Medsos Pintu Masuk Kekerasan Seksual Anak
-LAPORAN ZAENAL MUTTAQIEN
Jumat, 15/02/2019, 16:05:11 WIB

Ilustrasi kekerasan pada anak (Foto: Ilustrasi)

PanturaNews (Brebes) - Media sosial (Medsos) seringkali menjadi salah satu pintu masuk terjadinya tindak kekerasan pada anak. Karenanya kepada semua pihak terutama orangtuanya untuk selalu memeberikan pengertian kepada anak-anaknya dalam penggunaan Medsos.

Hal itu disampaikan Kanit PPA Satreskrim Polres Brebes Ipda Puji saat kegiatan sosialisasi Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Tiara di RSUD Bumiayu, Jumat 15 Februari 2019.

"Beberapa kasus yang kami tangani kebanyakan bermula dari medsos," katanya.

Menurutnya, korban kekerasan seksual yang menimpa pada anak seperti pemerkosaan bermula dari kenalan di medsos seperti Facebook. Setelah kenalan kemudian diajak bepergian dan terjadilah tindak kekerasan itu.

"Kasus yang terbaru kemarin juga dihubungi melalui medsos itu," kata Puji.

Begitu pula dengan kasus anak perempuan yang dibawa kabur ke Kalimantan juga bermula dari kenalan di medsos. Karenanya perlu perhatian khusus dari para orangtua terhadap anaknya terkait penggunaan medsos.

"Kuncinya ada pada orang tua, bagaimana bisa membangun kedekatan pada anaknya," kata Puji.

Ketua PPT Tiara Kabupaten Brebes Aqilatul Munawaroh mengatakan, pengawasan dan pengendalian orang tua terhadap anak sangat penting, terutama dalam penggunaan media sosial. Orang tua harus tahu dengan siapa saja anaknya berteman dan berkomunikasi di medsosnya dan selalu berikan pengertian dengan cara pendekatan yang mengena.

"Seperti kasus terbaru, anak pergi dijemput temannya ketika orangtuanya sedang sholat Maghrib. Kemudian anak itu diajak mabuk-mabukan dan terjadilah pemerkosaan," tutur Aqila.

Di tempat lain juga terjadi hampir sama, bermula berteman di medsos terus sering diajak temannya itu mabuk-mabukan. Kasus menimpa pada anak yang kurang mendapat perhatian dan pengawasan dari orangtuanya.

"Anak itu ikut embahnya dan kurang mendapat perhatian dari orang tuanya secara langsung, karena anak piatu dan bapaknya sudah berkeluarga lagi," ungkap Aqila.

Ditambahkan, bahwa orangtua harus mampu mengawasi penggunaan media sosial anak-anak. Jangan sampai media sosial justru menjadi ajang curahan hati anak-anak ketimbang orangtua sendiri.

"Pengaruh negatif ketika anak-anak tidak dapat mencurahkan isi hatinya kepada orang tua tetapi sebaliknya mencurahkan masalahnya ke media sosial," kata Aqila.

Agar keluarga menjadi tempat curahan hati kala menghadapi persoalan, Aqilatul mengingatkan pentingnya keharmonisan dan komunikasi yang intens dalam kehidupan kelauarga.

"Tentu para orang tua harus selalu memberikan perhatian yang ekstra pada proses pendidikan dan pergaulan anak-anak mereka," pungkasnya.