![]() |
|
|
PanturaNews (Slawi) – Anak berusia 9 tahun dianiaya ibu kandungnya sendiri lantaran masalah sepele. Anak ke tiga dari tiga bersaudara, Erwin, siswa kelas 4 SD itu, sering menjadi pelampiasan emosional ibunya, Suryani (37), warga Gang Kipriawa RT 02 RW 01 Desa Debong Wetan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Penganiayaan terjadi, ketika Jamal, warga setempat tengah berjalan pulang melalui depan rumah korban, Selasa 13 Juli 2010 pukul 19.30 WIB. Saat itu dia melihat Suryani sedang menganiaya anaknya.
“Rumah saya bersebelahan dengan rumah Suryani. Ketika saya baru pulang dari mushola, saya melihat saat Erwin dipukuli oleh ibunya karena masalah yang begitu sepele. Melihat seperti itu, spontan saya memperingati Suryani, agar berhenti memukuli,” tutur Jamal, Rabu 14 Juli 2010 sore.
Meski begitu, janjut Jamal, bukannya Suryani berhenti melakukan penganiayaan terhadap anaknya, justru mencacinya dengan kata-kata kotor. Bahkan pintu rumahnya langsung ditutup rapat, agar warga tidak ada yang melihat perlakuan Suryani terhadap anaknya. Karena merasa kasihan, dia didampingi warga lainnya mencoba mengadu kepada Ketua RT dan Kepala Desa setempat.
“Kami dengan sejumlah warga lainnya dan Ketua RT serta Kepala Desa, mendatangi rumah Suryani guna memberi peringatan agar hal semacam itu jangan terulang kembali. Sebab selama ini, Erwin selalu menjadi pelampiasan emosional ibu kandungnya sendiri dan kakaknya yang nomor dua,” terangnya.
Sementara ketika Suryani ditemui, dirinya mengelak melakukan kekerasan terhadap Erwin. Bahkan selama ini, Erwin selalu disayanginya. Dikatakan, jika dirinya tengah marah, hanya sekedar memarahinya dan mencubitnya. Selebihnya tidak pernah melakukan dengan menggunakan alat.
“Paling kalau sedang marah, saya mencubitnya. Dan itupun jarang sekali terjadi,” bantah Suryani didepan sejumlah warga.
Menurutnya, hal tersebut sudah lumrah dikalangan ibu rumah tangga. Namun, jika perlakuannya terhadap Erwin dianggapnya kurang diterima di masyarakat sini, dirinya minta maaf.
“Mungkin saya terlalu emosi, sebab saya capai mengurus anak-anak tanpa bapak. Saya minta maaf jika saya mengganggu kenyamanan warga sini. Untuk itu, tolong masalah ini jangan dibesar-besarkan. Sebab nantinya yang akan mengurus anak-anak saya siapa?,” pinta Suryani yang mengaku baru tiga tahun tinggal di desa tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Debong Wetan, Ulul Absor mengaku mendapat laporan dari warga, bahwa ada KDRT ini. Dalam laporannya, Suryani kerap melakukan main tangan terhadap anak kandungnya sendiri.
“Saya sudah mendamaikan. Bahkan saya memberikan peringatan kepada Suryani, agar jangan terulang kembali. Jika nanti terulang, kami dan warga tidak segan-segan untuk melaporkan kasus ini kepada pihak yang berwajib,” tegasnya.