Generasi Muda Perlu Terlibat Pada Sosialisasi Empat Pilar
IK-Ahmad Solichin
Jumat, 27/08/2010, 11:51:00 WIB

Ketua MPR RI, HM Taufiq Kiemas.

PanturaNews (Senayan) – Melibatkan generasi muda dalam sosialisasi empat pilar sangat diperlukan, karena generasi muda merupakan penerus perjuangan para generasi sebelumnya, yakni para pahlawan bangsa. Sedangkan soal kemajemukan atau pluralisme, bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu dikelola untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Demikian Ketua MPR RI, HM Taufiq Kiemas, setelah menerima kunjungan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) di ruang rapat pimpinan MPR RI, Gedung Nusantara III lantai 9 MPR-DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin 23 Agustus 2010 lalu.

Menurut Ketua IKPNI, Aisyah Hamid Baidlowi, bahwa generasi muda sekarang pengetahuan tentang kepahlawanan semakin menurun. Untuk IKPNI meminta kepada Ketua MPR RI supaya dalam sosialisasi empat pilat melibatkan generasi muda.

“Kami mohon agar dalam sosialisasikan empat pilar supaya melibatkan atau memasukan generasi muda,” pinta Aisyah.

Menanggapi usulan itu, Taufiq Kiemas setuju untuk melibatkan generasi muda dalam mensosialisasikan empat pilar, karena generasi muda merupakan penerus perjuangan para pahlawan.

“Lebih bagus lagi IKPNI membuat sebauh website yang isinya profil para pahlawan. Misal kita klik Pak Soepomo, langsung keluar profil Pak Soepomo secara lengkap,” tutur Taufiq Kiemas.

Sebelumnya, Ketua MPR RI juga melakukan buka puasa bersama dengan para grand final lomba Cerdas Cermat UUD 1945 di kediamannya, Jalan Teuku Umar Nomor 27 Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 19 Agustus 2010.

Pada kesempatan itu, Taufiq Kiemas menegaskan bahwa kemajemukan atau pluralisme Indonesia bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu dikelola dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

“Dengan kemampuan bangsa Indonesia mengelola dengan baik kemajemukan itu, maka negara dapat tumbuh menjadi bangsa yang kuat dan tangguh,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa ibadah puasa yang sedang dijalani bangsa Indonesia saat ini, pada hakekatnya juga merupakan wahana untuk pengendalian diri dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk persoalan bangsa.

“Melalui pengendalian diri akan tumbuh kesadaran, diantaranya kesadaran akan penerimaan terhadap kemajemukan agama, budaya dan suku bangsa serta bahasa yang ada pada bangsa kita sebagai sebuah keniscayaan,” ujarnya.

Menurut Taufiq Kiemas, upaya itu dapat dilakukan melalui pemahaman empat pilar kehidupan bernegara, yakni Pancasila, UUD Negara RI 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.