja sekelompok orang yang hobi membuat suatu topik yang dibesar-besarkan dari yang sebenarnya. Bahkan kita sendiripun secara tidak sengaja suka termakan omongan orang lain dan percaya karena hanya mendengar tanpa empati. Jarang atau bahkan tidak sama sekali mereka memerhatikan bagaimana cara mendengar yang baik.

Oleh karena itu, maka keterampilan mendengar juga mutlak diperlukan agar komunikasi dapat berjalan dengan efektif dan konflik bisa dihindari.

Empati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai keadaan yang membuat seseorang merasa, atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok. Serta pengertian mendengar adalah keadaan yang dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga.

Jadi, mendengar secara empati adalah mendengar dengan maksud untuk mengerti, baik secara emosional maupun intelektual, bukan dengan maksud untuk menjawab, mengendalikan atau memanipulasi orang lain. Kita masuk ke dalam kerangka acuan orang lain.

Melihat dunia dengan cara mereka melihat dunia, mengerti paradigma mereka dan mengerti perasaan mereka. Kita memerlukan jauh lebih banyak energi dari sekedar merekam pembicaraan, merenungkan bahkan mengerti kata-kata yang mereka ucapkan.

Komunikasi memperkirakan bahwa hanya 10% komunikasi kita diwakili dengan kata-kata yang kita ucapkan, 30% diwakili oleh suara kita, dan 60% oleh bahasa tubuh kita. Oleh karena itu, mendengar secara empati tidak terbatas pada mendengar dengan telinga, namun mendengar dengan mata dan hati. Hati kita merasakan, memahami, menyelami, dan berintuisi.

Berusaha benar-benar mengerti orang lain adalah dasar apa yang disebut dengan mendengar secara empati. Ketika orang lain sedang berbicara, terkadang kita meletakkan proses mendengar dalam komunikasi tidak empati saat bersama lawan tutur. Untuk memiliki kemampuan mendengarkan secara empati, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi, antara lain:

Pertama, membuat kontak mata dengan pembicara. Agar pembicaraan yang sedang berlangsung dapat berlanjut terus maka tataplah mata lawan bicara kita. Kontak mata dengan lawan bicara akan memberi kesan dan pesan kepada orang tersebut bahwa kita sungguh-sungguh terhadap sesuatu yang dikomunikasikan.

Kesungguhan ini akan menciptakan suasana keakraban dan rasa saling percaya sehingga akan lebih mudah baginya memberikan dukungan ataupun memberikan jawaban ”ya”, atau melakukan apapun yang kita harapkan.

Kedua, hindari gerakan atau komunikasi yang justru mengganggu dengan maksud kita untuk mendengarkan. Pada saat mendengarkan, hindari gerakan-gerakan yang dapat mengganggu proses mendengarkan itu sendiri, seperti: melihat-lihat jam, memutar-mutar pensil atau pulpen, merobek-robek kertas, melihat-lihat pemandangan atau melakukan akitivitas lainnya.

Dengan melakukan hal seperti itu, pembicara akan mengartikan bahwa kita tidak tertarik, bosan dan tidak peduli sehingga akhirnya topik pembicaraan tidak sesuai dengan maksud komunikasi tersebut. Bersikaplah yang wajar dan tidak berlebih-lebihan terhadap suatu hal.

Ketiga, mengungkapkan kembali dan mengajukan pertanyaan. Apabila memang perlu, ulangi apa yang disampaikan pembicara dengan menggunakan bahasa sendiri. Ini merupakan tahap perkembangan mendengar secara empati. Proses ini selain merupakan proses untuk memperjelas makna, juga merupakan cara terbaik untuk mengetahui jika kita benar-benar mengerti atau tidak.

Pendengar yang empati akan menganalisis yang dia dengar dan akan mengajukan pertanyaan. Dengan mengajukan pertanyaan, akan memperjelas maksud yang dibicarakan dan meyakinkan pembicara bahwa kita mengerti, sekaligus memberikan dukungan kepada pembicara untuk berbicara lebih lanjut karena kita benar-benar memerhatikan dan mendengarkan secara serius.

Selanjutnya keempat, buat transisi yang baik antara menjadi pendengar yang baik dan pembicara yang baik. Kita memiliki kecenderungan untuk berbicara daripada mendengarkan. Dan kita juga memiliki kecenderungan untuk berbicara sambil mendengarkan.

Pendengar yang empati tidak akan melakukan hal tersebut. Sebuah proses komunikasi adalah proses antara mendengarkan dan berbicara, dan dalam proses komunikasi yang efektif, kita melakukan peran tersebut secara bergantian. Lakukan peran transisi antara peran mendengarkan dan peran berbicara secara baik.

Kelima, berusaha mengerti, kemudian dimengerti. Usaha untuk mengerti orang lain tidak terbatas pada mengerti kata-kata yang diucapkannya. Kalau kita mengerti orang lain seperti itu, berarti kita masih melihat orang lain melalui kaca mata kita sendiri. Kita harus melangkah lebih jauh lagi masuk ke diri orang itu, untuk melihat dunia sebagaimana ia memandangnya, mengerti keadaannya, dan juga harus bisa merasakan emosi kejiwaannya.

Contoh seperti seorang pendidik yang sedang berada dalam suatu kelas dan ia harus mnegerti terlebih dahulu siswanya sebelum pembelajaran di mulai, karena dengan begitu seorang pendidik paham bagaimana cara supaya siswanya itu paham terhadap materi yang disampaikannya.

Lalu keenam, diagnosis sebelum respons. Mendiagnosis terlebih dahulu sebelum membuat resep merupakan prinsip yang penting bagi semua profesional. Pendengar yang empati akan melakukan diagnosis terlebih dahulu untuk meneliti permasalahan yang dihadapi oleh lawan bicaranya sebelum memberikan pendapat, masukan, atau jawaban. setelah menemukan akar permasalahannya, akan lebih mudah untuk membantu memberikan jawaban, solusi ataupun masukan yang diperlukan lawan bicara.

Ketujuh atau yang terakhir, yaitu tunjukkan minat, perhatian, dan kepedulian. Dalam berkomunikasi kita bisa menunjukkan minat kita yang begitu besar kepada lawan bicara kita dengan perhatian dan kepedulian kepadanya. Apabila ia merasakan bahwa ia mendapatkan perhatian, kepedulian, dan rasa hormat ketika berbicara ataupun menyampaikan pendapat, maka ia juga akan bersedia mendengarkan dengan penuh perhatian sesuatu yang kita komunikasikan kepadanya.

Dengan fokus perhatian kita kepada orang lain akan bisa lebih mudah memahami dan mengetahui keadaannya, apakah seputar tentang keinginan, permasalahan atau apa yang ia perlukan dari kita. Jika telah dipahami dengan baik, kita tentu bisa mengomunikasikan hal yang mungkin dapat menarik perhatiannya dan sesuatu yang mungkin mereka mau terima atau dukung.

Jadi, dari pemaparan di atas mengingat akar empati sudah ada dalam diri manusia sejak kita lahir, maka sebenarnya setiap manusia memiliki potensi untuk mendengar secara empati. Namun, disebabkan oleh faktor lingkungan yang tidak mendukung, kebiasaan-kebiasaan buruk saat mendengar dan kondisi psikologis seseorang menyebabkan sikap empati itu hilang atau berkurang.

Oleh sebab itu sudah saatnya bagi para orangtua, pendidik dan serta masyarakat komunikasi untuk memerhatikan dan mengembangkan keterampilan mendengar secara empati. Dengan demikian, keterampilan komunikasi mereka menjadi lengkap, sopan dan positif

(Wulan Purnama adalah Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Indenesia Universitas Perdaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)