![]() |
|
|
Dalam kitab ta’alim muta’alim disebutkan bahwa salah satu kunci mecari ilmu ialah dengan waktu yang panjang. Pendidikan di indonesia banyak yang hanya sampai pertengahan jalan artinya ada beberapa rakyat Indonesia yang tidakl tersenggol sedikitpun oleh pendidikan. Pendidikan tertinggi ialah saat nama siswa berubah menjadi mahasiswa. Tentu itu menjadi sebuah keagungan bagi seorang anak yang berhasil sampai kepada ranah mahasiswa.
Menjadi mahasiswa tentu bukan hanya sekedar kuliah lantas pulang menyekesaikan tugas. Namun kampus merupakan sebuah wadah penggembelengan untuk nantinya mahasiwa ketika sudah menyelesaikan tugas akhirnya. Banyak mahasiswa yang lupa dengan fungsi dan perannya sebagai mahasiswa. Hanya minoritas saja mahasiswa yang sadar akan hal tersebut.
Mahasiswa sebagai agent of change. Hal ini bahwa seorang mahasiswa harus mampu meberikan sebuah perubahan untuk masyarakat. Terlebih untuk dirinya dahulu.seharusnya malah berkontribusi memberikan sebuah ide-ide untuk negara ataupun untuk bangsa dan agamanya.
Mahasiswa sebagaia generasi penerus. Pola pendidikan di Indonesia adalah masih ketergantungan terhadapa ekonomi. Hal ini yang sangat memprihatinkan negara indonesia. Generasi penerus ini bahwa tidak ada pemberhentian generasi, dari tahun ke tahu seharusnya menjadi lebih banyak lagi yang namanya sarjana. Hingga Indonesia menjadi kota berjuta sarjana.
Mahasiswa sebagai kontrol sosial. Hal ini dimaksudkan bahawa mahasiswa merupakan tulangpunggung atau jembatan bagi rakyat. Mahasiswa disini harus bersifat objektif tidak condong keada salah satu pihak pemerintah ketika. Hal dimaksudkan bahwa mahasiswa mampu menyampaikan pesan-pesan rakyat kepada memang ada beberapa hal yang tidak sesuia dengan yang telah dijanjikan.
Hal ditas merupakan fungsi dan peran mahasiswa yang harus dijalankan. Meski pada realita mahsioswa hanya menjadi kaum hegemoni saja menghabis-habikan uang tanpa mengetahui outputnya nanti akan seperti apa. Pada jenjang strata satu mahasiswa mempunyai jangka waktu 4 tahun hal yang lumrah, namun seringkali menambah waktu hingga 2 tahun. Dalam jangka waktu yang tidak lama seharusnya mahasiswa mampu belajar agar tidak kaku ketika nanti berkontribusi dalam masyarakat.
Menjadi sarjana adalah senang-senang susah. Pasalnya banyak sarjana yang nganggur karena pekerjaannya tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang telah diampu oleh mahahasiwa. Sebenarnya roda organisasi yang ada di perkuliahan merupakan sebuah pembelajaran agar tidak monoton menguasai disiplin ilmu yang kita tekuni saja. Hanya saja hal seperti ini sering menjadi rasa malas untuk mahasiswa karena bingung manajemen waktu yang akan dipersembahkan. Sarjana muda multitalenta adalah dambaan setipa mahasiswa ketika nanti sudah menyelesaikan hasil akhirnya yaitu skripsi, namun mereka masih dibenturkan dengan alasan-alasan yang klasik. Pada bulan oktober-november biasanya kampus banyak melahirkan sarjana-sarjana namun hanya beberapa saja dari mereka yang akan berhasil hiudp bermsyarakat. Semua kembali kepada prosesnya. Masalah hasil tentu Tuhan tidak tidur untuk menilai setiap proses yang dialaminya.
(Dedeh Muadah adalah Mahasiswa Manajemen Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)