Kualitas Garam Yodium di Brebes Dibawah Standar
-Laporan Takwo Heriyanto
Rabu, 09/08/2017, 09:51:25 WIB

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) - Peneliti Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Kementrian Perindustrian, Marihati menyebutkan, Industri Kecil Menengah (IKM) produksi garam yodium di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng), kualitas zat yodium pada garam secara umum masih di bawah, karena minimnya proses pencucian garam saat produksi.

"Contohnya adalah zat yodium pada garam yang ada di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes. Ini masih banyak yang dibawah standar," Peneliti Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri Kementerian Perindustrian RI Marihati, saat mengisi pelatihan produsen garam yodium yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Brebes, Rabu 9 Agustus 2017.

Menurutnya, hasil produksi garam yodium yang belum Standar Nasional Indonesia (SNI), tidak boleh dijual di pasaran, meskipun kemasannya baik. "Di sini karena rata- rata kandungan NaCL garam yodiumnya masih rendah," terangnya.

Dari hasil uji laboratarium, lanjutnya, juga ditemukan, untuk produksi garam IKM di Kabupaten Brebes yang dijual untuk dikonsumsi masyarakat, tidak memenuhi standar SNI.

"Karena kandungan garam yodiumnya kurang dari 30 ppm," tuturnya.

Pihaknya berharap kepada pelaku IKM garam yodium di Kabupaten Brebes agar memperhatikan sertifikat SNI. Selain itu, juga proses produksi garam yang memenuhi standar operasional prosedur.

"Ini karena bahaya produksi garam yang tidak sesuai standar akan berdampak pada aspek kesehatan masyarakat. Terutama anak-anak, karena dalam masa pertumbuhan sangat membutuhkan garam beryodium," paparnya.

Ia menambahkan, ada sekitar 55 persen IKM yang memproduksi garam yodium di Jateng, dalam kondisi bangkrut. Bahkan tak lagi mampu beroperasi akibat gagal panen yang terjadi mulai dari awal tahun 2017 hingga saat ini.

Selain akibat gagal panen, bangkrutnya IKM produksi garam yodium di Jateng, juga karena menipisnya stok bahan baku garam dari para petani garam.

Ia menjelaskan, di Jateng ada sekitar 100 IKM produksi garam yodium. Namun, kondisi sekarang ini lebih dari separuhnya sekarang sudah bangkrut alias tutup.

Dari data yang dimiliki, sentra produksi garam di Jateng hanya berada di wilayah pesisir Pantura barat hingga timur (Brebes hingga Rembang). Sedangkan produksi garam yodium sendiri dalam enam bulan belakangan ini terus merosot.

"Khusus di Jateng, yang semula produksi hingga 400 ton garam yodium per hari, saat ini hanya sekitar 150 ton saja. Jadi, stok dengan permintaan pasar tak sebanding. Makanya berpengaruh dengan harga garam yodium di pasaran yang merangkak naik hingga 300 persen," terangnya.

Saat ini, kata dia, harga garam yodium di tingkat produsen mencapai Rp 22.500 per 2,5 kg. Padahal, biasanya harga cuman Rp 7.000 saja per kantong berisi 2,5 kg.

"Kalau harga pasarannya lebih dari itu, inilah yang membuat masyarakat mengeluhkan mahalnya garam yodium. Apalagi masyarakat kita tingkat konsumsi garam cukup tinggi. Kalau di rata-rata per orang itu kebutuhan garam yodium sebanyak 3 kg setahun," pungkasnya.

Satu IKM, imbuhnya, bisa mempekerjakan 10-20 orang. Artinya, dengan banyaknya industri pengolahan garam yodium yang ditutup, maka ratusan orang kehilangan pekerjaan.