Tekhnologi Kesehatan, Hancurkan Batu Ginjal dengan Gelombang Kejut
AZ-Agus Zahid
Kamis, 19/08/2010, 17:11:00 WIB

Terlihat seorang pasien sedang menjalani operasi batu ginjal dengan alat canggi yang menggunakan sistem gelombang kejut. Alat tersebut dikendalikan oleh operator. (FT: Agus Zahid)

PanturaNews (Kajen) - Alat pemecah batu ginjal dengan sistem gelombang kejut dinilai sangat menguntungkan pasien. Selain tidak terasa sakit, meski suara saat pemecahan batu ginjal dengan sistem energi 1000 yule itu terdengar keras, juga pasien merasa nyaman karena tidak ada tanda atau bekas luka seperti layaknya orang yang dioperasi secara manual.

"Alat ini tidak menyentuh badan, tapi mampu menghancurkan batu ginjal yang ada di dalam perut pasien dengan kapasitas energi 1000 yule. Terkadang hanya dengan 700 yule, juga batu ginjal sudah hancur, tergantung jenis batu yang diderita," ujar dr. Erliyana dari RSUD Karyadi Semarang kepada PanturaNews, Kamis 19 Agustus 2010.

Pemecah batu ginjal dengan sistem gelombang kejut, terdiri dari monitoring yang berfungsi mengetahui posisi batu ginjal secara pasti, untuk kemudian dihancurkan dengan sistem gelombang kejut. Dalam waktu 1 jam pasien menjalani operasi langsung bisa pulang dengan normal. Kondisi kesehatan pasien dapat diketahui setelah mengeluarkan air seni, jika berwarna merah berarti batu ginjal tersebut telah hancur.

"Pada kondisi normal, batu ginjal dapat dihancurkan dengan energi 1000 yule, kalau melebihi kapasitas itu dapat merusak ginjal," tutur dr Erliyana.

Untuk mengetahui jenis batu ginjal apakah jenis keras atau sedang, dapat diketahui setelah ditembak dengan system gelombang kejut. Jika dalam kapasitas 1000 yule belum juga hancur, maka akan diulangi lagi secara bertahap pada hari berikutnya. "Kita tidak bisa memaksakan karena akan berpengaruh pada ginjal," tambah dr Erliyana.

Sementara pasien penderita batu ginjal yang ditangani dengan menggunakan tekhnologi gelombang kejut, Bambang mengaku jika dirinya tidak merasa sakit saat batu ginjalnya dihancurkan. Ia hanya merasa seperti dipijit-pijit, tapi anehnya terdengar suara yang cukup keras seperi orang yang sedang menancapkan pondasi pasak bumi . "Rasanya seperti di 'slentik-slentik' tapi suaranya keras seperti orang pasang pondasi bangunan. Setelah selesai, saya langsung pulang dan tetap bisa nyetir sendiri," katanya.

Menurut Bambang, biaya untuk menggunakan jasa operasi itu cukup mahal untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah. Pada tembakan pertama Rp 3 juta, sedangkan tembakan kedua Rp 1.700.000 dengan jangka waktu operasi rata-rata 1 jam. "Biayanya masih mahal, karena alat itu hanya ada satu-satunya di RSUD Karyadi Semarang," tuturnya.