Prestasi Dari Menulis Status di Media Sosial
--None--
Sabtu, 21/12/2019, 19:53:42 WIB

Mengapa anak muda sekarang lebih suka menulis di media sosial daripada dibuku? Karena dari zaman ke zaman memang globalisasi semakin berkembang dari yang tadinya hanya untuk berkomuniikasi dan sekarang media sosial bisa digunakan untuk apa saja bahkan prestasipun dapat dicapai dengan hanya mengetik di handphone.

Menulis merupakan kegiatan seseorang yang dapat melahirkan pikiran-pikiran dengan menghasilkan suatu tulisan yang nyata dari pikiran. Sejauh ini mulai dari anak-anak sampai dengan orang tua pasti suka sekali membuat status entah itu di media sosial seperti WhasApp, facobook, instagram sampai dengan twitter yang di dalamnya menuliskan tentang kegiatan keseharian yang mereka kerjakan.

Memang awalnya seseorang ketika hendak menulis bukan hanya berkaitan dengan penggunaan tata bahasa dan tanda baca melainkan merupakan sebuah proses yang dapat mengembangkan kemampuan dalam berpikir dinamis. Keterampilan menulis menjadi penting untuk dimiliki setiap manusia sebagai modal dasar meraih kesuksesan dalam kehidupannya.

Seseorang terampil menulis perlu latihan secara berulang-ulang. Jadi, kegiatan menulis ini juga diperlukan bnayak latihan supaya semakin maksimal dalam membuat sebuah karangan.

Seiring perkembangan teknologi, media sosial pun mulai bermunculan. Facebook, Twitter, Plurk dan sebagainya. Melalui Facebook, menurut Nugraha, setiap orang di seluruh dunia bisa menyampaikan opini pribadi baik berupa status maupun berbagi tautan yang kemudian ia komentari. Demikian juga halnya Twitter dengan ciri khas 140 karakternya.

“Dengan cepat warga bertukar gagasan atau opini, baik mengomentari status maupun tautan berita, dibanding jurnalis profesional yang mungkin masih memutakhirkan (update) berita kelanjutannya,” katanya.

Dengan lahirnya internet dan kemudian media sosial, menurut Nugraha, gagasan orisinil warga yang semula tersumbat karena tidak bisa menyampaikannya secara bebas di media arus utama, bisa secara masif termuat di media sosial.

Mark Zuckerberg menciptakan Facebook sebenarnya sarat dengan nilai positif, yaitu untuk membangun silaturahmi.

Banyak sekali yang menggunakan media sosial sebagai prasarana anak-anak zaman sekarang mengungkapkan perasaannya dengan sekali share semuanya akan terlihat apa yang sedang kita rasakan saat itu juga, curhatan pribadi.

Banyak pula siswa SMA bahkan Mahasuswa sekarang menggunakan media sosial dengan bijak yakni menulis jurnal, dan ada pula ketika mereka mulai mengumppulkan beberapa kosakata menjadi puisi, bait demi baik mereka rangkai lalu dikirim ke penerbit dan banyak juga yang tembus ke media cetak.

Setiap anak dapat mengirimkan setiap hari tulisannya, dan mendapatkan reward yang sangat luar biasa sehingga dapat meningkatkan semangatnya lagi.

Di era revolusi 4.0 teknologi dengan prestasi tidak kalah tertinggal, sebab media yang sudah semakin canggih dan anak lebih cerdas memanfaatkannya dengan kegiatan yang positif. Dampak positif menulis di media sosial ini dapat memberikan kesenangan dengan berbagi sesama teman, menulis itu komunikasi. Dikatakan bahwa di dalam komunikasi yakni bentuk ekspresi diri, sesuatu yang umum disampaikan ke pembaca, aturan dan tingkah laku, serta, menulis sebuah cara belajar. Sebagai bentuk dari ekspresi diri, menulis bertujuan untuk mengkomunikasikan, menyampaikan sebuah ide melewati batas waktu dan ruang apa yang sedang dirasakan si penulis.

Ketika kita mulai menulis di media sosial tulisan kita tidak akan hilang, kita dapat melihatnya di akun kita sendiri. Banyak orang saling meniru gaya tulisan dan cara menarik perhatian orang dengan tulisan. Ini mencirikan seseorang itu belum bisa memanfaatkan tulisannya itu dengan sebaik mungkin. Bahkan masih tergantung pada emosinya, ego yang enggan untuk mempublikasikan. Rasa tidak percaya diri mungkin masih menyelimuti disetiap langkahnya, bahkan ketika mau menulis tentang dirinya saja kadang-kadang itupun jika dirinya mau diajak kerjasama dengan apa yang akan dilakukannya.

Buang jauh-jauh rasa malas, karena kesuksesan datang dari mana saja. Contohnya Mahasiswa yang mengabil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mau menulis karena tekadnya yang kuat. Berawal dari cuman menulis status di akun facebooknya sekarang sudah mulai mendalami dunia menulis. Membuat cerita anak, berpuisi, membuat cerpen bahkan membuat novel yang sangat tebalpun tidak masalah karena adanya kekuatan mau berusaha dan patang menyerah menggeluti kosakata yang baru.

Handphone selalu dibawa kemana-mana, menulis dapat dikerjakan dimana saja kapan saja. Tumpukan kata akan dengan mudah disatukan menggunakan satuan rasa yang kala itu sedang dirasakan. Komunitas menulis online saat ini juga sudah sangat banyak sekali, ada grup masing-masing bidang dan semuanya valid. Tinggal mau berusaha atau tidak sama sekali, kesempatan itu datang tidak berulang kali tetapi manfaatkan hari ini untuk masa depan.

Blogger sekarang pendapatan lumayan besar, asal mau menulis dengan rajin dan tekun. Tidak membuang waktu hanya depan hanphone saja membuat tofik yang menarik semua akan mencarinya dengan sendiri. Tulisan belum bagus jangan berkecil hati semuanya butuk proses yang membutuhkan waktu yang perlu ketekunan.

Sosial media menjadikan wadah untuk kita yang mau berusaha dan bekerja dengan serius, menulis merupakan kemampuan kompleks yang menuntut sejumlah pengetahuan yang cukup dan keterampilan luas. Dengan membiasakan menulis yakni mempunyai sisi positif untuk mengembangkan daya nalar mereka dalam menyikapi sebuah persoalan yang ingin ditulis.

Di samping itu, dengan mem-posting-kan ke jurnal atau media lainnya yang dapat si penulis mendapatkan keuntungan apa yang telah ditulis, setidaknya sudah memiliki arsip online yang dapat dibuka dan dibaca kapan saja oleh mereka maupun orang lain. kita pun dapat melihat siapa yang akan membagikannya dan tinggal menunggu intensif dari si penerbit. Cukup dengan duduk manis, memnadangi hanphone atau laptop serta tangan yang bekerja menunggu yang enaknya saja. Tidak perlu kepanasan di luar. Mari budayakan menulis prestasi mengikuti kita, tulisan akan lebih abadi dan bermanfaat untuk orang lain,

(Wulan Purnama adalah Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)