Perjalanan Diplomatik Tegal-Maroko-Spanyol
--None--
Minggu, 27/10/2019, 18:54:24 WIB

H. Tambari Gustam (kiri) bersama Ustadz Ali Fauzi menjelang perjalanan diplomatik ke Maroko dan Spanyol.

Belajar dari kegagalan negara Suriyah, Irak, Afganistan justru Indonesia makin giat melakukan kajian dan belajar dari beberapa negara yang gagal tentang keutuhan umat Islam. Seperti halnya kemelut dan perseteruan antara Fron Pembela Islam (FPI) dengan Banser. 

Saat ini di wilayah Tegal Raya, sedang diramaikan oleh tersebarnya spanduk penolakan terhadap Musda FPI tingkat Propinsi Jawa Tengah, kebetulan tempat musdanya di daerah Talang, Kabupaten Tegal. Hebohnya pemberitaan membuat pihak aparat terus  mencari sumber yang dapat dipercaya, akan adanya pembubaran paksa dari pihak Banser maupun PGN (Patriot Garuda Nusantara).

Sampai akhirnya Habib Umar selaku pembina Forsamat (Forum Silaturohmi Antar Majelis Ta'lim) dengan KH Al Mujtahid ikut dimintai tolong dalam mereda konflik antara FPI Vs Banser. Dengan pendekatan dialog yang dijembatani AKP Mujahid selaku Kasat Binmas Polres Tegal. Juga ikut bersama-sama unsur Habaib dan ulama, agar Situasi Tegal Raya aman dan kondusif.

Jika belajar keberhasilan negara Maroko, justru pendekatan kearifan lokal yang membuat ajaran Islam tetap berjalan, karena tidak benturan dengan aliran konserfatif,  sama seperti di Indonesia. Tegal misalnya, masih dengan cara-cara budaya lokal,  sehingga tradisi mamaqib, Yasinan dan Tahlil tetap dijalankan oleh kelompok masyarakat mayoritas di Tegal Raya.

Menurut KH Mujtahid, pembina majelis Ta'lim Assalam Kota Tegal, kearifan lokal lah yang membuat ajaran Islam. Dengan pendekatan budaya, sehingga masyarakat Jawa di Nusantara, bisa menerima ajaran Islam yang Rahmatan lil alamin.

Senada dengan KH Al Mujtahid, DR Inang Winarso, antropologi yang sedang meneliti budaya Tegal pesisiran, menyampaikan pada penulis, bahwa Islam tidak bisa disamakan dengan ajaran-ajaran paksaan. Justru dengan pendekatan budaya, maka Islam bisa diterima oleh masyarakat Jawa.

Kekerasan yang disimbolkan dengan pedang bukanlah pendekatan budaya, justru terkesan sadistis, sehingga Islam di Timur Tengah diidentikan seolah-olah Islam keras,  bukan santun.

Sementara Brigjen Pol. DR. Antony Siahaan yang lulusan SMP dan SMA dari Tegal, menyebutkan bahwa kemelut FPI Vs Banser yang sedang terjadi di wilayah hukum Polres Tegal, perlu diantisipasi. Sehingga pihak jajaran kepolisian mengerahkan upaya pencegahan, agar tidak terjadi benturan fisik antara FPI dengan Banser.

Masih menunggu boarding pass di Terminal 3 Bandara International Soekarno-Hatta, keberangkatan dari Tegal, Jakarta-Maroko dan Spanyol, rombongan masih menunggu pesawat Qatar Air Ways. Kami menunggu di depan Kafe Sate Khas Nelayan.

Menjelang keberangkatan studi banding ke Maroko dan Spanyol, penulis berdiskudi bersama Ustadz Ali Fauzi, Direktur Lingkar Perdamaian, arek Lamongan. Ustadz Ali Fauzi adalah adik kandung Imam Amrozi, mantan teroris bom Bali.