Wungon dan Wayang Republik Peringatan HUT Kemerdekaan
GH-Guntur Handoyo
Rabu, 18/08/2010, 12:34:00 WIB

Ki Dalang Seribu Suara, KH Jabir Huda Al Mansyur dengan gayanya yang khas membawakan wongon peringatan tujubelasan. Inzet: Kepala Desa Bulakan, Eni Dwi Asih. (FT: Guntur Handoyo)

PanturaNews (Pemalang) - Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 65 di Desa Bulakan, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, digelar dengan berbagai acara. Puncaknya, pada acara ‘Wungon Tujuhbelasan’, panitia menghadirkan Ki Dalang Seribu Suara, KH Jabir Huda Al Mansyur dari Desa Lemah Duwur, Kecamatan Kwarsa, Kabupaten Kebumen, Jawa Tegal, Selasa 17 Agustus 2010 malam.

Selain Wungon, juga digelar Wayang Republik yang dibawakan pimpinan lembaga Pesantren Padepokan Mansur Panguripan (LP2MSP). Tokoh dalam Wayang Republik berbeda dengan tokoh dalam dunia pewayangan biasanya, begitu juga dengan busananya. Uniknya, dalang KH Jabir Huda menirukan berbagai logat dan suara tokoh Nasional.

Menurut Kepala Desa Bulakan, Eni Dwi Asih acara tujuhbelasan di desangan sengaja digelar dengan meriah, sebagai rasa syukur dan menyenangkan warga atas hasil pembangunan di desanya.

“Seluruh rakyat Indonesia, khususnya warga desa, harus bangun tanpa harus menunggu datangnya Ratu Adil membangunkan dan memperbaiki situasi. Mulailah dari diri sendiri. Bangunlah jiwanya, tinggalkan cara berpikir yang membelenggu jiwa dalam egoisme picik yang hanya memikirkan kepentingkan pribadi dengan merusak segala tatanan nilai, tatanan ruang, dan tatanan ekosistem yang merusak seluruh karunia alam. Tata ruang wilayah harus secara ketat diikuti untuk mencegah kesemrawutan pembangunan,” tutur Eni.

Sementara KH Jabir Huda mengatakan, lagu Kebangsaan Indonesia Raya itu menyuratkan bahwa yang pertama dan lebih utama untuk dibangun adalah jiwa, kemudian baru badan. Jiwa baru mampu bangun jika nafsu syahwati telah bertekuk lutut pada kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa dan arah yang ditunjukkan oleh-Nya.

“Jiwa adalah satu kesatuan unsur daya potensi ketenagaan dalam diri manusia, yang mewujud dengan suatu tata susunan dan jalinan tertentu. Ruh, rasa, hati, akal, dan nafsu dalam diri manusia adalah unsur daya potensi yang membentuk jiwanya,” papar Jabir.