Pedagang Kembang Musiman Dapat Berkah Datangnya Bulan Puasa
ZM-Zaenal Muttaqin
Selasa, 10/08/2010, 14:15:00 WIB

Salah satu pedagang kembang musiman di Bumiayu sedang melayani pembeli. (FT: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Bumiayu) - Menjelang datangnya bulan puasa Ramadhan,  rupanya memberikan berkah pada pedagang kembang musiman. Tradisi nyekar, atau ziarah ke makam leluhur yang biasa dilakukan menjelang puasa itu,  membuat permintaan kembang dan perlengkapan ziarah meningkat.

Hal itu diakui oleh salah satu pedagang kembang musiman di Kecamatan Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, Duryati (33) yang menjajakan dagangannya di pinggiran jalan Diponegoro Kota Kecamtan Bumiayu. "Lumayan dapat tambah penghasilan kalau menjelang bulan puasa ini dengan berjualan kembang," katanya saat disambangi PanturaNews, Selasa 10 Agustus 2010 siang.

Menurutnya, dirinya dan juga puluhan ibu-ibu lainnya biasa berjualan kembang dan keperluan untuk nyekar tiap kali menjelang puasa dan lebaran, di sekitar pasar Kecamatan Bumiayu. Keuntungan yang diperolehnya juga lumayan, dengan modal sekitar Rp 50 ribuan, bisa mendapat keuntungan kotor sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. "Ya lumayan bisa dapat tambahan penghasilan," ujar wanita yang tinggal di Dukuh Kalibata, Desa Jatisawit, Bumiayu ini.

Kembang yang dijualnya merupakan keperluan untuk tradisi nyekar, seperti kembang kanthil, kenanga, melati, mawar, semboja dan daun pandan. Selain itu juga menyediakan perlengkapan sesaji, seperti kemenyan dan lainnya. Semuan dagangan cukup digelar pada sebuah tampah dari bambu dan dijajakan di trotoar jalan raya. Pembelinya biasanya orang dari desa-desa di sekitar Bumiayu.

Duryati mengatakan, kembang perlengkapan nyekar itu biasanya dijual dengan cara dibungkus daun pisang, dengan harga Rp 2000 perbungkusnya. "Sekarang pembelinya tidak sebanyak dulu, sehingga harganya juga cukup murah cuma dua ribu rupiyah," katanya.

Pembeli kembang umum orang-orang tua dan sedikit dari kalangan muda. "Kebanyakan yang masih melakukan tradisi nyekar orang tua, sehingga pembelinya juga kebanyakan orang tua. Kalau anak muda biasanya mengaku disuruh oleh orang tuanya," jelas Duryati.